Google “Ciplak” Pesan Pintar Facebook?

Penulis: Darmansyah

Senin, 28 Desember 2015 | 09:40 WIB

Dibaca: 0 kali

Google sedang menyiapkan langkah besar untuk mengalahkan pesan pintar seperti milik Facebook dengan menggodok aplikasi messaging yang memiliki fitur artificial intelligent.

Tak sekadar mengakomodir kebutuhan sosialisasi seperti yang ada di Facebook, Google juga membuka akses antar sesama pengguna.

Aplikasi itu juga mewadahi komunikasi dengan bot Google.

Pengguna bisa bertanya apa saja ke bot Google. Bot akan membeberkan informasi yang ditanyakan berdasarkan hasil penelusuran mesin pencari.

Seperti ditulis laman situs “the verge,” Google sudah menyiapkan aplikasi messaging tersebut selama setahun terakhir.

Menurut “the verge,” Google akan meluncurkan produknya itu di awal tahun ini usai ujicobanya dianggap siip.

“Kami akan segera mengkomersilkannya,” tulis laman Goggle.

Beberapa sumber menyebut, Google juga mengizinkan penyedia layanan pihak ketiga menyematkan chatbot atau robot pembalas chat ke aplikasi messaging-nya.

Tujuannya agar pengguna bisa menyerap informasi yang lebih kaya hanya lewat satu aplikasi.

Lalu, jika pengguna bisa menjajal kemampuan Search lewat aplikasi tersebut, bagaimana nasib Search selanjutnya? Google enggan berkomentar.

Disinyalir Google sengaja membuat aplikasi messaging berkemampuan AI untuk menyaingi Facebook M.

Bot yang sedang dites pada layanan Facebook Messenger tersebut mengusung konsep serupa. Untuk hal ini Google juga belum mengkonfirmasi.

Sebelumnya, Google juga telah menguji coba kemampuan masuk ke akun-akun layanannya tanpa kata sandi atau password.

Pengguna cukup mengkonfirmasi akses lewat notifikasi smartphone.

Penemuan uji coba pertama kali diumbar pengguna Reddit rp1226 atau Rohit Paul. Ia mendapat undangan menjajal fitur prototipe tersebut pada akun Google personalnya.

Hal itu dibenarkan Google. “Kami mengundang beberapa pengguna untuk membantu uji coba kemampuan sign-in ke akun-akun Google tanpa permintaan password,” kata juru bicara Google.

Menurut perwakilan Google, password tak lagi relevan menjamin keamanan privasi pengguna. “‘pizza’, ‘password’, ‘123456’, dan susunan angka lainnya mudah tertebak,” kata dia.

Perwakilan Google juga menjelaskan mekanisme kerja fitur “sign-in tanpa password”. Pertama, pengguna harus mengotentikasi smartphone dengan akun Google.

Setelahnya, setiap membuka layanan Google seperti Gmail, Google Drive, YouTube, pengguna cukup memasukkan alamat e-mail.

Pengguna lalu mendapat notifikasi khusus pada smartphone. Selanjutnya terserah pengguna, mengizinkan akses masuk atau tidak.

Fitur “sign-in dari ponsel” saat ini dites ke pengguna iOS dan Android.

Belum diketahui kapan kemampuan tersebut diresmikan untuk publik.

Sementara itu untuk penggunanya di Indonesia, Google akan memanjakan mereka dengan startup bernama Launchpad Accelerator.

Selain Indonesia, Launchpad Accelerator diluncurkan untuk mendukung berbagai startup mobile di India dan Brazil.

Program ini memberikan mentor, latihan, sokongan yang dibutuhkan serta dana hingga lima puluh ribu dollar AS tanpa keterikatan saham

Global Lead Launchpad Program & Accelerator, Google, Roy Glasberg mengatakan inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program Launchpad yang sudah diselenggarakan sejak dua setengah tahun lalu.

Tujuan spesifik mereka adalah menemukan startup yang bisa memberikan pengaruh besar pada pasar lokal.

Namun disematkan juga sistem dukungan dana tanpa keterikatan saham agar program ini tidak ternodai dengan pikiran mengenai return of investment (ROI) serta kepemilikan saham.

“Tujuan akhir program ini adalah mengidentifikasi game changers di pasar lokal dan menjadi game changer bagi mereka,” tegas Glasberg

Usaha rintisan digital yang beruntung mengikuti Launchpad Accelerator tidak cuma mendapatkan mentor di dalam negeri saja.

Peserta akan diajak mengikuti sebuah bootcamp berdurasi dua pekan di markas besar Google di Mountain View, California.

Di sana telah menanti sejumlah mentor, baik yang berasal dari tim internal Google atau dari luar, untuk membimbing perencanaan usaha startup tersebut. Tentu saja rencana usaha yang dimaksud akan diterapkan di negara asal masing-masing peserta.

Sepanjang masa bimbingan ini, startup akan mengerjakan tugas-tugas yang dirancang mempertajam strategi marketing dan penetrasi pasar, desain user experience, juga bermacam-macam aspek layanan mereka.

Setelah kembali ke kampung halamannya, startup tersebut akan mendapatkan ruang kerja, jaringan mentor Google dari tim lokal maupun internasional, lengkap dengan kesempatan menggunakan platform Google Developer.

Kelas pertama Launchpad Accelerator terdiri dari dua puluhstartup dan dijadwalkan mendarat di Mountain View pada pertengahan Januari 2016.

Di antara daftar partisipan terdapat sebuah starup perencanaan keuangan asal Indonesia, yaitu Jojonomic.

Google berencana untuk mendukung lima puluh startup per tahun melalui Launchpad Accelerator.

Namun menurut Glasberg, mereka juga berharap bisa memperluas dukungannya ke berbagai program lain di luar bootcamp di Mountain View.

Komentar