Berita “Hoax?” Laporkan Saja

Penulis: Darmansyah

Rabu, 30 November 2016 | 08:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pasti tahu “hoax.”

Sebuah sebutan yang kini men”dunia” sebagai umpatan terhadap berita palsu.

“Hoax”  menjadi topik pemberitaan dalam beberapa pekan terakhir, terutama untuk kasus-kasus menarik dan diminati orang banyak

Di aplikasi  seperti  Facebook, Google, dan Twitter – yang masing-masing platform memiliki sistem tersendiri, pengguna bisa  melaporkan berita palsu dibanding  platform yang lain karena  tak memiliki sistem itu.

Dan sebelum Anda melaporkan berita palsu itu, Anda harus terlebih dahulu bertanya pada diri Anda: apakah saya yakin berita ini palsu atau hoax?

Apakah berita itu sudah dilaporkan juga oleh sumber berita yang lain?

Apakah bukti-buktinya meyakinkan?

Itulah pertanyaan mendasar yang menyertai pengaduan Anda terhadap “hoax”

Jika Anda yakin, inilah caranya  bagaimana  melaporkan berita palsu itu

Ambil contoh sebuah unggahan tentang pemilu Amerika Serikat.

“Tim kampanye Hillary Clinton membayar ‘aktor profesional’ untuk melakukan protes dalam aksi unjuk rasa Trump,” begitu tulisnya. Tampak meyakinkan, apalagi jika diunggah oleh kerabat atau teman Anda.

Jika Anda tidak yakin dengan berita ini, klik tanda panah ke bawah yang ada di sebelah kanan atas terlihat di lingkaran merah dan pilih “report post” atau jika Anda dalam pengaturan berbahasa Indonesia, Anda bisa pilih ‘laporkan kiriman’.

Setelah itu Anda akan ditanya, “Apa yang terjadi?”

Di sini, Anda diminta memilih alasan mengapa Anda melaporkan unggahan itu. Jawaban terbaik, adalah yang kedua yaitu, “menurut saya ini tidak seharusnya ada di Facebook.”

Jelaskan lebih rinci dalam jendela selanjutnya. Pilihlah opsi, “ini adalah kabar berita salah” atau dalam bahasa Inggris pilihlah, “It’s a false news story.”

Satu hal lagi, kami merekomendasikan Anda melakukan semua opsi ini. Blokir, sembunyikan semua unggahan dari akun tersebut, dan berbagai opsi lainnya.

Jika Anda melihat berita yang mencurigakan di Facebook dan WhatsApp, ke mana biasanya Anda melakukan pengecekan?

Ya, kebanyakan orang menjawab Google!

Kepala eksekutif Google Sundar Pichai mengatakan ‘berita palsu’ tidak boleh didistribusikan, dan kami setuju.

Bayangkan apa yang kami rasakan ketika mencari berita tentang ‘pengunjuk rasa bayaran’ atau ‘paid protesters’ di Google… dan menemukan salah satu tautannya.

Ini adalah situs yang sama yang berpura-pura menjadi ABC News, yang kami tampilkan di atas.

Jika Anda ingin memberi tahu Google, Anda harus pergi ke paling bawah laman dan mengklik ‘feedback’.

Beri keterangan yang jelas dan masukan tautan yang Anda laporkan.

Misalnya, tulis bahwa, “Hasil pencarian paling atas adalah situs berita palsu dan isinya tidak benar.”

Jangan lupa melakukan ‘screenshot’ dan mereka bahkan meminta Anda menunjukan mana kalimat-kalimat yang tidak benar.

Selain itu aplikasi Twitter cukup aktif mengatasi ujaran kebencian dan ancaman dalam situs mikro-blog mereka, tapi alat untuk melaporakan ‘berita palsu’ tampaknya terbatas.

Anda harus mengklik simbol tiga titik di bawah kanan dan pilih ‘report tweet’ atau ‘laporkan kicauan’.

Melihat opsinya, memang tak ada yang cocok.

Menyebutnya sebagai spam tidak cocok. Berita palsu memang berbahaya, tetapi tampak tak tepat untuk memilih opsi ketiga.

Klik simbol tiga titik di kanan atas tiap unggahan di Instagram dan klik ‘report’ atau ‘laporkan’ kemudian pilih ‘Ini tidak pantas’ atau ‘inappropriate’.

Tidak ada opsi yang langsung menyatakan ‘ini berita palsu’. Jadi lebih baik pilih untuk melaporkannya sebagai ‘spam’.

Facebook yang  disebut-sebut berperan dalam memenangkan Donald Trump pada Pemilihan Umum Presiden, memiliki satu  algoritma pada News Feed Facebook  yang dikatakan secara tak langsung membantu menaikkan pamor Trump.

Pasalnya, algoritma News Feed berusaha menemukan artikel yang memiliki interaksi tinggi, menyodorkannya, tanpa peduli berita itu benar atau keliru.

Menanggapi ramainya tuduhan ke Facebook, CEO Mark Zuckerberg menegaskan, “Kami tak mau ada berita hoax di Facebook. Tujuan kami adalah memberikan konten berita yang bermakna dan akurat

Masalahnya, sebuah hasil studi menunjukkan berita hoax lebih cepat menyebar di internet. Ketika ada klarifikasi atau follow up bahwa berita itu tak benar, warga maya sudah terlanjur percaya pada berita awal. Gaung beritanya pun tak segencar berita hoax yang lebih dahulu viral.

Sebab, rata-rata berita klarifikasi tak se-viral berita pertama yang akurasinya kurang. Hal ini disadari Zuckerberg.

Ia sesumbar Facebook telah berupaya mengikis berita hoax dengan fitur flag dan berjanji akan meningkatkan kinerja layanan.

“Kami telah merilis fitur flag yang memungkinkan pengguna melaporkan berita palsu atau hoax. Masih banyak upaya kami ke depan. Setidaknya kami terus berprogres dan akan selalu meningkatkan layanan,” ia menuturkan.

“Saya yakin kami akan menemukan banyak cara untuk memberikan konten kredibel. Tapi saya juga percaya yang terpenting kita semua harus berhati-hati menyaring informasi untuk diri kita sendiri,” ia menjelaskan.

Associate profesor di University of North Carolina, Zeynep Tufekci mengatakan, ada berita hoax tentang Trump yang jadi viral di News Feed. Berita tersebut menguntungkan Trump sebagai kandidat yang kala itu sedang berkampanye.

“Ada sebuah cerita fiktif yang mengklaim Paus Fransiskus mendukung Trump. Cerita itu dibagikan lebih dari sejuta kali, dan diprediksi dilihat oleh lebih dari sepuluh juta orang,” kata Zeynep.

Komentar