Facebook Longgarkan Sensor Pornografi

Penulis: Darmansyah

Selasa, 25 Oktober 2016 | 14:17 WIB

Dibaca: 0 kali

Facebook, seperti ditulis “techcrunch,” siang ini, Selasa, 25 Oktober 2016, sedang menyiapkan langkah berani dengan  melonggarkan sensor konten di linimasanya.

Dengan langkah pelonggaran ini, kekal,  konten bermuatan pornografi atau kekerasan akan bisa ditampilkan dalam batas tertentu.

Tidak tanggung-tanggung, pernyataan  pelonggaran sensor ini disampaikan  Vice President of Global Policy Facebook, Joe Kaplan.

Facebook memiliki kesimpulan, tidak semua konten bernuansa pornografi atau kekerasan itu buruk.

“Ada konten pornografi dan kekerasan yang a mengandung nilai berita, sejarah atau hal-hal penting lain yang harus diketahui banyak orang,”ujar Kaplan.

“Tujuan kami adalah mengizinkan lebih banyak gambar dan cerita tampil di linimasa, tanpa harus menyajikan hal yang berbahaya atau menyajikan gambar bernuansa kekerasan pada anak di bawah umur, maupun orang-orang yang tidak ingin melihatnya,” terang Joe.

Langkah tersebut merupakan reaksi Facebook terhadap sejumlah kekeliruan sensor yang belakangan ini terjadi.

Sebelumya, raksasa jejaring sosial itu mendapat kritikan keras akibat menyensor foto Napalm Girl karena menganggapnya sebagai pornografi.

Foto yang dimaksud memang menampilkan bocah tanpa busana dalam situasi perang Vietnam.

Namun perlu dicatat, meski berisi bocah tanpa busana, foto tersebut bermuatan informasi penting mengenai perang Vietnam serta efeknya terhadap masyarakat setempat.

Toh akhirnya Facebook menyadari kekeliruan sensor itu. Foto “Napalm Girl” yang dibagikan oleh jurnalis Norwegia dan media tempatnya bekerja, akhirnya kembali ditayangkan.

Selain kasus foto Napalm Girl, Facebook juga sempat mengalami kekeliruan sensor lainnya.

Salah satunya adalah video yang berisi detik-detik terakhir Philando Castile, pria yang ditembak mati oleh seorang polisi karena suatu kesalahpahaman.

Video Philando Castile sempat diblokir selama satu jam, hingga akhirnya Facebook mengembalikannya dengan menyematkan peringatan adanya unsur kekerasan di video.

Facebook berasalan kekeliruan sensor tersebut terjadi akibat alat yang otomatis mendeteksi berbagai konten yang melanggar syarat penayangan.

Sebelum munculnya keputusan pelonggaran sensor pornografi dan kekerasan ini, Facebook pernah dihujat karena memuat foto seorang anak perempuan itu berlari tanpa busana di jalanan.

Wajahnya meringis menahan sakit.

Di latar belakang tampak pekat asap hitam menyusul serangan bom api napalm oleh angkatan udara Vietnam Selatan.

Foto ikonik yang menggambarkan tragedi perang Vietnam tersebut dimuat dalam sebuah posting mengenai “tujuh foto yang mengubah sejarah perang” di Facebook oleh penulis Norwegia bernama Tom Egeland.

Posting yang bersangkutan lantas dihapus oleh pihak Facebook lantaran dipandang mengandung kontak pornografi anak. Sementara akun sang penulis diblokir.

Langkah Facebook ini menuai kritik pedas dari Epsen Egyl Hansen, pemimpin redaksi sekaligus CEO koran terbesar di Norwegia, Aftenposten

Dalam sebuah surat terbuka, Hansen yang menyebut pendiri Facebook Mark Zuckerberg sebagai “editor paling berkuasa di dunia” mengatakan bahwa Facebook telah salah menilai foto tersebut.

“Kalau Anda tak bisa membedakan antara pornografi anak dan foto dokumenter dari peperangan, ini hanya akan mendorong kebodohan dan kegagalan mendekatkan umat manusia,” tulis Hansen dalam surat terbuka yang dipublikasikan secara online dan secara tercetak di halaman depan Aftenposten itu.

Lewat laman Facebook miliknya, Aftenposten sempat memberitakan penghapusan posting yang ditulis oleh Egeland dengan menyertakan foto dimaksud.

Namun, artikel ini pun kemudian dihapus oleh pengelola jejaring sosial tersebut dari laman Facebook Aftenposten setelah didahului oleh ultimatum.

“Foto apa pun yang menampilkan orang dengan alat kelamin atau bokong atau payudara wanita yang sepenuhnya terbuka akan dihapus,” sebut Facebook.

Hansen merasa kebebasannya sebagai redaktur untuk menyunting berita telah dikekang oleh Facebook. “Saya pikir Anda menyalahgunakan kekuasaan dan tidak berpikir panjang,” katanya.

Sebelum memuat foto anak dari perang Vietnam itu, Facebook pernah juga dicibir ketika menampilkan foto Mark Zuckerberg yang  melakukan jogging di area lapangan Tiananmen.

Foto Zuckerberg di atas, yang kemudian diunggah ke akun Facebook pribadinya, kontan menuai banyak reaksi. Banyak warga China mendukung aksinya, tapi ada pula yang mencibir.

“Untuk seseorang yang terus menyatakan cinta dan ketertarikan terhadap China, Anda tidak tahu apa-apa soal negera kami”, tulis seorang pengguna Facebook bernama Ginny Koh

“Semua orang di Beijing harus mengenakan masker. Kami menganggap serius persoalan polusi udara, tidak seperti Anda,” lanjutnya.

Pengguna lain turut mencela Mark yang dinilai seolah mengajak orang-orang untuk berlari tanpa masker di tengah polusi udara parah.

“Mark tak memakai masker, dia bisa kembali ke AS dengan mengidap kanker paru-paru. Janganlah seperti Mark, pakai masker Anda,” tulis seseorang bernama Cindy Acevedo, juda di Facebook.

Facebook sendiri hingga kini masih  diblokir di China oleh firewall pemerintah.

Meski begitu, warga Negeri Tirai Bambu masih bisa mengakses jejaring sosial itu dengan memanfaatkan jasa virtual private network

Komentar