Detik Kabisat Berlalu Tanpa Insiden

Penulis: Darmansyah

Rabu, 1 Juli 2015 | 09:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Juni, tanggal 30, di pergantian malam, waktu bukan berjalan 24 jam. Hari itu waktu bertambah satu detik.

Dalam hitungan detiknya, di penghujung Juni itu hari mencatatkan total detiknya, 86.401. Ini berbeda dari hari biasa yang memiliki detik sebanyak 86.400.

Bagaimana dengan pergerakan jam?

Kalau hari biasa jam bergerak dari 23:59:59 ke 00:00:00, pada 30 Juni, dengan penambahan satu detik, waktu bergerak dari 23:59:59 menjadi 23:59:60 sebelum menuju 00:00:00 pada 1 Juli 2015.

Nah. Itulah fenomena pelambatan waktu yang dinamai dengan detik kabisat. Sebuah sensasi waktu ketika satu detik menjadi bagian dari kalender.

Apa yang menyebabkannya?

Jawabannya sederhana. Itu terjadi karena ada perubahan dalam rotasi Bumi.

Rotasi Bumi secara bertahap sedikit melambat, sehingga detik kabisat adalah cara untuk menjelaskan hal itu.

Menguti tulisan di laman situs “Live Science,” Senin 29 Juni 2015, Bumi berputar pada porosnya relatif lebih melambat terhadap Matahari. Kondisi ini disebut hari Matahari rata-rata yang jumlah detiknya bertambah.

Karena rotasi Bumi melambat, ilmuwan sepakat harus ada penambahan detik kabisat agar waktu tetap bisa sesuai dengan jam atom dunia yang super akurat.

Soal pelambatan rotasi ini, sangat dipengaruhi oleh gaya pengereman yang diakibatkan perang tarikan gravitasi antara Bumi, Matahari, dan Bulan.

Ilmuwan di pusat antariksa Amerika Serikat atau dikenal dengan sebutan NASA menjelaskan, karena perang gravitasi itu, maka hari Matahari rata-rata tak menjadi 86.400 detik dalam sehari. Itu terjadi sejak 1820.

Lantas muncul pertanyaan baru. Faktor apa yang menyebabkan pelambatan waktu rotasi Bumi yang berdampak pada pelambatan waktu dalam setahun?

Jawabnya, bisa disebabkan oleh perubahan cuaca musiman dan harian.

Kondisi itu berdampak pada variasi pasang atmosfer, lautan, tanah, dan penyimpanan es.

Peneliti NASA menuding, El Nino juga bisa memperlambat rotasi Bumi, sehingga memaksa penambahan milidetik setiap hari.

Lainnya, bisa juga peristiwa geologi. Gempa bumi, letusan gunung berapi juga berkontribusi membuat rotasi Bumi melambat.

Meski terlihat remeh, hanya melambatkan waktu sekejap saja, tapi detik kabisat ini berdampak secara signifikan pada aktivitas di dunia.

Bagi aktivitas tertentu, detik kabisat menjadi ancaman, menyebabkan masalah sistem komputer, dan internet.

Penambahan waktu satu detik mengganggu dan mengacaukan aktivitas pedagang saham, programmer komputer, dan perusahaan penerbangan.

Kekacauan dilatari oleh penambahan waktu pernah terjadi pada 30 Juni 2012. Saat itu adalah detik kabisat terakhir.

Dikutip CBC News, 30 Juni 2015, pelambatan waktu satu detik itu membuat sistem pemesanan penerbangan maskapai Australia, Qantas pada tiga tahun lalu mengalami kegagalan. Ujungnya banyak penerbangan yang terlambat.

“Korban” detik kabisat yang lain, tiga tahun lalu, adalah situs forum online populer, Reddit, mengalami offline.

Situs ini mati kutu karena servernya yang berbasis Linux gagal mengatasi pelambatan tersebut. Situs korban detik kabisat lainnya yaitu LinkedIn, Foursquare, Yelp, dan Gizmodo.

Selain perusahaan dan aktivitas, perangkat komputer juga terancam kacau, jika tak mengantisipasi pelambatan waktu tersebut. Sebab, ratusan juta perangkat komputer di seluruh dunia harus menggunakan standar waktu yang sinkron, bila tidak akan kacau seperti yang melanda para situs tersebut.

Belum lagi banyak perangkat lunak yang juga akan terpengaruh dari perubahan waktu tersebut.

“Komputer dan perangkat lunak tidak dapat diperbaiki di dalam, melainkan secara manual.”

“Penambahan detik menyebabkan hilangnya sinkronisasi dalam jaringan komunikasi, sistem keuangan, dan banyak aplikasi lainnya yang mengandalkan waktu yang tepat,” tutur Ilmuwan Peneliti Senior di National Physical Laboratory Inggris, Peter Whibberly dikutip BBC.

Ahli geofisika yang juga direktur Dewan International Earth Rotation and Reference Systems Service, Chopo Ma mengakui detik kabisat akan membuat dunia kacau, membuat sistem komputer dan internet terganggu.

“Penambahan detik kabisat serentak di seluruh dunia mengganggu aliran waktu,” ujar dia merujuk kasus tiga tahun lalu itu.

Untuk mengantisipasi detik kabisat, ilmuwan dunia mengandalkan metode Very Long Baseline Interferometry.
Metode ini digunakan peneliti untuk mencatat berapa lama Bumi membutuhkan waktu untuk sepenuhnya memutar setiap hari.

David L. Mills, seorang ahli computer, menyiasati kondisi tersebut dengan menciptakan standar waktu yang nantinya akan dikenal sebagai protokol waktu jaringan.

Protokol ini lahir berbarengan dengan era internet.

Pada masa kini, protokol tersebut dikelola oleh Harlan Stenn, programer yang menjadi presiden Network Time Foundation.

Stenn mengatakan, protokol ini digunakan oleh ratusan juta atau lebih perangkat komputer seluruh dunia.

“Algoritma yang dipakai dalam algoritma ini memungkinkan komputer yang berjejaring menemukan konsensus waktu utama, dan dengan demikian bisa mengatur jam mereka,” kata dia.

Protokol ini dirancang untuk tersinkronisasi jam komputer dengan UTC, standar waktu utama. Nah, mengingat UTC mengalami pelambatan waktu, maka protokol waktu jaringan harus melakukan hal yang sama.

Jika seluruh pihak mengantisipasi detik kabisat dengan menambahkan waktu, Google memilih menempuh pendekatan yang berbeda. Google yang mana jaringan komputernya tersinkronisasi secara luas, mengembangkan solusi yang disebut “leap smear”.

Dalam solusi ini, Google lebih memilih memprogram waktu internal server mereka dengan “mengelabui” waktu selama dua puluh jam pada hari detik kabisat terjadi.

Google menambahkan sejumlah kecil jumlah waktu ke setiap detik yang dihitung oleh jam servernya.
Siasat Google ini dipakai juga oleh Amazon Web Servive untuk mengatasi detik kabisat.

Tapi, problem utama dalam cara Google, yaitu jam Google akan sedikit tak sinkron dengan definisi legal dari waktu selama dua puluh jam tersebut

Lantas bagaimana dengan detik kabisat kali ini?

Meski berpotensi mengacaukan sistem aktivitas dunia, para ilmuwan yakin detik kabisat kali ini tak akan dihiasi dengan insiden kesalahan perhitungan komputer.

Sebab, jaringan komputer sudah siap menghadapi pelambatan waktu.

Keyakinan itu dilandasi pada yang memastikan pelambatan waktu satu detik berlalu tanpa insiden.

Komentar