Firefox Hentikan Dukungan ke XP dan Vista

Penulis: Darmansyah

Selasa, 27 Desember 2016 | 15:20 WIB

Dibaca: 0 kali

Mozilla blog, Selasa, 27 Desember 2016,  datang dengan berita mengejutkan  berupa pemberitahuan bahwa browser Firefox milik mereka akan  menghentikan dukungan kepada dua sistem operasi Windows lawas, yakni XP dan Vista,  mulai akhir September tahun depan.

“Kami sangat menganjurkan pengguna untuk meng-upgrade versi Windows yang masih didukung Microsoft,” tulis Mozilla.

Penghentian dukungan artinya, browser tersebut masih tetap bisa dipakai di Windows XP dan Vista.

Akan tetapi, Mozilla selaku pembuat Firefox tidak akan merilis update software di kedua platform sistem operasi Windows itu.

Hal ini bisa berbahaya apabila ditemukan lubang keamanan dalam browser tersebut.

Mozilla tidak akan lagi menutup lubang keamanan tersebut dengan update, sehingga pengguna rawan diserang oleh hacker atau malware.

Untuk itu, Mozilla akan merilis Firefox versi Extended Support Release pada Maret nanti.

Pengguna di kedua sistem operasi tadi akan otomatis dipindahkan ke varian ini yang akan membatasi update fitur.

Langkah Firefox ini menyusul keputusan yang sama yang telah diambil oleh Google Chrome sebelumnya.

Google diketahui telah menghentikan dukungan untuk browser Chrome di XP, Vista, dan  Mac OS X  sejak April lalu.

Jauh sebelumnya,  Mozilla, pengembang browser Firefox, pernah “mengusir” Google lewat lewat browsernya.

Padahal, waktu itu, Google membayar Mozilla agar menjadikan mesin pencarinya sebagai pilihan default di Firefox.

Tapi minggu ini Mozilla mengumumkan sudah tak lagi bekerja sama dengan Google sejak akhir tahun lalu.

“Kami tak lagi punya hubungan komersial dengan Google,” kata Kepala Bisnis Mozilla Denelle Dixon-Thayer.

Sebagai gantinya, Mozilla menjalin kemitraan dengan beberapa rekanan mesin pencari lain, seperti Yahoo untuk wilayah AS, Yandex untuk pengguna di Rusia, dan Baidu di China.

Search engine Google masih dipertahankan untuk para pemakai Firefox di Eropa.

Langkah Mozilla terlihat berisiko karena perusahaan tersebut kini tak lagi memperoleh pemasukan dari Google.

Padahal, dari pendapatan Mozilla sepanjang sbelumnya ratusan juta  dollar AS pendapatannya, hampir seluruhnya berasal dari perjanjian search engine.

Pun begitu, Mozilla tak mau selamanya bergantung pada Google. Perusahaan ini yakin posisinya akan lebih kuat tanpa Google karena kini disokong oleh mitra-mitra mesin pencari baru.

Dixon-Thayer mengakui pihaknya memang mempertaruhkan pendapatan dengan putus hubungan dari Google. Tapi hal ini memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi Mozilla. “Jadi kami ke strategi awal yang lebih menekankan pada kompetisi,” katanya.

Di luar kerja sama kedua pihak, Mozilla sedang berusaha menyaingi dominasi Google di ranah mobile, termasuk dengan membikin sistem operasi Firefox OS untuk ponsel murah dan perangkat pintar seperti Smart TV, namun sejauh ini hasilnya belum terlihat.

Setelah Facebook meminta agar Adobe menghentikan layanan Flash-nya saat ini, Mozilla pun mengikutinya dengan memblokir plug-in Flash di browser-nya, Firefox.

Sebelumnya Mozilla juga pernah memblokir  semua versi Flash Player  dari browser-nya, seiring dengan pembaruan aplikasi yang diberikan Mozilla.

Pengguna browser Firefox waktu itu diberi pilihan mengaktifkan Flash di browser-nya melalui menu “settings“. Namun, Mozilla beranggapan bahwa teknologi itu sudah tidak diperlukan lagi saat ini.

Sebelumnya, lubang keamanan besar dalam Flash baru-baru ini terungkap setelah perusahaan spyware, Hacking Team, mengumumkan bahwa data cache file sebesar 400 GB miliknya telah dibobol.

Peretas memanfaatkan kelemahan dalam Flash yang sudah ada selama ini dan belum disadari oleh banyak orang.

Walau Adobe telah buru-buru menambal lubang keamanan tersebut dengan merilis update, Hacking Team menyebutnya sebagai bug terbesar Flash sepanjang empat tahun belakangan ini.

Selain itu, teknologi Flash juga sudah mulai ditinggalkan oleh perusahaan besar, seperti Facebook dan YouTube.

Game-game di Facebook yang menggunakan Flash juga semakin jarang diminati, sementara YouTube pada Januari lalu mengumumkan bahwa mereka beralih ke teknologi HTML5 dalam menyediakan layanan video streaming.

Komentar