Facebook Utamakan “Love” Dibanding “Like”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 2 Maret 2017 | 10:16 WIB

Dibaca: 1 kali

Laman situs “the next web” hari ini, Kamis, kembali lagi menulis tentang tombol “love” dan “like”

Tombol itu sudah hadir  setahun lalu  sejak Facebook memasang tombol reaksi di setiap konten yang diunggah pengguna.

Kali ini raksasa media sosial itu mengungkap bagaimana efek tombol tersebut.

Facebook membagi efek ini menjadi dua, yakni berdasarkan Like dan reaksi emosi.

Seperti diketahui, tombol Like memang sudah lama ada dan digunakan untuk menandai konten yang menarik perhatian warga Facebook.

Sedangkan reaksi emosi tergolong baru dan terbagi menjadi tombol Love, Haha, Angry, Sad, dan Wow.

Tombol Like sekarang diposisikan lebih rendah dan tidak berdampak terlalu banyak terhadap peringkat konten yang ada di News Feed.

Sedangkan tombol reaksi, seperti Love, bakal memberikan efek sedikit lebih besar terdapat peringkat tersebut.

Alasannya adalah reaksi seperti ini mengindikasikan sinyal ketertarikan yang lebih kuat ketimbang Like.

Jika sebuah unggahan dianggap memiliki peringkat lebih tinggi, maka Facebook otomatis akan lebih sering memperlihatkannya di News Feed.

Perhitungan ini juga diterapkan pada berbagai tombol reaksi khusus yang dirilis pada waktu tertentu.

Misalnya, tombol reaksi berbentuk bunga yang dirilis pada perayaan Hari Ibu, beberapa waktu lalu.

Spekulasi tentang  niat Facebook mengubah tombol Like sebenarnya sudah lama, tapi baru sekarang semua itu terwujud.

Ya, tombol Like itu kini bisa diubah menjadi berbagai reaksi emosi.

Melalui fitur baru bernama Reactions, tombol Like bisa diganti menjadi Love, Haha, Wow, Sad atau Angry.

Dengan demikian pengguna bisa lebih ekspresif menunjukkan reaksinya terhadap status update di akun temannya.

“Setiap hari orang datang ke Facebook untuk mengetahui keadaan seseorang, berbagi cerita, baik yang bermuatan canda, kesedihan, kebahagiaan atau suatu sikap kritis,” tulis Product Manager Facebook Sammi

“Kami telah mendengarkan masukan dari berbagai pihak dan paham bahwa mestinya ada cara yang lebih mudah serta cepat untuk mengekspresikan reaksi perasaan Anda saat melihat lini masa. Karena itu kami luncurkan Reactions,” imbuhnya.

Cara untuk memakainya pun mudah. Bila berada di aplikasi Facebook mobile, maka pengguna cukup menahan tombol Like hingga muncul berbagai pilihan reaksi.

Bila membuka Facebook dari peramban desktop, maka cukup letakkan kursos di atas tombol Like hingga muncul berbagai pilihan reaksi.

Selanutnya pilih saja, maka reaksi tersebut akan melekat di tempat yang diharapkan.

Krug menceritakan bahwa fitur ini sebenarnya telah lama digodok. Tapi Facebook baru berani merilisnya setelah melakukan riset selama lebih dari satu tahun.

Mulai dari survei hingga diskusi kelompok, semua dilakukan demi menentukan jenis-jenis reaksi emosi yang layak disematkan di sisi tombol Like.

Kini Reactions telah dirilis ke seluruh dunia. Namun dengan catatan, tak semua negara bisa langsung merasakannya sekejap setelah pengumuman tersebut.

Pengguna cukup menunggu saja dan bersabar karena raksasa jejaring sosial tersebut pelan-pelan sedang mewujudkannya.

Selain masalah tombol “love” dan “like” Facebook juga telah  menggulirkan kebijakan baru terkait pemutaran video di timeline).

Sebelumnya, video hanya diputar secara otomatis tanpa suara.

Penguna mesti meng-klik window video untuk mengeluarkan audio.

Nantinya, video di Facebook akan diputar secara otomatis lengkap dengan suara begitu dijumpai oleh pengguna di linimasa.

“Dengan semakin banyaknya pengguna yang menonton video di ponsel, mereka juga berharap mendengar suara saat tombol volume perangkat dinyalakan,” sebut Facebook mengenai alasan di balik kebijakan baru tersebut.

Untuk mengurangi rasa kaget yang bisa muncul, audio dari autoplay video ini akan diputar secara perlahan .

Suara pun akan menghilang perlahan (fade out) begitu pengguna menggulir timeline sehingga melewati video.

Ada juga beberapa kondisi di mana video tetap hanya akan diputar tanpa suara, salah satunya ketika ponsel sedang berada dalam silent mode. Pilihan untuk mematikan autoplay suara dalam video juga bisa diakses dalam menu settings.

Kebijakan baru Facebook soal pemutaran video dengan suara ini akan diberlakukan secara bertahap ke para pengguna di seluruh dunia.

Komentar