close
Nuga Tekno

Ada “Freak” di “Browser” Apple dan Google

Dua “browser” milik raksasa teknologi informasi global. “safari” Apple dan android Google, bukan “chrome,” memiliki celah keamanan yang disebut “freak” atau “Factoring attack on RSA-EXPORT Keys,” yang memungkinkan peretas memata-matai komunikasi pengguna saat mengunjungi ribuan situs melalui browser tersebut.

Sebuah tim peneliti keamanan cyber mengungkap telah terjadi kelemahan teknologi enkripsi pada browser Safari milik Apple dan browser Android Google.

Beberapa situs yang terpengaruh oleh kelemahan ini termasuk situs-situs pemerintah Amerika Serikat seperti Whitehouse.gov, NSA.gov, dan FBI.gov.

Dilansir oleh media terkenal “Recode,” Apple dan Google telah menerima laporan ihwal kelemahan keamanannya, dan bakal segera mempersiapkan perbaikan untuk menangkal kelemahan tersebut.

Juru bicara Apple , Ryan James, mengatakan, raksasa teknologi tersebut telah mengembangkan pembaruan perangkat lunak untuk memulihkan kerentanan yang ditemukan.

Disinyalir, perbaikan ini akan segera diluncurkan pekan depan.

Berbarengan dengan itu, juru bicara Google Liz Markman juga menyebut perusahaannya tengah mengembangkan perbaikan untuk masalah ini.

Namun, belum pasti kapan pengguna akan menerima pemutakhiran untuk keamanan yang lebih kokoh.

Yang jelas, perbaikan kelemahan pada browser Android, kata Markman bakal melibatkan kerjasama dengan pembuat perangkat dan operator seluler.

Demi keamanan pengguna, Markman juga mengimbau semua situs agar menonaktifkan sementara dukungan untuk sistem enkripsi yang rentan terhadap kelemahan keamanan ini.

Sebabnya, jika situs menggunakan standar enkripsi lemah, peretas akan mampu memecahkan enkripsi dalam beberapa jam.

Kemudian, peretas dapat mencuri data dan melancarkan serangan pada situs-situs itu.

Markman juga menegaskan, pada dasarnya tak semua situs rentan dengan FREAK. “Koneksi Android untuk sebagian besar situs, termasuk situs Google, tidak terpengaruh oleh kerentanan ini,” kata dia.

“Hampir semua hal yang berkaitan dengan internet tak bisa dilakukan dengan baik oleh Apple,” tulis seorang teknisi bernama Patrick B Gibson dalam sebuah posting blog di Tumblr.

Gibson yang kini bekerja di Tilde.inc adalah mantan pegawai Apple yang terlibat dalam proyek penciptaan iPad.

Menurut dia, layanan-layanan berbasis web milik Apple berkembang lebih lambat ketimbang Google—pemilik platform Android yang menjadi rival berat Apple di industri mobile—dalam hal desain.

Menyebut dirinya sebagai “pengguna lama Mac dan fans berat Apple”, sang teknisi mengatakan bahwa segala hal tentang internet yang disentuh oleh Apple menjadi berantakan. iCloud, MobileMe, dan Mac, menurutnya, tak berfungsi optimal.

Di samping masalah sinkronisasi, Gibson mengatakan bahwa Apple masih memiliki sejumlah masalah tambahan yang berhubungan dengan internet.

Satu-satunya hal bagus soal Apple dan internet, lanjut Gibson, adalah bahwa perusahaan itu punya tim web browser yang baik.

Gibson membandingkan kualitas layanan dari Apple dengan Google, khususnya Android, yang dia sebut “terus mengalami peningkatan menyeluruh” dan “bekerja dengan baik”.

Lebih lanjut, Gibson mengatakan bahwa, meskipun tampilannya dalam beberapa layanan “tak segemerlap Apple”, peningkatan yang diterapkan pada Android telah membuatnya menjadi ancaman serius bagi iOS.

Tulisan Gibson berkisar soal sarannya pada Apple untuk membeli situs jejaring sosial Twitter. Alasannya, Apple membutuhkan talenta dan ilmu-ilmu baru dari layanan populer itu.

“Twitter unggul di area kelemahan Apple. Mereka menciptakan dan memakai sejumlah teknologi web paling canggih.”

“Mereka juga tahu bagaimana caranya mengirim ratusan ribu tweet tiap menit. Lebih jauh lagi, Twitter adalah jejaring sosial yang memiliki prinsip sama dengan Apple: fokus dan simple.”

Masalah utama Apple, kata Gibson, adalah ketidakmampuan untuk merekrut dan menjaga teknisi web berbakat agar tetap bekerja di perusahaan itu. Sebabnya, Apple terlalu memfokuskan diri pada gadget dan produk.

Kalau tidak sekarang, ujarnya, Apple mungkin tidak akan bisa membeli Twitter di lain waktu.
Semakin lama Twitter tumbuh semakin besar, dan kemungkinan perusahaan itu untuk melempar sahamnya ke bursa semakin besar pula. Apple tentunya tak mau membayar mahal untuk Twitter.

Twitter sendiri dikatakan sedang terancam kehilangan tim teknisinya seiring dengan bergesernya fokus situs itu sebagai perusahaan media.

Gibson menutup tulisannya dengan mengatakan bahwa akuisisi Apple terhadap Twitter mungkin tak akan pernah terjadi.

“Penyangkalan Apple soal pendekatan kunonya pada internet mungkin terlalu dalam untuk membuatnya mau membelanjakan uang.”

Sumber: Recode