Google Pakai Sidik Jari di Login di Chrome

Penulis: Darmansyah

Senin, 4 Juni 2018 | 09:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Gooogle terus  melakukan pembaruan pada peramban Chrome miliknya.

Pembaruan kali ini, seperti ditulis dalam rilis terbarunya, Senin, 04 Juni,  akan membuat pengguna lebih mudah masuk ke berbagai layanan tanpa harus mengingat user name dan kata kunci.

Tapi cukup menggunakan data yang tersimpan di perangkat autentifikasi lain.

Misal data biometrik seperti sidik jari atau pemindai wajah yang tersimpan di smartphone.

Alternatif lain otentifikasi lewat kunci keamanan di USB khusus atau bluetooth.

“Kredensial pengguna dan data biometrik tidak pernah ditransfer dari perangkat pengguna dan tidak disimpan di server,” jelas FIDO Alliance dan W3C seperti  juga ditulis “fortiune”.

Meski demikian, masih belum jelas bagaimana penggunaan teknologi otentifikasi baru ini akan diterapkan oleh pengguna.

Namun, Google menyebut Chrome ini akan tersedia dalam beberapa minggu kedepan.

Standar keamanan baru ini disebut sebagai WebAuthn. Ini adalah standar keamanan baru yang dibuat oleh FIDO Alliance dan W3C.

Dengan adanya standar baru ini diharapkan pencurian password bisa dikurangi. Standar ini pertama kali digunakan oleh Mozilla Firefox.

Peramban dengan kemampuan pengenalan sidik jari ini akan meluncur di Chrome versi desktop untuk Windows, Mac, dan Linux.

Untuk meningkatkan keamanan, Chrome juga akan meningkatkan isolasi antar tab di perambannya. Sehingga, situs yang dibuka di satu tab lain tak bisa mengakses data yang dibuka di tab lain.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi serangan malware seperti pernah terjadi dengan Spectre, seperti ditulis ZDNe

Sebelumnya Google memamng mengalami masalah dengan pemutaran video otomatis dalam situs yang dibuka di mesin peramban seringkali mengganggu pengguna.

Melihat hal itu sebagai sebuah gangguan membuat Chrome dan beberapa perusahaan serupa memerangi hal tersebut.

Tetapi, sebagian besar solusi tersebut bergantung pada pengguna yang secara eksplisit mengambil tindakan. Sekarang, setelah peluncuran fitur serupa pada ponsel, Chrome menambahkan kemampuan yang sama pada desktop.

Chrome “semakin pintar” untuk melihat situs mana yang diizinkan untuk diputar otomatis dan mana yang diblokir.

Kepintaran tersebut akan belajar dari perilaku pengguna untuk mempersonalisasi fitur ini.

Google mengatakan sejumlah besar autoplays bisa dijeda dan dibungkam, atau tab mereka ditutup dalam waktu enam detik.

Tetapi enam detik sepertinya cukup baik untuk mengetahui apakah seorang pengguna ingin mendengar suara dari suatu video atau tidak.

Untuk selanjutnya, Google akan belajar dari perilaku penjelajahan. Pengguna sendiri yang mempelajari situs mana yang ingin dibungkam.

Pengguna yang tidak log in, atau baru mengenal Chrome secara otomatis akan mematikan sekitar seribu situs secara default.

Situs tersebut berdasarkan ukuran enam detik yang digunakan untuk mendeteksi situs yang mengganggu.

Perusahaan menjanjikan bahwa sistem baru ini, akan memblokir sekitar setengah dari autoplays yang tidak diinginkan.

Tapi karena tidak satu pun dari sistem ini yang sempurna, Google mengakui bahwa terkadang hal-hal itu salah dan pengguna harus secara manual mengaktifkan beberapa situs.

Sebelumnya, Google Chrome juga telah merilis versi beta akhir pekan lalu. Chrome versi anyar ini disebut-sebut bisa membungkam video-video yang otomatis diputar.

Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan pemblokiran iklan besar-besaran yang sedang dijalankan di Chrome.

Seperti kita tahu, beberapa situs langsung memutarkan video tertentu begitu pengguna mengakses layanannya. Sebagian pengguna menganggap hal ini mengganggu.

Tapi, untuk mengaktifkan pembisu video ini pengguna mesti melakukannya secara manual.

Dari layar peramban Chrome, pengguna bisa mengklik tautan Aman atau Secure di bagian kiri alamat situs.

Saat diklik akan muncul pilihan bagaimana suara yang diputar diperamban akan diperlakukan. Apakah diperbolehkan, diblok, atau mesti ditanyakan terlebih dulu kepada pengguna, seperti disebutkan 9to5google.

Sayang, pengaturan ini tidak berlaku untuk seluruh situs. Pengguna mesti mengaturnya satu demi satu di tiap laman situs yang ingin dibungkam.

Selain membisukan video yang diputar otomatis, Chrome juga akan memblokir iklan pop-up. Hal ini dilakukan agar pengguna tidak diarahkan kepada situs yang berisi konten berbahaya.

Chrome  juga akan mendukung pemutaran video HDR di Windows 10 jika mode HDR dinyalakan. Tapi dukungan ini membutuhkan pembaruan teranyar Windows 10, kartu grafis yang mendukung HDR, dan tentu monitor yang sesuai.

Lantaran masih dalam versi beta, pengguna mesti mencoba layanan ini dengan mengunduh Chrome 64 secara manual di situs Google Chrome.

Komentar