Facebook Ingin Hapus Kesan Bawa Hoax

Penulis: Darmansyah

Rabu, 21 Juni 2017 | 07:44 WIB

Dibaca: 0 kali

Facebook ingin menghapus kesan sebagai “pembawa” berita bohong  dengan  adalah memperkerjakan ribuan orang  untuk memonitor berita hoaxdan menanggulangi video dengan konten kekerasan

Facebook selama ini memang dituding sebagai sumber  peredaran berita hoax

Frank Seno, pengamat  komunikasi The George Washington University, mengatakan Facebook lebih disoroti dalam hal peredaran berita palsu.

Oleh karena itu, para pemain besar medsos lain seperti Google, Twitter, Instagram, harus bertanggung jawab.

“Pasalnya, media sosial bukan sarana netral yang seluruh informasinya dimuat bersifat kredibel. Informasi yang disisipkan bisa saja berisi kebencian atau penipuan,” kata Seno

Merebaknya berita hoax dan video kekerasan juga sempat menekan harga saham Facebook. Investor khawatir, ancaman ini bisa mengikis reputasi media sosial terbesar tersebut.

Facebook tentu tak tinggal diam.

Langkah awal yang diambil raksasa medsos itu adalah memperkerjakan ribuan pekerja tambahan yang tak hanya untuk memonitor berita hoax, tetapi juga menanggulangi video dengan konten kekerasan.

Langkah tersebut dilakukan menyusul kasus pembunuhan yang streaming langsung via Facebook Live di AS serta siaran langsung tindak bunuh diri di Thailand.

Secara mekanisme, Facebook akan meminimalisasi peredaran berita hoax dengan strategi serupa Google, di mana memblokir informasi hoax dengan menggunakan jaringan AdSense.

Kepada The Wall Street Journal, juru bicara Facebook mengatakan, mereka mulai memblokir laman-laman yang menghadirkan informasi atau berita bohong dari Facebook Audience Network.

Laman-laman itu tak akan bisa ditampilkan di Facebook lantaran telah dikategorikan sebagai informasi menyesatkan, ilegal, atau dianggap sebagai penipu.

Dengan demikian, pendapatan iklan dari situs-situs hoax itu bisa dipotong.

“Kami telah memperbarui kebijakan secara eksplisit yang menjelaskan hal ini pemotongan pendapatan iklan berlaku untuk situs-situs berita hoax. Kami semangat menegakkan kebijakan dan mengambil tindakan cepat bagi situs dan aplikasi yang dinyatakan melanggar,” tutur juru bicara Facebook.

Lebih lanjut, ia mengatakan, tim Facebook terus memantau seluruh calon penerbit untuk mematuhi aturan tersebut.

Bagi situs-situs berita yang dikategorikan menyesatkan atau ilegal, tentunya kehilangan kesempatan untuk muncul baik di Google maupun Facebook merupakan hal yang merugikan.

Sebab, kedua perusahaan teknologi itu merupakan dua dari banyak platform terbesar di dunia bagi pengiklan.

Hilary Kramer, penasihat keuangan A&G Capital, mengatakan kesan pertama dari keputusan Facebook menambah tiga ribu pekerja untuk memonitor unggahan dan mencari penyebaran berita bohong dari pengguna, adalah langkah yang bijak.

Menurutnya, ini jelas merupakan cara untuk memulihkan hubungan masyarakat dan mencoba memulihkan hubungan dengan pengguna.

Selain memutuskan untuk mempekerjakan ribuan orang untuk memerango berita hoax,  Facebook juga telah mengambil langkah  dengant memanfaatkan teknologi virtual reality

Facebook telah  memperkenalkan layanan jejaring sosial baru untuk Oculus.

Layanan bernama Spaces ini merupakan produk yang menggabungkan teknologi VR dengan media sosial.

Seperti ditulis “tchcCrunch,” layanan ini memungkinkan pengguna Oculus terhubung dengan akun Facebooknya dan mendapatkan pengalaman memakai media sosial dengan cara berbeda.

Dengan Spaces, pengguna Facebook tak lagi berkomunikasi dengan memanfaatkan aplikasi chatting.

Pengguna akan ditampilkan dalam sebuah avatar dan komunikasi akan dilakukan melalui suara, layaknya percakapan biasa.

Melalui aplikasi ini, ada empat pengguna Facebook yang dapat terhubung di dalam sebuah grup.

Masing-masing pengguna dapat mengobrol, menggambar, menonton video 360, membuat panggilan video, termasuk selfie dengan memakai avatar pengguna.

Untuk saat ini, Spaces baru dapat digunakan melalui Oculus Rift. Namun menurut penuturan Product Manager Mike Booth, pihaknya mengingingkan layanan ini dapat tersedia untuk platform VR lain.

Kendati demikian, dapat dipastikan layanan ini tak akan tersedia untuk platform VR berbasis smartphone karena perbedaan spesifikasi.

Lebih lanjut Booth juga menuturkan Spaces merupakan langkah awal Facebook dalam pengembangan media sosial berbasis VR.

Sekadar informasi, VR merupakan salah satu teknologi yang akan mendapat investasi besar-besaran dari Facebook.

Hal itu diungkapkan CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui roadmap sepuluh tahun Facebook pada awal tahun lalu.

Saat ini, pegawai Facebook yang bekerja penuh untuk mengembangkan media sosial berbasis VR masih sekitartiga puluh sampai lima puluh

Namun mengingat pertumbuhan VR masih berlangsung secara bertahap, besar kemungkinan jumlah pegawai juga akan bertambah.

Komentar