Cara Melindungi Data Anda di Facebook

Penulis: Darmansyah

Selasa, 26 Juni 2018 | 14:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Hingga saat ini, Facebook masih menduduki peringkat pertama sebagai jejaring sosial yang paling digemari di dunia.

Dengan beragam fitur yang ditawarkannya, Facebook memang dapat memfasilitasi penggunanya untuk melakukan banyak hal.

Namun, isu keamanan data dan informasi pribadi masih menjadi hal penting yang harus jadi perhatian pengguna.

Pastikan untuk selalu keluar (log out) dari perangkat atau browser yang pernah digunakan untuk mengakses akun Facebook.

Hal ini untuk menghindari akun disusupi oleh tangan-tangan jahil.

Pastikan Anda telah mengaktifkan notifikasi log in dari berbagai perangkat atau browser.

Jika fitur ini sudah diaktifkan, akan ada notifikasi dari Facebook ketika ada aktivitas yang mencoba menggunakan akun Anda.

Pastikan Anda menggunakan kombinasi kata kunci kuat dengan kombinasi huruf kapital, angka, dan simbol. Hindari penggunaan kata sandi yang sama untuk sejumlah situs atau akun.

Sebaiknya juga hindari menggunakan nama atau informasi yang mudah diketahui, seperti tangal lahir. Pilihlah kata sandi yang sulit ditebak orang lain, tapi mudah Anda ingat.

Facebook menyediakan fitur Autentikasi Dua-Faktor untuk menjaga keamanan akun Anda secara ekstra.

Setiap kali Anda akan melakukan log in di perangkat baru, Facebook akan mengirimkan email atau SMS berisi kode yang harus dimasukkan untuk mengakses akun.

Jika pernah memilih opsi ‘Masuk dengan Facebook’ saat menggunakan aplikasi pihak ketiga, otomatis aplikasi-aplikasi tersebut memiliki akses ke akun Facebook Anda.

Biasakan untuk mengecek aplikasi apa saja yang terhubung dengan akun Facebook. Usahakan agar akun Facebook hanya terhubung dengan aplikasi yang penting dan sering digunakan.

Untuk merekam aktivitas Anda, Facebook menyediakan fitur Log Aktivitas yang hanya dapat dilihat oleh pemilik akun.

Fitur ini menampilkan seluruh aktivitas yang dilakukan pengguna, termasuk menggunggah foto, menyukai suatu unggahan, membagikan postingan dari orang lain.

Jika rutin melakukan hal ini, semakin mudah untuk mendeteksi jika ada aktivitas mencurigakan pada akun Anda(

Selain itu,banyaknya berita hoaks yang tersebar di platform Facebook membuat Facebook membuka lowongan “News Credibility Specialist”.

Pembukaan lowongan ini ditujukan untuk berurusan langsung dalam menekan peredaran berita hoaks di platform Facebook.

Sebelumnya Facebook sudah berusaha untuk menekan situs berita melalui aplikasi pihak ketiga pengecek fakta dan algoritma. Kendati demikian usaha ini gagal, bahkan masalah berita hoaks ini tumbuh lebih besar.

Dilansir dari Gizmodo, Facebook membuka dua lowongan ini di situs lowongan pekerjaannya.

Lowongan pekerjaan ini bersifat kontrak dan salah satu lowongan mengharuskan pelamar harus fasih dalam berbahasa Spanyol.

Dalam unggahan pemberitahuan lowongan, Facebook menuliskan

“Kami mencari individual dengan gairah dalam jurnalisme yang percaya dengan misi Facebook untuk membuat dunia makin terkoneksi.

Sebagai anggota tim, Anda akan ditugaskan untuk mengembangkan kehalian mendalam di Program News Credibilty Facebook.

Anda akan ditugaskan untuk melakukan investigasi terhadap kebijakan yang telah ditetapkan.”

Facebook akan meminta News Credibility Specialist ini untuk membuat daftar organisasi berita yang kredibel.

Daftar itu bisa digunakan untuk beberapa fitur di Facebook, dari Newsfeed ke sistem pengiklanan.

Kebijakan Facebook ini dinilai tidak hanya untuk menekan penyebaran berita hoaks tapi juga untuk menegakkan kepatuhan penerbit berita dalam aturan baru tentang transparansi iklan politik.

Kebijakan Facebook ini bertolak belakang dari pernyataan CEO Facebook Mark Zuckerberg yang mengatakan Facebook tidak berurusan untuk menilai berita mana yang bisa dipercaya.

Kendati demikian, kebijakan ini dianggap kurang efektif karena Facebook kurang transparan tentang kebijakan editorial penyebaran berita ini.

Belum lagi Facebook selalu menyalahkan algoritma dalam masalah kredibilitas berita di platformnya. Profesor Komunikasi Politik dari University of North Carolina Daniel Kress mengatakan kebijakan ini kurang efektif.

“Mereka selalu memainkan peran editorial, ketakuan saya adalah mereka tidak tahu bahwa mereka memainkan peran editorial ini.

Mereka juga tidak transparan bagaimana merka memutuskan kebijakan tersebut, dan untuk itu kebijakan yang mereka putuskan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya, seperti dikutip Gizmodo.

Bahkan Facebook juga sempat meminta para pengguna untuk melakukan survei tentang sumber berita yang kredibel.

Kebijakan ini dianggap tidak berguna oleh para pihak.

Komentar