Edit Dokumen? Pakai Suara Saja

Penulis: Darmansyah

Senin, 29 Februari 2016 | 10:43 WIB

Dibaca: 1 kali

Google memantapkan kehadiran sebuah fitur menarik di aplikasi perkantoran Docs yang terintegrasi di layanan Google Drive dan fitur itu juga disebut sebagai Voice Typing yangu mengizinkan pengguna untuk mengetik dengan menggunakan suara atau “dictation”.

Seperti ditulis “Venture Beat,” Senin, 29 februari 2016,, Google telah menambah kemampuan voice dictation sehingga kini bisa digunakan untuk menyunting dokumen secara langsung dengan suara pengguna.

Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan perintah suara untuk melakukan hal-hal seperti “select all”, “select line”, “bold”, “make bigger”, “increase indent”, “copy”, “paste”, “go to next page”, dan “insert page break”.

Untuk mengetahui daftar lengkap daftar suara tersebut, silahkan kunjungi tautan berikut.

“Kami merilis pengetikan suara di Google Docs untuk membantu Anda merekam ide, membuat suara, atau bahkan menulis novel hebat berikutnya — semua tanpa harus membuat Anda menyentuh keyboard. Mulai hari ini, Anda juga bisa meyunting dan memformat dokumen dengan suara,” ujar Google Product Manager, Isaiah Greene.

Google tampak terus mempersenjatai Google Docs dengan berbagai fitur menarik.
Pada bulan September lalu, selain dictation, raksasa internet ini juga memperkenalkan fitur Research.

Menggunakan fitur tersebut, pengguna bisa melakukan pencarian langsung dari Google Docs.
Artinya, pengguna sudah tidak perlu lagi berpindah aplikasi ke layanan Google Search untuk melakukan hal tersebut.

Update ini bisa ditemukan di Google Drive versi desktop dan perangkat berbasis Android.
Google memang terus memperbarui aplikasi perkantoran Docs, yang terintegrasi di layanan Google Drive.

Salah satu fitur menarik adalah Voice Typing.

Ya, sesuai dengan namanya, pengguna kini bisa mengetik hanya dengan menggunakan suara

Artinya, suara yang diucapkan akan langsung dibuah menjadi teks atau tulisan.

Untuk menggunakan fitur tersebut, pengguna hanya perlu mengklik menu Tools, kemudian mengklik Voice Typing.

Setelah itu, pengguna bisa langsung mengucapkan kata-kata yang ingin diketik oleh sistem.

Menariknya, sistem dari Google Docs ini sudah mengenali berbagai macam bahasa. Sebagaimana KompasTekno rangkum dari blog resmi Google, Kamis (3/9/2015), total sudah ada 40 bahasa yang didukung, termasuk Indonesia.

Saat KompasTekno mencobanya, sistem mampu mengubah suara yang diucapkan dengan cukup baik. Kesalahan yang terjadi cukup jarang.

“Voice Typing tersedia lebih dari 40 bahasa, jadi kami bisa membantu Anda dengan PR bahasa Perancis. Voila,” tulis Google.

Fitur menarik lainnya disebut sebagai Research.

Menggunakan fitur tersebut, pengguna bisa melakukan pencarian langsung dari Google Docs.

Artinya, pengguna sudah tidak perlu lagi berpindah aplikasi ke layanan Google Search untuk melakukan hal tersebut.

Hasil pencariannya pun bisa langsung dimasukkan ke Google Docs. Sebagai contoh, pengguna melakukan pencarian tentang mobil.

Melalui menu Research, langsung saja masukkan kata mobil.

Hasil pencariannya dapat berupa kata-kata dan juga gambar. Kemudian, tinggal pilih gambar yang diinginkan, kemudian tekan tombol Insert. Secara otomatis gambar tersebut akan masuk dalam dokumen yang dikerjakan.

Fitur Insert tersebut juga berlaku untuk kata-kata.

Pengguna tinggal blokir kata yang diinginkan, lalu menekan tombol Insert. Kata-kata tersebut secara otomatis akan dimasukkan ke dalam dokumen.

Tombol Research sendiri dapat ditemukan di menu Tools.

“Anda bisa melakukan pencarian tanpa harus meninggalkan Docs, dan saat telah menemukan quote, fakta atau gambar, bisa menambahkannya (ke dalam dokumen) hanya dengan beberapa sentuhan,” ujar Google.

Update ini sendiri bisa ditemukan di Google Drive versi desktop dan perangkat berbasis Android.

Terhadap inofasi Google ini, Microsoft secara terang-terangan menantangnya dalam bisnis layanan cloud computing atau komputasi awan.

Melalui sebuah video berdurasi dua menit, Microsoft mencoba mempengaruhi pengguna Google Docs untuk beralih menggunakan Microsoft SkyDrive dan Microsoft Office.

Video ini menggambarkan argumen umum Microsoft, tentang bagaimana SkyDrive yang dikombinasikan dengan Office dapat memberi solusi agar terhindar dari frustasi saat menggunakan Google Docs. Microsoft pun mengemas argumen itu dengan menarik.

Video ini menceritakan tiga orang mahasiswa, Alissa, Jamal, dan Max, yang mendapatkan tugas makalah astronomi.

Untuk menghemat waktu dan meningkatkan efisiensi, mereka memilih untuk mengerjakan tugas bersama secara online, menggunakan layanan komputasi awan agar dapat saling berkolaborasi di mana pun mereka berada.

Mulanya, mereka berkolaborasi mengerjakan tugas dalam satu dokumen menggunakan Google Docs.

Tapi kemudian datanglah masalah. Di Google Docs, mereka tidak bisa membuat chart yang menarik, heading, atau image layout yang sedap dipandang.

Malah, mereka harus meng-copy pekerjaan dari Google Docs ke Microsoft Word untuk merapikan formatnya.

Ini sama saja kerja dua kali dan menghabiskan waktu, begitu kira-kira argumen yang hendak disampaikan dalam video ini.

Google Docs digambarkan tidak se-powerful layanan SkyDrive dan aplikasi Office dari Microsoft.

Akhirnya, mereka beralih menggunakan SkyDrive dan Office, di mana mereka masih bisa mengerjakan tugas bersama secara online.

Alissa mengerjakan tugas di perpustakaan kampus. Dia melakukan log-in ke situs SkyDrive.com, lalu membuat dokumen baru dan membagikannya ke Jamal dan Max.

Dalam makalah itu, Alissa kedapatan membuat pengantar tugas tersebut.

Setelah selesai, Alissa memberi catatan untuk Jamal yang sedang mengerjakan tugas di kamar rumahnya.

Jamal kedapatan bagian membuat chart yang bagus menggunakan Office. Setelah itu, giliran Max yang membuat grafis layout.

Kembali ke perpustakaan, Alissa mengecek kembali makalah astronomi yang telah diperindah oleh kedua temannya.

Tugas itu sudah terlihat rapih dan sedap dipandang, Alissa tinggal menambahkan kesimpulan.

Video berjudul “SkyDrive and Office from Microsoft” ini terkesan meremehkan Google Docs.

Layanan dari Google dianggap tidak bisa membuat karya sebagus menggunakan SkyDrive dan Office.

Komentar