close
Nuga Tekno

Adobe Flash Akan Punah Tiga Tahun Lagi

Adobe Flash  akan dipensiunkan tiga tahun mendatang. Atau tepatnya tahun 2020.

Rencana pensiun Flash ini  diumumkan sendiri oleh Adobe sebagai pemiliknya, awal pekan ini.

“Ya, Adobe Flash akan pensiun tiga tahun mendatang,” tulis Adobe dalam rilis terbarunya Kamis, 27 Juli.

Untuk diketahui, eksistensi Flash sebagai  aneka konten multimedia telah dua puluh tahun mengunjungi pengguna internet

Dan setelah waktu yang ditentukan, Adobe akan menyetop update Flash, sementara dukungan terhadap platform multimedia itu akan dihentikan oleh peramban-peramban web.

Bersama dengan pengumuman Adobe, Apple, Microsoft, Google, dan Mozilla mengatakan akan menurunkan dukungan terhadap Flash secara berangsur dalam waktu tiga tahun ke depan.

Perusahaan-perusahaan yang masih mengandalkan Flash diimbau agar beralih ke alternatif yang lebih modern, seperti HTML5.

Diciptakan lebih dari dua puluh tahun lalu, Flash dulu merupakan pilihan utama bagi developer web untuk membuat aneka konten multimedia, mulai dari game, video player, hingga aplikasi yang bisa berjalan di berbagai browser.

Ketika Adobe mengakuisisi Flash dari Macromedia pada dua belas tahun silam, Flash terpasang di sembilan puluh delapan persen PC yang terkoneksi ke internet.

“Hanya ada sedikit teknologi yang punya dampak besar dan positif di era internet,” ujar Vice President Product Development Adobe Creative Cloud, Govind Balakrishnan, sebagaimana dirangkum  dari Reuters

Popularitas Flash mulai menurun saat Apple memutuskan untuk tidak mendukung platform tersebut pada iPhone.

Flash memang tak populer di mobile lantaran haus daya dan memboroskan baterai.

Flash juga kerap mengandung celah keamanan berbahaya yang bisa dimanfaatkan oleh hacker untuk menyerang komputer.

Beberapa tahun terakhir, sejumlah browser memilih untuk tidak menjalankan konten flash secara default, tapi lebih dulu mengharuskan pengguna mengaktifannya secara manual.

Angka penggunaan Flash belakangan telah berangsur menurun.

Tiga tahun silam, delapan puluh  persen pengguna browser Chrome di deskop menggunakan Flash setiap hari. Angka tersebut telah menurun hingga kini hanya sekitar tujuh belas persen.

“Tren ini mengungkapkan bahwa situs-situs bermigrasi ke teknologi open web yang lebih cepat dan lebih efisien daya dibanding Flash, selain lebih aman,” sebut Google dalam sebuah pernyataan.

Meski demikian, sejumlah game online masih mengandalkan Flash.

Adobe mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Facebook dan developer game seperti Unity Technologies dan Epic Games untuk bantu memigrasikan aneka game mereka ke platform lain di luar Flash.

Sebelumnya, desakan agar Adobe “memensiunkan” teknologi Flash-nya memang telah berkembang.

Adalah Facebook dan Mozilla yang mulai memboikot teknologi Flash dari layanannya.

Namun, jauh sebelum desakan ini muncul kembali, mendiang Steve Jobs saat menjabat sebagai CEO Apple pada tujuh tahun silam sebenarnya sudah menulis surat protes agar Adobe mulai mengembangkan teknologi selain Flash.

Visi Jobs saat itu jelas, teknologi Flash diciptakan untuk era PC dan mouse, sementara tren teknologi saat itu diramalkan oleh Jobs menuju ke arah mobile.

“Pada era mobile, semuanya adalah tentang perangkat berdaya rendah, antarmuka sentuh, dan standar web terbuka, area di mana Flash tertinggal,” demikian tulis Jobs yang hingga kini juga bisa dibaca di situs web Apple.

Standar terbuka baru yang diciptakan pada era mobile, seperti HTML5, diprediksi Jobs akan lebih unggul pada era mobile.

“Adobe harus mulai fokus membuat tools HTML5 yang bagus pada masa depan, bukan malah mengkritik Apple karena meninggalkan Flash,” kata Jobs.

Jobs memiliki alasan tersendiri mengapa Apple memilih untuk tidak menggunakan teknologi buatan Adobe itu ke dalam perangkat dan layanannya.

Menurut Jobs, Flash memiliki andil dalam memengaruhi performa, umur baterai, dan masalah keamanan dalam perangkat-perangkat Apple. Hal ini sempat menimbulkan ketegangan antara Apple dan Adobe

Jobs tidak mau perangkat-perangkat iPhone, iPod, dan iPad-nya mudah bermasalah dan rentan keamanannya karena mendukung Flash..

Walau sudah berkali-kali ditemukan lubang keamanan dan berkali-kali pula Adobe merilis update untuk Flash, hal itu tak bisa mencegah perusahaan-perusahan besar untuk mulai meninggalkan Flash.

Adobe bisa saja beranggapan bahwa browser-browser saat ini tidak bisa lepas dari Flash sebab Adobe mengklaim tujuh puluh lima persen video di situs web itu menggunakan Flash.

Namun, yang tidak diungkap oleh Adobe adalah hampir semua video tersebut tersedia dalam format  yang lebih modern sehingga tetap saja bisa diputar di browser-browser atau perangkat yang tidak mendukung Flash, seperti smartphone Android atau iPhone.

Selain itu, walau Adobe telah mendukung codec  video di situs web yang menggunakan Flash itu masih membutuhkan decoder generasi lama sehingga proses decoding harus dilakukan di software yang memakan banyak daya baterai, alih-alih di hardware.

Karena itulah, YouTube pada Januari lalu mengucapkan selamat tinggal kepada Flash dan beralih ke teknologi yang lebih modern, HTML5.

Di sisi teknologi browser, Apple telah mengembangkan teknologi terbuka yang diberi nama WebKit, mesin render open-source berbasis HTML5 yang lebih komplet dibanding Flash, yang dipakai di browser Safari dan juga diadopsi oleh browser Android dan BlackBerry.

Bahkan, hampir semua browser yang ada saat ini, selain buatan Microsoft, menggunakan WebKit.

Kini, “bola panas” itu dijjawab tuntas oleh  di Adobe.

Tags : slide