Yamaha Berikan Motor Terbaik Buat Rossi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 18 Januari 2018 | 08:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Mantan pebalap MotoGP, Loris Capirossi menyebut Yamaha harus memberikan motor yang kompetitif untuk Valentino Rossi agar bisa bersaing di MotoGP musim ini.

Rossi hanya finis di posisi kelima klasemen akhir MotoGP musim lalu

Posisi tersebut adalah posisi terburuk yang pernah didapat Rossi di atas motor Yamaha.

Namun Capirossi menilai Rossi masih punya potensi untuk tampil bagus dan bertahan di persaingan papan atas.

“Semua tentu berharap Yamaha membantu performa Rossi karena tahun lalu motor hanya kompetitif di awal musim namun kemudian performanya menurun begitu musim berjalan,” kata Capirossi pada Gazzetta TV.

Capirossi sendiri menyadari bahwa kondisi Rossi yang makin tua jadi salah satu rintangan yang harus dihadapi Rossi.

“Semua tahu bahwa Rossi selalu tampil cepat. Bertarung dengan pebalap yang lima belas tahun lebih muda tentunya tak akan akan mudah, namun Rossi selalu punya semangat dan hal itu membuatnya tetap jadi tokoh utama,” ucap Capirossi.

Pada musim lalu, Rossi sempat memimpin klasemen di awal musim. ‘The Doctor’ juga tampil kompetitif hingga akhir paruh pertama.

Namun selepas itu, penampilan Rossi bersama Yamaha terus menurun.

Selain faktor cedera yang membuatnya absen di GP San Marino, performa motor Yamaha yang tak kompetitif di saat hujan juga jadi alasan utama Rossi tak bisa konsisten menampilkan level terbaik dari seri ke seri.

Alhasil, Rossi tertinggal sembilan puluh poin dari Marc Marquez yang jadi juara MotoGP musim lalu.

Selain itu,  Capirossi menyebut sulit bagi para pebalap muda Italia untuk bisa dicap sebagai penerus jejak Valentino Rossi.

Capirossi mengakui bahwa Rossi adalah sosok pebalap yang memiliki dampak besar di dunia MotoGP. Keputusan Rossi untuk pensiun nantinya akan jadi titik sejarah bagi MotoGP.

“Posisi Rossi adalah posisi yang sulit. Tak diragukan lagi dia adalah daya tarik besar untuk dunia balap motor. Situasi akan sulit ketika dirinya memutuskan untuk pensiun,” tutur Capirossi dalam wawancara dengan Gazzetta TV.

Capirossi menyadari Rossi bukan hanya hebat di lintasan balap, namun punya nilai jual tinggi di luar arena. Capirossi juga memuji Rossi yang turut memerhatikan perkembangan pebalap-pebalap muda Italia.

Namun Capirossi menilai belum ada pebalap Italia yang pantas untuk dicap sebagai penerus Rossi.

“Saya harus mengatakan bahwa Italia kini punya banyak pebalap muda dan akademi Rossi membawa banyak talenta yang terus berkembang.”

“Franco Morbidelli yang memenangi titel juara dunia (Moto2) musim lalu (adalah contohnya), namun terlalu dini untuk berpikir mengenai penerus jejak Rossi. Sulit dan tak mudah menemukan karakter seperti yang dimiliki Rossi,” kata Capirossi.

Capirossi yakin, Rossi sendiri masih tampil kompetitif di musim lalu meskipun mengakhiri musim di posisi kelima.

“Valentino Rossi tak perlu membuktikan apapun. Kita semua tahu talenta yang dimilikinya.”

“Pada musim lalu, dia mendapat nasib buruk karena cedera sebelum Mugello (GP Italia) dan masalah yang lebih serius sebelum Misano,” ujar Capirossi. (sr

Lain lagi dengan pernyataan bos Tim Suzuki, Davide Brivio.

Ia menyebut para pebalap muda MotoGP seharusnya mengikuti gairah dan motivasi yang ditunjukkan oleh Valentino Rossi.

Brivio menilai hal-hal yang bisa ditiru dari Rossi bukan hanya sekadar skill dan kemampuan di atas motor milik The Doctor saja. Ada banmyak hal lain yang bisa ditiru, termasuk hasrat dan motivasi milik Rossi.

“Saya selalu mengatakan bahwa Valentino ROssi adalah model yang seharusnya dipelajari oleh para pebalap muda.”

“Saya harap generasi muda melihat apa yang sudah dicapai Rossi dan meniru gairah serta motivasi untuk terus berkompetisi (yang ditunjukkan oleh Rossi,” ungkap Brivio dalam wawancara dengan Crash.

Brivio pun mengaku dirinya tetap terkejut dengan motivasi Rossi meski sudah mengenal ‘The Doctor’ sejak lama.

“Valentino Rossi selalu mengejutkan saya, namun untuk musim lalu hal yang paling mengejutkan adalah motivasi dirinya untuk kembali secepatnya ke lintasan,” ucap Brivio.

Brivio menunjuk contoh insiden Rossi patah kaki jelang lag GP San Marino. Alih-alih memilih absen dan baru kembali ke lintasan pada GP Jepang, Rossi justru sudah berlomba di GP Aragon.

Padahal saat itu peluang Rossi untuk jadi juara dunia sudah sangat kecil lantaran tertinggal cukup jauh dalam perburuan titel juara dunia.

“Setelah karier yang panjang ketika ia sudah memenangkan semuanya, mungkin kalian akan berpikir absen di sebuah seri seharusnya bukan masalah besar.”

“Namun dibandingkan berpikir seperti itu, Rossi bekerja keras untuk bisa kembali secepatnya ke lintasan,” kata Brivio.

 

Komentar