Email di Google Chrome Bisa “Bunuh Diri”

Penulis: Darmansyah

Senin, 27 Juli 2015 | 15:04 WIB

Dibaca: 0 kali

Google menyediakan fitur baru berupa “dmail” di peramban Google Chrome, yang bisa mengontrol berapa lama email yang ada di dalam inbox dilihat penerima dan kalau tiba waktunya, email itu akan ‘bunuh diri’ alias menghancurkan dirinya sendiri.

Seperti dikutip “nuga” dari “CNN Money,” di akhir pekan lalu, fitur ini diyakini akan membantu komunikasi yang aman atau mencegah bocornya informasi personal kalau email tak terhapus dari kotak surat.

Fitur ‘bunuh diri’ itu bisa diakses di Chrome extension melalui tombol “Send with Dmail” dekat tombol “Send” di email yang dibuat. Dengan mengklik tombol itu, pemilik email bisa mengontrol berapa lama umur email yang dikirim.

Sebetulnya Gmail sendiri sudah memiliki fitur baru yang membuat pengirim email bisa membatalkan pengiriman seandainya diperlukan. Itu dilakukan dengan tombol “Undo send”.

Tapi tombol ini hanya efektif dalam waktu kurang dari 30 detik. Lebih dari itu, email akan tersimpan di inbox penerima.

Nah, pada Dmail, pengguna bisa lebih leluasa lagi mengatur berapa lama waktu email itu berada di inbox penerimanya. Bisa diatur satu jam atau sepekan. Setelah itu, email akan ‘bunuh diri’.

Tapi jika belum terpikirkan berapa lama, bisa memilih “Never” dan ‘pembunuhan’ email bisa dilakukan lain kali.

Semua pesan email sudah dienkripsi dan bila pengirimnya menambahkan restriksi untuk mengakses, maka penerima tidak akan bisa melihat isi email itu lagi.

Dmail mengklaim, dalam waktu dekat mereka akan menambahkan fitur untuk mencegah email tak bisa di-forward.

Google memperbarui fitur yang lebih cerdas untuk menangkal pesan spam di Gmail.

Menggunakan kecerdasan buatan yang dimodifikasi, Gmail diklaim mampu bisa lebih selektif dalam menentukan email tak diinginkan atau pesan sampah.

Sri Harsha Somachi, Product Manager Gmail di posting blog resmi Google, mengakui pendeteksi spam di Gmail kadang tidak sempurna karena masih salah memasukkan email yang diinginkan ke folder spam.

Misalnya pengguna Gmail mendapatkan banyak email penting dari perusahaan seperti bank dan maskapai tapi kadang-kadang pesan keliru mengklasifikasikan sebagai spam. Ketika ini terjadi, pengguna mungkin harus menyeberang melalui folder spam.

“Kami dapat membantu pengirim untuk berbuat lebih baik, jadi hari ini kita meluncurkan tools Gmail Postmaster,” tulisnya yang dikutip CNN Indonesia.

Gmail Postmaster mampu menganalisis email dengan lebih baik, termasuk data tentang kesalahan pengiriman, laporan spam, dan reputasi. Dengan cara ini dapat mendiagnosa isi email agar tidak salah masuk ke folder yang tak diinginkan.

Memang sejak awal, machine learning telah membantu membuat filter spam Gmail lebih dahsyat.

Ketika pengguna mengklik tombol “Laporan spam” dan “Not spam”, tidak hanya meningkatkan pengalaman Gmail saat itu juga, tetapi juga melatih filter Gmail untuk mengenali yang spam dan yang bukan.

“Sekarang, kami membawa kecerdasan yang sama dikembangkan untuk Google Search dan Google Now untuk membuat menyaring spam dengan lebih cerdas dalam beberapa cara,” tambahnya.

Sebagai permulaan, filter spam sekarang menggunakan jaringan saraf tiruan untuk mendeteksi dan memblokir spam terutama yang licik dan akhirnya bisa lolos dari pengawasan.

“Kami juga menyadari bahwa tidak semua inbox sama. Jadi sementara pengguna lain mungkin cinta newsletter email mingguan, Anda mungkin membenci mereka. Dengan kemajuan pembelajaran mesin, filter spam sekarang dapat membedakan berdasarkan kebiasaan penggunanya.”

Berkat sinyal pembelajaran mesin baru, Gmail sekarang bisa mengetahui apakah pesan benar-benar datang dari pengirim, sehingga menghindari email phising atau pengelabuan yang menggangu.

Google Mail atau Gmail selama ini digunakan untuk saling berkirim pesan baik berupa teks dan gambar. Belakangan, Google menambahkan satu fitur menarik, yakni saling berkirim uang.

Transaksi uang ini pun sangat mudah dilakukan selayaknya mengirimkan pesan. Fitur yang terdapat di bawah bodi pesan, kini terdapat logo ‘$’ yang artinya pengguna bisa meng-attach uang miliknya.

Siapapun dapat menerima uang tersebut, baik yang menggunakan Gmail maupun email yang lain. Asalkan, pengguna email sudah terhubung dengan Google Wallet.

Daily Mail memberitakan, Google Wallet merupakan layanan transaksi digital yang memanfaatkan teknologi near field communication. Pengguna layanan ini dapat melakukan pembayaran atau pembelian yang dananya dipotong dari kartu debit atau kartu kredit.

Google Wallet terhubung ponsel Android atau iOS yang kemudian selain dapat dilakukan untuk pembayaran online juga untuk berbelanja di toko hanya dengan menempelkan ponsel ke mesin NFC.

Gmail yang terhubung dengan Google Wallet ini sebetulnya bukanlah layanan yang baru. Di Amerika Serikat, penggunaannya sudah diperkenalkan sejak tahun 2013 dan Inggris adalah negara kedua yang dibuka layanannya mulai akhir Januari 2015.

Karena merupakan layanan dompet digital, Google Wallet, dilindungi beragam lapisan keamanan. Termasuk menguncinya dengan PIN atau screen lock.

Komentar