Gila!! Penguna Internet Dunia Capai Angka 2,4 Miliar Orang

Penulis: Darmansyah

Jumat, 31 Mei 2013 | 16:56 WIB

Dibaca: 0 kali

Betul-betul gila! Jumlah manusia bumi yang menjadi pengguna internet kini sudah mencapai 2, 4 miliar orang, dan terus mengalami peningkatan. Angka ini terungkap dalam ajang D11 Conference yang diadakan oleh situs AllThingsD, Mary Meeker yang berasal dari firma Kleiner Perkins Caufield & Byers Meeker.

Angka tersebut meningkat 8 persen dari tahun sebelumnya. Meski mencapai angka yang luar biasa besar, jumlah tersebut hanya mencakup 34 persen populasi dunia.

Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan pupulasi pengguna internet terbanyak, tahun ini mengalami peningkatan 58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah pengguna internet di Indonesia dudah mencapai 55 juta orang. Walaupun mengalami peningkatan yang sangat tajam, tingkat penetrasinya hanya 23 persen.

Negara dengan tingkat penetrasi internet tertinggi dipegang oleh Amerika Serikat. Dengan jumlah pengguna sebanyak 244 juta jiwa, tingkat penetrasi di negara tersebut mencapai 78 persen.

Penggunaan internet dari perangkat mobile juga terus meningkat drastis. Menurut Meeker, pengguna internet dari perangkat mobile empat tahun lalu baru 0,9 persen dari keseluruhan lalu lintas internet. Setahun sesudahnya, persentase tersebut meningkat hingga 2,4 persen. Di bulan Mei 2013, pengguna internet mobile global sudah menyentuh angka 15 persen dan akan melonjak hingga 30 persen pada akhir tahun 2014.

Sementara itu, kecilnya penetrasi internet di Indonesia, salah satunya disebabkan frekuensinya yang lemah. Indonesia termasuk negara yang paling lelet internetnya di dunia. Bahkan di kawasan negera Asia tenggara, Indonesia terperosok di nomor corot. Untuk peningkatan penetrasi dan jumlah pengguna, Indonesia disarankan untuk memanfaatkan frekuensi 700 MHz untuk layanan seluler sebelum 2015.

Perwakilan International Telecommunication Union untuk Pengembangan Digital, Suvi Linden mendorong Indonesia untuk lebih progresif dalam mengembang perangkatnya. “Kami ingin menyampaikan proses harmonisasi frekuensi 700 MHz akan membuka akses untuk warga miskin di daerah pedesaan yang belum terjangkau perangkat seluler,” kata Linden dalam jumpa pers di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.

Linden bersama Asosiasi GSM mengatakan, Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, memang berkomitmen untuk menggunakan frekuensi 700 MHz untuk teknologi seluler setelah 2018.

“Tapi, ada kendala, yaitu penyelenggara siaran televisi analog tidak ingin pindah sesegera mungkin. Selain kementerian lain dan pemerintah secara luas perlu dijelaskan arti penting harmonisasi frekuensi itu untuk ekonomi Indonesia,” kata Direktur Senior GSMA, Chris Perera.

Di Indonesia, frekuensi 700MHz kini digunakan untuk siaran televisi analog. Pemerintah sedang melakukan program digitalisasi televisi, yang nantinya akan menghapus televisi analog. Program ini akan selesai paling cepat di akhir 2017.

Jadi, jika ingin menggelar LTE di 700 MHz, pemerintah dan operator seluler harus menunggu hingga 2017.

Perera mengatakan, frekuensi 700 MHz di Indonesia belum diharmonisasikan untuk teknologi digital dan masih dipakai penyelenggara penyiaran televisi analog.

Harmonisasi frekuensi itu, sebut Perera, yaitu pemanfaatan frekuensi dari 698 MHz hingga 806 MHz di wilayah Asia Pasifik.

“(Padahal) frekuensi itu sudah diharmonisasikan setelah proses digital dividend, yaitu perpindahan televisi analog ke televisi digital yang membutuhkan kanal lebih kecil,” kata Perera.

Keuntungan yang diperoleh jika memanfaatkan frekuensi itu ialah mengurangi gangguan sinyal di daerah-daerah yang berbatasan dengan negara lain, menghemat biaya peralatan karena spesifikasi teknis peralatan yang dipakai sama dengan negara lain di kawasan, serta membuka potensi bisnis baru dan lapangan pekerjaan baru.

Perera menambahkan, frekuensi yang rendah seperti 700 MHz juga mampu menjangkau area lebih luas karena membutuhkan lebih sedikit menara pemancar dan menembus gedung-gedung di daerah perkotaan.

“Anda bisa membuka teknologi long term evolution (LTE) atau 4G di frekuensi 2,5 atau 2,6 GHz. Tetapi, itu akan lebih mahal dibanding dilakukan di frekuensi 700 MHz selain kemampuan frekuensi itu untuk menjangkau ke wilayah perbatasan,” kata Linden.

Komentar