Booting Windows 10 dengan Safe Mode

Penulis: Darmansyah

Selasa, 16 April 2019 | 09:38 WIB

Dibaca: 0 kali

Pernah mengalami masalah dengan laptop atau PC?

Jika ya, sebagian besar dari kamu pasti berusaha menghubungi tim IT di kantor atau membawa perangkat ke tempat servis.

Namun, bagi kamu yang tidak ingin melakukan kedua hal tersebut di atas dan ingin memperbaiki PC atau laptop sendiri, booting komputer Windows dalam Safe Mode mungkin dapat menjadi solusi.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mem-boot Windows 10 dalam Safe Mode. Perlu diingat, tidak semua masalah di komputer kamu dapat diselesaikan dengan modus ini.

Tergantung dengan masalah yang terjadi, ada baiknya bagi kamu untuk membawa perangkat ke seseorang yang ahli atau toko servis resminya.

Tanpa panjang lebar, berikut ini adalah cara yang dapat digunakan untuk masuk ke dalam Safe Mode di Windows 10, sebagaimana dikutip dari laman Ubergizmo, Selasa

Selain itu ada kabar baik lainnya bagi  semua pengguna Windows yang sudah menggunakan OS Windows 10.

Seperti diumumkan Microsoft, mencabut flashdisk dari PC dan laptop yang berjalan dengan Windows 10 versi 1809 tak perlu lagi harus memilih opsi safely eject.

Dilaporkan The Verge, , fitur baru ini dinamakan “Quick Removal”, yang memungkinkan pengguna langsung mencabut flashdisk dari slot PC dan laptop.

Secara teknis, Microsoft sebetulnya sudah menguji coba fitur ini

Dan pada akhirnya, Quick Removal kini sudah dirilis ke versi 1809 di seluruh dunia.

Terlepas dari flashdisk, USB jack (USB Type A) yang selama ini umum digunakan oleh pengguna laptop maupun komputer ternyata sudah dipakai lebih dari 20 tahun, tepatnya sejak 1996.

Hal ini mendorong Intel membuat standar baru USB yang dipakai untuk perangkat komputer dan laptop, yakni melalui USB Type C.

Mengutip Business Insider, Minggu (28/5/2017), Intel dilaporkan telah mendeklarasikan bahwa perangkat Thunderbolt 3 mereka akan jadi produk bebas royalti mulai tahun depan.

Hal ini memberikan insentif kepada produsen perangkat agar bisa menggunakan teknologi ini di produknya.

Sekadar diketahui, Thunderbolt 3 milik Intel ini menggunakan USB Type C untuk menghubungkan perangkat ke komputer dan periferal lainnya.

Jika selama ini hard disk eksternal, keyboard, tetikus (mouse), atau printer dihubungkan dengan kabel USB, kini bisa saja semuanya itu dihubungkan menggunakan USB Type C.

USB Type C juga mengawarkan beberapa manfaat lebih dibandingkan USB yang kini dipakai secara standard, salah satunya adalah proses transfer yang lebih cepat.

Misalnya transfer data melalui USB dengan kecepatan 10Gbps. Sementara Tunderbolt 3 dan USB Type C memungkinkan transfer data dengan kecepatan 40Gb atau 4 kali lebih cepat.

Dengan adopsi Thunderbolt 3 dan USB C, kita bisa memakai kabel USB C untuk menghubungkan perangkat seperti monitor dan HDMI dengan USB C.

Keunggulan lainnya, jack USB C bisa dimasukkan tanpa harus takut terbalik, berbeda dengan USB yang hanya dapat dihubungkan dalam satu arah.

Mengganti standar USB menjadi Thunderbolt 3 dan USB C mungkin butuh waktu lama. Pengguna yang menggunakan laptop lama (dengan standar USB) juga perlu adaptor untuk menghubungkannya dengan USB C, sehingga mereka harus membeli aksesoris baru.

Sementara itu, Microsoft dilaporkan siap merilis pembaruan untuk Windows 10 pada akhir Mei 2019. Sebelum digulirkan, perusahaan sudah lebih dulu menggulirkannya untuk para beta tester.

Dalam update ini, Microsoft sebenarnya tidak banyak membawa perubahan, terutama dari sisi fitur. Namun, Microsoft menghadirkan pengaturan yang sudah lama ditunggu pengguna, yakni mengontrol update yang diterima.

Jadi, dalam update Mei  ini, pengguna Windows 10 diberi kontrol untuk mengatur pembaruan yang ingin dipasang ke perangkatnya.

Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi pengguna Windows 10 yang merasa Microsoft terlalu memaksa mereka mengunduh update saat dirilis.

Melalui pembaruan ini, pengguna akan dimungkinkan untuk memilih kapan mereka ingin memasang update yang dirilis Microsoft. Kendati demikian, pengguna masih akan menerima update keamanan bulanan.

Tidak hanya itu, Microsoft juga memungkinkan pengguna Windows 10 Home dan Pro menghentikan sementara update fitur dan bulanan hingga 35 hari.

Perusahaan juga memperkenalkan fitur otomatis bernama intelligent active hours yang dapat mendeteksi saat PC sedang digunakan, sehingga pemasangan update ditunda dan tidak mengganggu pengguna.

Keputusan Microsoft untuk menghadirkan pembaruan ini jelas menjadi bukti perusahaan mendengar keluhan pengguna. Meski pembaruan itu tidak dihindari, setidaknya pengguna tidak lagi dipaksa untuk mengunduh dan memasangnya.

Selain kehadiran fitur ini, Microsoft juga disebut akan menghadirkan tema yang lebih simpel untuk Windows 10. Beberapa fitur lain yang kabarnya juga akan hadir adalah dukungan Kaomoji, Windows Sandbox, dan pemisahan antara Cortana dengan Windows Search.

Awal tahun ini, Windows 10 juga berhasil mencatat hasil penting. Sebab, Windows 10 berhasil menjadi sistem operasi PC paling populer di dunia saat ini.

Sistem operasi tersebut akhirnya berhasil mengalahkan pendahulunya Windows 7.

Informasi ini diketahui dari laporan Net Applications pada Desember 2018. Kini, Windows 10 berhasil menguasai pangsa pasar

Dalam laporan tersebut itu disebutkan capaian Windows 10 berhasil diraih dalam waktu tiga setengah tahun. Selain itu, laporan ini sekaligus menandakan Windows 7 masih menjadi sistem operasi paling populer, meski sudah berusia 10 tahun.

Pencapaian ini juga penting bagi Microsoft mengingat perusahaan masih berupaya untuk mendorong pemakaian Windows 10, utamanya untuk pelaku bisnis.

Sekadar informasi, Microsoft sebelumnya memiliki ambisi bahwa Windows 10 akan berjalan di satu miliar perangkat dalam waktu tiga tahun setelah rilis. Adapun sistem operasi itu pertama kali rilis

Namun, ambisi tersebut sedikit melunak mengingat Windows 10 Mobile ternyata tidak menuai respon positif, sehingga sulit untuk mencapainya.

Kini, Windows 10 sendiri sudah berjalan di 700 juta perangkat, termasuk PC, tablet, hingga Xbox One.

Komentar