Fridtjof Nansen Sosok Google Doodle Hari Ini

Penulis: Darmansyah

Selasa, 10 Oktober 2017 | 07:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Google hari ini,  Selasa, 10 Oktober, membuat doodle khusus untuk merayakan ulang tahun keseratus lima puluh enam Fridtjof Nansen.

Coret-coretan kreatif di laman beranda mesin pencari Google menampilkan gambar hitam putih yang mengambil inspirasi dari petualangan Fridtjof Nansen menuju kutub dengan ski.

Lantas siapa Fridtjof Nansen.

Ia  adalah sosok ilmuwan yang gemar berpetualang.

Peraih gelar doktor bidang zoologi dari Royal Frederick University di Oslo ini sudah ahli main ski semenjak muda. Kemampuan tersebut banyak membantunya dalam eksplorasi kutub di kemudian hari.

“Dia belajar ski cross-country hingga sejauh delapan puluh kilometer dalam sehari dengan bekal minim, kadang hanya ditemani anjingnya,” tulis Google dalam laman penjelasan mengenai Google Doodle

Eksplorasi Fridtjof Nansen terhenti saat Perang Dunia pertama pecah. Pada dekade kedua abad kedua puluh, setelah perang usai, ketertarikannya bergeser ke politik internasional dan isu-isu humanitarian.

Dia iba melihat nasib tawanan dan para pengungsi perang, lalu berinisiatif mengadakan konferensi internasional di Jenewa untuk membuat sebuah dokumen perjalanan bagi pengungsi yang tidak punya kewarganegaraan (stateless) agar bisa diterima di negara lain.

Dokumen tersebut lantas dikenal dengan nama Nansen Passport. Kesahihannya diakui oleh banyak negara.

Sebanyak empat ratus lima puluh ribu Nansen Passport dibagikan ke pengungsi.

Awalnya ke para ekspatriat Rusia yang kewarganegaraannya dicabut Vladimir Lenin menyusul perang saudara di negeri tersebut, lalu kemudian melebar dan dibagikan pula untuk pengungsi dari Armenia dan Turki.

Nansen Passport kini sudah tidak dikeluarkan lagi. Namun, lembaga nasional dan supernasional seperti PBB tetap memberikan dokumen perjalanan kepada pengungsi dan orang tanpa kewarganegaraan, termasuk sertifikat identitas.

Usaha Fridtjof Nansen membantu orang-orang yang mencari rumah baru setelah perang ini membuatnya diganjar hadiah Nobel Perdamaian.

Fridtjof Nansen, sang ilmuwan petualang, diplomat, sekaligus humanis

Sejarah lain mencatat, ia  menempuh studi di Bergen

Dalam masa pendidikan itu Fridtjof Nansen selalu memikirkan proyeknya untuk bisa menyeberangi es di Greenland.

Rencananya sungguh berani. Namun bagi banyak orang, itu adalah rencana gila.

Gilanya lagi, ia memulai perjalanannya dari pantai timur menuju barat. Pantai timur dikenal tak berpenghuni.

Area itu terlarang karena sabuk es yang hanyut dan digerakkan oleh arus kutub yang kuat. Kapal dan manusia hilang dicengkeramnya. Gunung es besar melayang-layang, gletser yang menggantung dan bisa patah kapan pun.

Linn Ryne menuliskan di www.mnc.net, perjalanan Fridtjof Nansen ini mengalami kendala finansial.

Fridtjof Nansen memang mengantongi rekomensasi universitas, tapi majelis nasional yang mau mengucurkan uang untuk perjalanan yang berbahaya seperti itu. Beruntung, ia mendapat uang dari pedagang Kopenhagen.

Fridtjof Nansen merencanakan dengan detil perjalanan ini. Setiap gerakan dihitung hati-hati. Ia tahu pasti keberhasilan ekspedisi ini bergantung pada ketekunannya memperhatikan detil terkecil.

Ekspedisi ini diikuti enam orang. Pada waktu itu mereka meninggalkan kapal. Dalam waktu dua hingga tiga jam mereka berpindah ke kapal terbuka. Setelah dua belas hari, mereka menginjakkan kaki di darat.

Mereka berada hanya tiga ratus mil ke selatan dari tujuan awal mereka.

Rombongan pimpinan Fridtjof Nansen ini menghadapi angin besar. Saat es mengambang di sekitar mereka, mereka harus menyeret kapal ke atas kepala mereka hingga tiba ke perairan terbuka.

Perjalanan menyusuri rute selatan berlangsung hingga akhir September. Setelah semua upaya yang bisa dikerahkan di suhu minus lima puluh derajat dikerahkan, sampailah mereka di pantai barat.

Fridtjof Nansen di usianya yang masih dua puluh tujuh tahun berhasil memimpin timnya tanpa kecelakaan. Mereka sampai ke tempat di mana tak seorang pun pernah meginjaknya. Tim juga mencatat kondisi meteorologi dan fakta ilmiah penting di sana.

Mereka harus tinggal di kutub utara selama musim dingin karena harus menunggu kapal. Saat itu dimanfaatkan untuk menumpulkan materi buku yang kelak diberi judul “Eskimo Life”.

Fridtjof Nansen dan timnya berhasil kembali ke Norwegia. Ia disambut seperti pahlawan

Lahir di Oslo, Norwegia, Nansen adalah seorang petualang sejak usia muda.

Cintanya pada dunia luar membuat dia belajar zoologi di Royal Frederick University. Ia terkenal sangat brilian dan menjadi akademisi terbaik di bidangnya.

Meski demikian, alam bebas adalah hidupnya. Ia tak betah hanya berada di ruangan hingga akhirnya memutuskan untuk kembali berkelana.

Ia juga memiliki minat  menjadi salah seorang humanitarian. Yang kemudian dicatat sebagai  terbesar  saat ia bekerja untuk membebaskan ratusan ribu tawanan perang dan memulangkan para pengungsi.

Fridtjof Nansen memulai kariernya dengan membiaskan batas-batas eksplorasi manusia. Ia adalah seorang pemberani yang ulet dan mencurahkan semua perjuangannya untuk mendukung mereka, para korban peran

Komentar