Blood dan Super “moon” Akhir September

Penulis: Darmansyah

Jumat, 4 September 2015 | 17:20 WIB

Dibaca: 0 kali

Banyak orang yang berdebar menanti “bulan super” atau “supermoon” yang akan berlangsung pada akhir September ini.

NASA, badan antaraiksa Amerika Serikat, Jumat, 04 September 2015, telah menginfirmasikan kedatangan “supermoon” di akhir September ini setelah muncul banyak pertanyaan kapan peristiwa akan berkunjung.

Supermoon banyak dinantikan karena banyak misteri yang belum terungkap dari peristiwa alam itu yang ndiyakini memiliki hubungan dengan kehidupan manusia di Bumi.

Memang tak semua masyarakat Bumi yang mengenal istilah supermoon atau bulan super.

Badan antariksa Amerika Serikat mengatakan di penghujung bulan September akan terjadi kombinasi astronomi langka, yaitu gerhana bulan supermoon.

Fenomena supermoon atau bulan super menurut NASA adalah keadaan bulan penuh saat bulan berada di posisi terdekatnya dengan Bumi, sehingga membuatnya terlihat lebih besar dan terang dari biasanya.

Penjelasan tersebut baru melingkupi supermoon. Sementara gerhana bulan terjadi ketika Bulan sejajar dengan Bumi dan Matahari sehingga cahaya Matahari tak bisa mencapai Bulan karena terhalang Bumi.

Gerhana bulan total pun bisa menimbulkan efek “blood moon” atau Bulan berdarah.

Bulan ‘berdarah’ ini bisa terjadi saat bayang Bumi mulai merayap di cakra lunar, kemudian Bulan ‘ditelan’ oleh sinar sehingga ada perubahan warna dari jingga terang menjadi merah merona.

Nah, fenomena gabungan antara supermoon dengan gerhana Bulan yang terjadi secara bersamaan ini bisa Anda disaksikan pada 27 September 2015 mendatang.

Kejadian ini berlangsung hanya lima kali sejak 1910. Setelah itu terjadi di tahun 1928, 1946, 1964, dan 1982.

Tak seperti gerhana Matahari yang berpotensi menimbulkan bahaya apabila dilihat dengan mata telanjang, gerhana bulan dipastikan oleh para pakar sangat aman untuk disaksikan tanpa bantuan optik.

Mengutip CBS News, NASA menyatakan gerhana bulan supermoon bisa dinikmati dari Amerika Utara dan Selatan, sementara kawasan Eropa dan Afrika bisa menyaksikannya pada pagi hari esok harinya, 28 September.

Fenomena langka ini diperkirakan akan terjadi lagi pada tahun 2033.

Pristiwa Blood Moon memang cukup menarik. Saat itu bulan terlihat tidak biasa, besar dan merah. Ini bukan hal aneh, karena bisa dijelaskan secara ilmiah.

Menurut LiveScience, sinar matahari yang harusnya menyoroti bulan sebagian besarnya terhalang oleh Bumi. Nah, sinar yang berhasil lolos menembus atmosfer kemudian sampai ke bulan.

Sinar yang telah dibiaskan oleh atmosfer itu kemudian membuat bulan terlihat ‘berdarah’.

“Pada saat puncak gerhana bulan, cahaya matahari tidak semua terhalang oleh bumi. Cahaya tersebut diteruskan ke bulan sepanjang gelombang merah,” jelas Rukman, seorang ahli astronomi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Sementara atmosfer Bumi bagaikan alat filter. Inilah yang menyingkirkan sebagian besar cahaya biru pada permukaan bulan, dan membiarkan sinar merah dan jingga yang mewarnai permukaan.

Oleh karena itu, rona merah bulan tersebut berasal dari sinar langsung cahaya yang disaring melalui atmosfer Bumi.

“Efek ini sama seperti senja, pada saat matahari terbenam,” sambung Rukman.

NASA berpendapat, Bulan akan berubah tingkat warnanya selama di tahapan yang berbeda pada saat gerhana. Mulai dari abu-abu, jingga, dan kuning sawo.

Tingkat kecerahan dari warna bulan juga dapat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer. Contohnya, abu dari kebakaran besar atau letusan gunung berapi, dapat menimbulkan warna merah gelap pada bulan.
Pristiwa Blood Moon memang cukup menarik. Saat itu bulan terlihat tidak biasa, besar dan merah. Ini bukan hal aneh, karena bisa dijelaskan secara ilmiah.

Menurut LiveScience, sinar matahari yang harusnya menyoroti bulan sebagian besarnya terhalang oleh Bumi. Nah, sinar yang berhasil lolos menembus atmosfer kemudian sampai ke bulan.

Sinar yang telah dibiaskan oleh atmosfer itu kemudian membuat bulan terlihat ‘berdarah’.

“Pada saat puncak gerhana bulan, cahaya matahari tidak semua terhalang oleh bumi. Cahaya tersebut diteruskan ke bulan sepanjang gelombang merah,” jelas Rukman, seorang ahli astronomi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Sementara atmosfer Bumi bagaikan alat filter. Inilah yang menyingkirkan sebagian besar cahaya biru pada permukaan bulan, dan membiarkan sinar merah dan jingga yang mewarnai permukaan.

Oleh karena itu, rona merah bulan tersebut berasal dari sinar langsung cahaya yang disaring melalui atmosfer Bumi.

“Efek ini sama seperti senja, pada saat matahari terbenam,” sambung Rukman.

NASA berpendapat, Bulan akan berubah tingkat warnanya selama di tahapan yang berbeda pada saat gerhana. Mulai dari abu-abu, jingga, dan kuning sawo.

Tingkat kecerahan dari warna bulan juga dapat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer. Contohnya, abu dari kebakaran besar atau letusan gunung berapi, dapat menimbulkan warna merah gelap pada bulan.

Komentar