Facebook Tak Menyaring Konten “Live”

Penulis: Darmansyah

Senin, 22 Mei 2017 | 13:45 WIB

Dibaca: 0 kali

Facebook belum memenuhi desakan untuk  memperbaiki aturan penyebaran konten

Seperti yang ditulis oleh media hebat Inggris, the guardian, hari ini, Senin, 22 Mei,  sejumlah dokumen panduan pengguna dalam mengatasi konten berbahaya.

Dalam tulisan tersebut, diketahui kebijakan internal perusahaan dalam mengatasi konten negatif.

Ada lebih dari seratus panduan yang bisa digunakan untuk membantu moderator situs saat meninjau kembali laporan dari pengguna.

Diketahui Facebook mengizinkan pengguna untuk mengakiti diri sendiri saat melakukan siaran langsung.

Facebook bahkan terkesan tidak mensensor atau menghukum orang yang sedang tertekan dan berniat untuk bunuh diri.

Sejumlah konten bernada mengancam, pelecehan anak, gambar kekerasan, dan kekerasaan terhadap hewan tidak benar-benar diredam penyebarannya.

Pihak perusahaan baru akan menindak konten negatif mulai dari memblokir hingga menghapusnya jika dianggap sudah tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan korban.

Facebook bahkan menilai meski dianggap berisi konten negatif, namun kejadian itu layak diberitakan maka tidak akan ditarik dari peredaran.

Facebook mengklaim kebijakan tersebut dibuat berdasarkan formula dan saran dari para ahli. Bukan hanya dokumen kebijakan yang mengejutkan, ada juga informasi mengkhawatirkan dari cara pengguna memanfaatkan platform Facebook dalam enam bulan terakhir.

Moderator yang melakukan sensor dan penghapusan konten mencatat adanya peningkatan laporan potensi pengguna yang terinspirasi dari Facebook untuk menyakiti diri sendiri.

Tim penegak hukum Facebook yang bekerjasama dengan kepolisian dan otoritas terkait mengkalim berhasil menangani enam puluh tiga kasus dalam periode tersebut.

Sepanjang tahun lalu laporan untuk kasus serupa kembali meningkat.

Dalam satu hingga dua pekan saja, ada lima ribuan laporan potensi pengguna di Amerika Serikat yang menyakiti diri sendiri.

Laporan ini kabarnya mendorong Facebook untuk meminta bantuan pihak terkait jika mendapati ada potensi aksi bunuh diri yang dilakukan penggunanya.

Temuan dokumen ini tentu berbanding terbalik denganklaim perusahaan.

Kepala manajemen kebijakan global Facebook, Monika Bickert sempat menegaskan bahwa kebijakan khusus konten bunuh diri sangat erat kaitannya dengan kepentingan publik.

“Kami kadang-kadang melihat ada momen atau acara publik tertentu yang merupakan bagian dari percakapan publik yang lebih luas, kami menjamin agar konten ini tetap ada di platform kami,” ungkap Bicker.

Di sisi lain, Facebook mengklaim telah melakukan pembaruan kebijakan kepada moderatornya dalam beberapa bulan terakhir.

Salah satu poin penting di dalamnya yakni meminta moderator untuk menghapus semua video yang menggambarkan bunuh diri seseorang, kecuali layak diberitakan–saat video dibagikan oleh orang lain selain korban–dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran pengguna lainnya.

Dalam dokumen tersebut diketahui juga moderator diminta untuk mengabaikan ancaman bunuh diri ketika niatan tersebut hanya diungkapkan melalui tagar atau penggunaan emoticon, atau jika metode yang diusulkan perusahaan dianggap tidak mungkin berhasil.

Ancaman atau niatan bunuh diri dalam dokumen tersebut yang diutarakan pengguna lebih dari lima hari kedepan juga diminta untuk diabaikan.

Lagi-lagi perusahaan yang dinakhodai Mark Zuckerberg ini kembali beralasan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan penerbit dan pakar lainnya untuk mengatasi penyebaran konten, terlebih pada momen-momen tertentu.

“Pada momen tertentu meskipun terkesan bernada negatif, kami tidak bisa serta merta menghapus. “

“Misalnya pada insiden 11 September enam belas tahun silam di mana penonton berbagi video saat ada siaran langsung orang melompat dari menara kembar, bisa saja momen itu tidak akan dihapus kontennya selama dan setelah siaran.”

“Kami baru-baru ini mengizinkan konten video yang menggambarkan seorang pria Mesir yang membakar dirinya untuk memprotes kenaikan harga pemerintah. ”

“Dalam kasus ini seseorang yang mengunggah konten tentang luka bunuh diri, kami hanya ingin memastikan bahwa pengakses lain bisa memberikan dukungan dan bantuan untuk pengguna lainnya,” tutup Bickert.

Komentar