Amazon Web Service Tumbang

Penulis: Darmansyah

Rabu, 1 Maret 2017 | 15:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Situs Amazon Web Service  atau dikenal dengan AWS kemarin mendadak “tumbang” atau dikenal dengan offline dan menimbulkan kepanikan penggunanya.

AWS, seperti diketahui, adalah penyedia layanan cloud storage sebagai tulang punggung internet yang banyak digunakan oleh aneka layanan populer, termasuk Netflix, Spotify, Pinterest, dan situs berita Buzzfeed.

Akibat “rubuh”nya AWS ini layanan-layanan yang didukungnya itu juga  ikut tumbang

Kejadian yang berlangsung selama lebih kurang empat jam ini utamanya menimpa sistem Simple Storage Service  yang seringkali digunakan oleh para pelanggan AWS untuk menyimpan file gambar.

Walhasil, layanan online seperti situs web milik para pelanggan AWS tersebut dilaporkan bermasalah dan tidak bisa menampilkan gambar

Seperti ditulis  USA Today, hari ini,  Rabu, 01 Maret 2017, editor-in-chief The Verge, Nilay Patel, sempat mengeluhkan  di Twitter bahwa artitel di situsnya tayang tanpa gambar karena situs berita teknologi tersebut mengandalkan AWS.

Beberapa layanan online lain seperti Trello, Quora, IFTTT, dan Nest malah tumbang sama sekali.

Menurut data dari firma riset SimilarTech, sistem S3 AWS dipakai oleh lebih dari 140.000 situs online. “Ada tiga hingga empat triliun kepingan data di dalamnya,” ujar analis cloud Forrester, Dave Bartoletti.

AWS baru kembali pulih spade sore harinya menurut  waktu timur Amerika Serikat.

Keterangan di situs AWS kini menyebutkan bahwa semua sistem sudah berjalan normal.

Amazon Web Services merupakan salah satu pusat data terbesar di dunia.

Beberapa waktu lalu mereka  menambah data center atau disebut “AWS Infrastructure Region” di lima kawasan, yakni India, Korea Selatan, China, Inggris, dan Amerika Serikat.

Dengan begitu, tahun ini ada total tujuh belas pusat data AWS di seluruh dunia.

Tujuh di antaranya berdiri di kawasan Asia.

Sebab, Asia dianggap sebagai salah satu kawasan dengan ekosistem bisnis berbasis teknologi paling progresif saat ini. Utamanya di India, China, dan Indonesia.

“Saya melihat masyarakat Indonesia punya budaya berbisnis yang unik dan menyeluruh. Mulai dari usaha kecil, menengah, hingga atas,” kata CTO Amazon.com Werner Vogels

Dengan ditambahkannya pusat data di kawasan Asia, AWS berharap dapat menyediakan layanan yang lebih mumpuni untuk pengembangan dan inovasi bisnis berbasis digital.

Diketahui, AWS Infrastructure Region adalah lokasi geografis di mana AWS memiliki titik-titik kluster untuk menyematkan datacenter-nya.

Hal ini memudahkan pengembang untuk memilih penggunaan datacenter yang paling dekat dengan lokasinya.

Pusat data terdiri dari beragam server. Pada sistem cloud AWS, server diklaim tak akan tumbang karena diprogram dengan teknologi “self-healing”.

Maksudnya, server bisa memperbaiki kerusakan secara otomatis. Dalam waktu perbaikan tersebut, situs atau layanan maya perusahaan akan dialihkan ke server lain untuk sementara.

Misalnya sebuah perusahaan memilih dua server di Singapura sebagai penyokong utama dan dua server di Tokyo sebagai penyokong cadangan.

Saat server di Singapura down, situs perusahaan akan langsung beralih ke server di Tokyo.

Pada saat bersamaan server di Singapura akan memperbaiki dirinya sendiri dan mendatangkan “bala bantuan” dari server lain yang sama-sama berbasis Singapura.

Hanya dalam hitungan detik, situs perusahaan akan kembali menggunakan server utamanya.

Semua sistem otomatis ini diatur melalui konfigurasi cloud yang canggih.

Maka, saat ada server yang rusak atau overload, pengunjung situs atau pengguna aplikasi tak akan “ngeh”.

Komentar