Internet Cepat Google dengan Sinar Laser

Penulis: Darmansyah

Kamis, 21 Desember 2017 | 09:52 WIB

Dibaca: 0 kali

Kecepatan internet Google yang dihantarkan melalui sinar laser diklaim bisa mencapai dua puluh Gigabit per detik.

Untuklah  induk Google, Alphabet telah meresmikan kesepakatan dengan pemerintah India untuk mempercepat jaringan internet tanpa menggunakan kabel fiber optik  atau wireless.

Google akan mengganti kabel fiber otpik dengan teknologi optik laser untuk meningkatkan kecepatan internet, menggunakan sistem koneksi point-to-point (PTP).

Proyek ini ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan akses internet cepat ke jutaan penduduk di negara bagian Andhra Pradesh, India.

Rencananya, tim eksperiman Google yakni Google X akan memulai proyek ini pada tahun depan dengan memasang dua ribu kotak optik yang dipasang dengan jarak tiap dua puluh  kilometer.

Kotak-kotak optik laser yang saling terhubung itu akan menjadi backbone untuk menyalurkan koneksi Wi-Fi.

Backbone merupakan saluran atau koneksi dengan kecepatan tinggi yang menjadi lintasan utama dalam sebuah jaringan.

Sederhananya, backbone berperan seperti ‘jalan tol’ sebuah jaringan agar penduduk bisa mengakses internet lebih cepat menggunakan smartphone sederhana.

Google X mengklaim akan menggunakan teknologi laser optik yang mampu mentransmisikan data melalui cahaya dengan kecepatan duab puluh gigabit per detik

Capaian ini diklaim melampaui kecepatan maksimal yang dihantarkan dengan gelombang radio tradisional.

“Bandwidth yang tersedia cukup bagi ribuan orang untuk berselancar (browsing) secara bersamaan melalui menara BTS yang sama”, jelas Google X.

Seperti ditulis laman BGR, hari ini, Kamis, 22 Desember, proyek ini merupakan proyek ‘sempalan’ atau spinoff dari proyek Alphabet sebelumnya, yaitu Project Loon yang berupaya memberikan akses internet di wilayah terpencil dengan media balon udara.

Teknologi optical link di atas disebut bisa terhubung dengan balon-balon penyebar internet Google, namun Alphabet belum menjelaskan lebih rinci bagaimana pengaruhnya.

Beberapa perusahaan teknologi melihat laser atau kombinasi teknologi radio dan laser untuk membawa konektivitas internet ke tingkat berikutnya. Google dan Facebook adalah pionir upaya ini.

Google, yang menggunakan balon-balon helium di stratosfer untuk menyediakan akses Internet di daerah-daerah terpencil.

Proyek Google Loon menggunakan radio atau laser yang memungkinkan balon-balon itu memindahkan data di wilayah-wilayah yang jauh dari stasiun penerus di darat.

Facebook ingin meluncurkan pesawat tak berawak atau drone yang menggunakan sinar laser untuk sambungan internet kecepatan tinggi di daerah-daerah terpencil.

Pesawat tak berawak yang terdekat dengan daerah perkotaan tersebut akan menggunakan laser untuk terhubung ke internet dan kemudian meneruskan koneksi ke pesawat-pesawat yang terbang di atas daerah pedesaan.

“Baik Google maupun Facebook berpikir jika mereka dapat menerbangkan pesawat-pesawat ini ke stratosfer, sekitar dua puluh  kilometer di atas Bumi, mereka bisa berfungsi seperti menara transmisi dan menyebarkan koneksi lebih mudah dan tanpa harus bergantung pada listrik dan kabel dan semua hal di darat,” ujar Tom Simonite, kepala biro MIT Tech Review.

Facebook, terutama, sangat tertarik menggunakan laser untuk mengirim data.

“Mereka mengklaim memiliki rekor baru dan melakukan pengiriman data laser tercepat,” ujar Simonite. “Dan saya kira ini memperlihatkan bahwa mereka memang serius melakukan ini dan mencoba mendorong teknologi ini ke depan.”

Perusahaan-perusahaan lain menggabungkan teknologi laser ini dengan radio untuk mengirim konektivitas Internet yang tak terputus dalam cuaca buruk.

Pada situasi seperti itu, Simonite mengatakan baik koneksi laser maupun radio berlangsung secara paralel, jadi laser dapat memperbaiki kekurangan dalam koneksi radio.

“Laser sangat cepat, tapi jika ada yang menghalangi pancarannya, sinyalnya terblokir,” ujarnya.

Jika laser tidak dapat memancar secara lurus, radio akan mengatasi kekurangan itu, jadi saling melengkapi.

Tapi kebutuhan menggunakan keduanya secara simultan bisa membatasi, ujar Simonite. Ia mengatakan “potensi laser dapat digunakan secara penuh” dengan proyek seperti yang dilakukan Google dan Facebook.

Teknologi laser adalah teknologi yang menjanjikan untuk negara-negara berkembang dan di bagian-bagian dunia di mana penanaman kabel sulit dilakukan, kabel mudah rusak atau di daerah terpencil di mana tenaga kerja dan bahan baku cenderung mahal.

Komentar