close
Nuga Tekno

Bersiaplah, WahtsApp Akan Dijejali Iklan

Anda salah seorang pengguna aplikasi WhatsApp aktif?

Kalau benar, bersiap=siaplah untuk sedikit sock, jengkel dan mengumpat.

Penyebab, dalam waktu dekat, WhatsApp bakal berubah.

Aplikasi pesan instan tersebut akan mulai dijejali berbagai iklan.

Iklan itu sendiri nantinya akan berbentuk pesan broadcast kepada pengguna WhatsApp.

Pihak WhatsApp memberi contoh, bisa saja satu maskapai memberikan informasi penerbangan yang tertunda.

Mungkin saja, satu perusahaan membayar WhatsApp untuk mengirimkan iklan berupa informasi produk baru kepada semua atau sebagian pengguna.

Dengan kata lain, perusahaan pemilik merek kini bisa membayar ke Facebook atau WhatsApp untuk berkomunikasi langsung dengan pengguna WhatsApp.

Misalnya dengan cara mengirimkan reminders, notifikasi pengiriman, hingga pesan-pesan terkait pemasaran.

“Kami ingin menguji fitur ini dalam beberapa bulan ke depan,” tulis WhatsApp dalam blog resminya.

Perubahan itu terkait dengan upaya Facebook untuk memperoleh keuntungan dari WhatsApp, perusahaan yang dulu dibelinya seharga dua puluh dua miliar dollar AS.

Sebagai langkah pertama untuk mewujudkan langkah tersebut, WhatsApp mulai melonggarkan kebijakan privasi yang selama ini melindungi data-data pengguna.

Selanjutnya, WhatsApp akan mulai berbagi data tertentu dari sekitar 1 miliar pengguna aktifnya dengan Facebook untuk mengelola iklan.

Bloomberg, Jumat pagi menulis, WhatsApp sendiri baru saja mengumumkan pembaruan perjanjian pemakaian layanan  melalui blog resmi mereka.

“Hari ini, kami memperbarui perjanjian dan kebijakan privasi kami. Selama empat tahun berjalan, ini adalah pembaruan pertama yang kami lakukan sebagai bagian dari rencana untuk menguji komunikasi antara bisnis dengan para pengguna. Pengujian ini akan dilakukan dalam beberapa bulan mendatang,” tulis pengumuman dalam blog WhatsApp itu.

Kebijakan baru WhatssApp memang bisa membantu mendapatkan uang, tapi di sisi lain bisa juga membuat penggunanya gerah.

Untuk diketahui, setelah WhatsApp dibeli Facebook pada dua tahun silam, founder WhatsApp Jan Koum pernah memohon agar Facebook tidak mengubah kebijakan soal penanganan data pengguna.

Maksud Koum, dia tidak ingin aplikasi pesan instan itu jadi penuh dengan iklan.

Sayangnya, perubahan itu sekarang terjadi. Data pengguna WhatsApp, seperti nomor telepon, sekarang akan disebarkan ke aplikasi atau perusahaan lain milik Facebook.

Data tersebut kemudian akan dipakai sebagai alat untuk mengelola iklan yang muncul saat pengguna membuka Instagram, Facebook, atau sekadar berkirim pesan di WhatsApp.

Kala itu, kekhawatiran pengguna WhatsApp merujuk pada terancamnya keamanan privasi data dan anonimitas yang selama ini dinikmati.

Kecemasan itu dibantah pendiri sekaligus CEO WhatsApp Jan Koum.

Dalam blognya, ia mengatakan, WhatsApp tak menyimpan data-data personal pengguna.

Selain itu, walau diakuisisi Facebook, WhatsApp akan tetap berjalan sebagai layanan mandiri.

Sekitar dua tahun berselang, kecemasan pengguna agaknya bisa mencuat kembali. Hal tersebut dipicu oleh temuan seorang pengembang bernama Javier Santos.

Santos menemukan pengaturan tersembunyi (hidden setting) pada aplikasi WhatsApp versi beta.

Pengaturan tersebut tampaknya bertendensi agar pengguna mau membagi informasi akun WhatsApp ke Facebook.

“Bagi informasi akun WhatsApp dengan Facebook untuk meningkatkan pengalaman di Facebook,” begitu bunyi pengaturan.

Kendati begitu, pengaturan bersifat opsional. Jika pengguna tak mau membagi informasi akun WhatsApp, biarkan kotak tak tercentang.

Jika pengguna ingin mendapat pengalaman Facebook yang lebih mumpuni seperti yang dijanjikan, pengguna bisa mencentang kotak yang tersedia.

Sekali lagi, pengaturan tersembunyi itu baru tersedia pada versi beta WhatsApp. Ke depan, belum jelas apakah pengaturan itu akan menjadi pembaruan komersial, atau masih akan diubah konsep, atau sama sekali dihilangkan.

Aplikasi pesan instan WhatsApp sebentar lagi akan gratis sepenuhnya. Sebagai gantinya, perusahaan menyusun strategi monetize baru yang ditujukan untuk pengguna tingkat perusahaan.

Selama ini, WhatsApp memang hanya gratis untuk satu tahun pertama. Setelah masa tersebut habis, maka pengguna mesti memperpanjang masa pakai dengan membayar Rp 12.000 per tahun.

Pada Senin (18/1/2016), dalam konferensi Digital-Life-Design (DLD) di Munich, Jerman, Chief Executive Officer WhatsApp Jan Koum mengumumkan rencana menggratiskan aplikasi tersebut dan mulai menguji sejumlah layanan komersial baru.

“Kami akan berhenti meminta biaya berlangganan sebesar Rp 12.000. Saat ini, kami belum memasukkan kode apa pun untuk mewujudkannya, tetapi kami ingin memastikan bahwa orang-orang paham rencana tersebut tak terkait dengan menampilkan iklan di dalam WhatsApp,” ujarnya.

Jumlah pengguna aplikasi pesan instan ini sudah mendekati satu miliar orang.

Koum memang mengatakan, rencana masa depan WhatsApp tidak terkait dengan iklan. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa jumlah pengguna sebanyak itu merupakan lahan garapan yang menarik bagi para pengiklan digital.

Di sisi lain, sulit untuk mengukur jumlah pemasukan WhatsApp dari biaya berlangganan per tahun

Lagi pula, hingga saat ini masih ada saja orang yang masih bisa menggunakan WhatsApp meski tidak membayar sepeser pun.

Informasi mengenai biaya WhatsApp untuk rencana layanan komersial businesstoconsumer pun belum jelas. Koum hanya mengatakan, langkah itu akan mulai diuji coba pada tahun ini.

“Kami akan menguji alat yang membuat Anda bisa memakai WhatsApp sebagai sarana komunikasi dengan bisnis dan organisasi yang diinginkan,” ujarnya.

“Kami ingin membangun sesuatu yang lebih terpakai, yang membuat perusahaan, seperti American Airlines atau Bank of America, berkomunikasi dengan lebih efisien melalui aplikasi pesan instan,” imbuh Koum.