close
Nuga Tekno

Awas, “Kegilaan” Selfi Bisa Jadi Narsis

Anda lelaki paruh baya?

Suka selfie?

Wah gawat!

Anda membenarkan hasil riset selama ini sebagai “manusia” yang menghabiskan waktu berselfie ria.

Ada lagi kegawatan lain. Anda juga distempel sebagai psikopat.

Masa iya?

Paling tidak itulah sebuah penelitian di Ohio University mengklaim Anda pasti seorang narsis.

Ditambahkan lagi kemungkinan Anda memiliki gangguan jiwa.

Penelitian itu dilakukan universitas Ohio, dan setidaknya ada delapan ratus laki-laki yang dipelajari untuk mengetahui seperti apa kepribadian para kaum Adam yang suka foto diri.

“Temuan paling menarik dari penelitian ini adalah, merekayang terbukti suka selfie memiliki kepribadian anti sosial, psikopat, dan rentan terhadap objektivitas dire,” kata Jesse Fox, pemimpin riset tersebut sekaligus asisten profesor komunikasi di Universitas Ohio.

Namun Fox menegaskan, tak semua laki-laki yang suka selfie adalah psikopat, melainkan hanya mereka yang terlalu sering dan menghabiskan banyak waktu untuk mengedit foto selfie.
Lalu bagaimana dengan wanita?

Fox menilai hasilnya kurang lebih sama.

Mereka yang terlalu sering selfie dianggap punya sedikit gangguan terhadap kejiwaan.

Tapi tak semua orang setuju dengan pendapat ini.

Pendekatan teori psikoanalasis Sigmund Freud menyebutkan bahwa manusia sehat harus mampu menghargai dirinya sendiri,.

Selfie yang sudah masuk pada tahap gangguan, manakala perilaku tersebut telah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.

Pendidikan terganggu, pekerjaan terganggu, setiap kehidupan akan terganggu. Dia tidak lagi nafsu makan, hanya nafsu memfoto dirinya.

Namun, dalam ilmu psikologi pun ada takaran untuk terjadinya gangguan kejiwaan. Dengan kata lain, tidak bisa disebut sembarangan.

Takaran tersebut melewati batas normal sampai mengganggu fungsi sehari-hari dan membuat orang tersebut mengalami distres.

Kehadiran ponsel pintar yang dilengkapi kamera depan menjadi salah satu pendongkrak maraknya fenomena selfie.

Selfie pun kemudian identik dengan kaum perempuan. Nyatanya hal tersebut tak sepenuhnya benar.

Sebuah instrumen bernama Selfiexploratory di dalam situs selfiecity.net yang dirancang oleh tim pengembang, mampu menganalisis tren selfie dari berbagai negara melalui publikasi Instagram.

Dari instrumen tersebut, para analis mengamati ribuan foto publik, foto selfie kaum perempuan sejatinya mendominasi di sejumlah kota besar seperti New York, Berlin, Moskow, Bangkok, dan Sao Paulo.

Khusus di Moskow, Rusia di sana tren selfie dibanjiri oleh kalangan anak muda perempuan.

Tercatat sekitar delapan puluh persen selfie adalah foto perempuan di Moskow, angka yang besar dibanding Bangkok yang hanya lima puluh lima persen.

Hal menarik justru menunjukan bahwa mempublikasikan foto selfie di atas usia empat puluh tahun dianggap sebagai hal tabu secara global.

Nah, nyatanya kaum lelaki usia di atas tiga puluhan lah yang mendominasi foto selfie dibanding perempuan.

Mengutip situs The Next Web, tim analis kemudian membandingkan hasil riset tersebut dengan Orbeus ReKognition API agar bisa mendeteksi gaya dan pengambilan angle foto.

Kebanyakan di antaranya berpose dengan mulut tertutup — tanpa senyum memamerkan gigi, namun tidak menutup kedua mata — dan menunjukan suasana bahagia.

Sebuah riset dari Inggris baru-baru ini menunjukan perempuan menghabiskan waktu lima jam dalam seminggu untuk berfoto diri sendiri atau yang lebih sering disebut dengan istilah selfie.

Tren berfoto selfie sudah mendunia. Seiring berkembangnya kualitas kamera pada ponsel pintar ditambah berbagai aplikasi yang mendukung, fenomena selfie semakin tak terbendung.

Riset tersebut dilakukan terhadap sekitar 2.000 perempuan yang disponsori oleh situs FeelUnique.com.

Hasil survei itu memaparkan, para perempuan muda melakukan sekitar tiga selfie dalam sehari di mana satu foto selfie membutuhkan waktu sekitar enam belas menit.

Kalkukasi tersebut sudah termasuk akhir pekan.

Kegiatan selfie yang dilakukan oleh para responden juga sudah termasuk hasil jepretan yang menggunakan monopod yang dikenal dengan sebutan selfie stick atau tongsis.

Mengutip situs CNET, faktor utama dari waktu yang terbilang lama hanya untuk sebuah selfie adalah perihal riasan wajah, sudut pengambilan foto atau angle kamera, serta pencahayaan.

Kebanyakan di antara mereka tidak bisa asal selfie tanpa faktor ‘penting’ tersebut, terlebih soal penataan cahaya yang baik.

Malah, sebanyak tiga puluh persen responden mengaku alasan mereka melakukan selfie adalah sebagai upaya untuk menarik perhatian para lawan jenis, yakni kaum lelaki.

Fenomena selfie sebetulnya membuat heboh dunia sejak 2013.

Pada November lalu, majalah TIME menyebut tongsis sebagai salah satu dari dua puluh lima temuan terbaik di tahun 2014.

TIME menyebut selfie stick telah membantu banyak pengguna ponsel, salah satunya untuk mengakomodir tren penggunaan ponsel kamera yang sedang digandrungi dua tahun terakhir.

Tags : slide