Valentino Rossi Itu Memang Pebalap Hebat

Penulis: Darmansyah

Senin, 11 Desember 2017 | 10:38 WIB

Dibaca: 0 kali

Mantan pebalap MotoGP, Toni Elias menyebut Valentino Rossi sebagai lawan yang paling berat yang pernah dihadapi olehnya.

Elias yang berkiprah di MotoGP pada dekade dua ribuan awal mengakui dominasi Valentino Rossi di era tersebut.

Elias menyebut Rossi sebagai lawan yang paling sulit ditaklukkan sepanjang kariernya.

“Ada banyak rival yang hebat, namun saya akan sebutkan dua di antaranya. Pertama, Manuel Poggiali yang sangat kuat dan sukses memenangkan titel juara dunia Dia menunjukkan talentanya dan kemudian memilih pensiun.”

“Namun di antara semuanya, yang terbaik tetaplah Rossi, yang pernah berhasil saya kalahkan di GP Portugal pada sebelas tahun lalu bersama Honda,” ucap Elias seperti dikutip dari GPOne.

Satu-satunya kemenangan Elias di ajang MotoGP ada di Portugal sebelas tahun silam. Karena itu ia sangat puas pernah mengalahkan Rossi yang disebutnya pebalap terbaik sepanjang masa di balapan tersebut.

“Saya rasa Rossi adalah pebalap terhebat sepanjang masa. Dia bahkan lebih bagus dibandingkan Giacomo Agostini dan Angel Nieto.”

“Dia punya determinasi yang tinggi dan sangat berani,” tutur pria asal Spanyol ini.

Elias lalu menggambarkan kehebatan Rossi di lintasan.

“Valentino Rossi tahu pergerakan yang akan dilakukan oleh lawan, terutama di lap terakhir.”

“Untuk bisa mengalahkan Rossi, seorang pebalap harus terus menyerangnya dari awal hingga finis, tanpa memberinya kesempatan untuk berpikir. Saya berhasil melakukan itu di Portugal namun saya butuh kerja yang sangat keras untuk mewujudkannya,” ujar Elias.

Tidak hanya Elia, pebalap Ducati Jorge Lorenzo juga  mengakui bahwa dirinya punya kekaguman pada Valentino Rossi meskipun mereka terlibat dalam rivalitas yang kuat.

Lorenzo dan Rossi terlibat dalam rivalitas panas selama bertahun-tahun. Lorenzo yang masuk ke Yamaha berhasil menggoyang nama besar Rossi.

Ia sukses merebut tiga titel juara dunia bersama Yamaha sebelum akhirnya pindah ke Ducati pada tahun ini.

Dalam tahun-tahun Lorenzo di Yamaha, ia sering terlibat konfrontasi dengan Rossi yang mencapai klimaksnya pada dua tahun lalu saat keduanya bersaing dalam perburuan titel juara

Meski hubungan keduanya selalu panas, Lorenzo secara terbuka mengakui bahwa ia menaruh kekaguman pada sosok Rossi.

“Di luar rivalitas yang ada, bagi saya Rossi adalah referensi yang bagus. Dengan karisma yang dimilikinya, ia membuat motor jadi lebih mudah dipahami dan tentunya itu jadi keuntungan untuk semuanya. Saya mengagumi dirinya,” tutur Lorenzo dalam wawancara dengan Telecinco.

Lorenzo mengakui bahwa sulit bagi seorang pebalap untuk punya hubungan yang baik tanpa cela dengan rekan setimnya. Terlebih, bila rekan setimnya adalah pebalap papan atas.

“Sungguh tak mudah untuk bisa berteman baik dengan rekan setim, karena partner seorang pebalap di sebuah tim itu berarti juga merupakan rival utamanya.”

“Karena kalian tidak akan punya alasan bila rekan setimmu lebih unggul darimu, lantaran kalian menggunakan motor yang sama,” ucap Lorenzo.

Lorenzo mengakhiri musim debutnya bersama Ducati dengan duduk di peringkat ketujuh. Ia sulit beradaptasi dengan motor di paruh awal musim namun makin kompetitif di paruh akhir kompetisi.

Ducati sendiri yakin Lorenzo akan menjelma jadi pebalap yang lebih hebat di musim mendatang dan tak akan mengulangi kesalahan yang terjadi di ini

Selanjutnya Toni Elias juga mengakui Marc Marquez berhasil jadi yang terbaik saat ini karena telah sukses menyerap semua ilmu Valentino Rossi.

Marquez berhasil membuat Rossi tak berdaya sejak ia muncul ke kelas MotoGP. Dalam lima tahun perdana Marquez, pebalap asal Spanyol itu mampu merebut empat titel juara dunia MotoGP.

Menurut Elias, salah satu keberhasilan Marquez adalah lantaran pebalap bernomor 93 itu benar-benar memerhatikan dan mempelajari gaya Valentino Rossi di lintasan.

“Marquez seperti Rossi (di lintasan). Marc Marquez memelajari setiap gerakan Valentino Rossi sepanjang kariernya, kemudian menggabungkannya dengan DNA juara yang ia punya dan pengalaman bertanding dengan lawan-lawan lainnya.”

“Setelah itu, Marquez kemudian sukses beberapa kali mengalahkan Rossi,” ujar Elias.

Menurut Elias, perbedaan antara Marquez dan Rossi saat ini hanya ada di faktor umur. Perbedaan usia belasan tahun membuat Rossi agak sulit mengimbangi Marquez.

“Perbedaan antara Marquez dan Rossi terletak di sisi umur. Marquez 24 tahun sedangkan Rossi 38 tahun.”

“Melihat perbedaan waktu yang ada dan fakta sulitnya bersaing di level elite, justru selisih 14 tahun itu menunjukkan betapa hebatnya Rossi (masih mampu bertarung lawan Marquez),” kata Elias.

Elias mengungkapkan bahwa Rossi sempat kesal karena Marquez benar-benar menyerupai The Doctor semasa muda.

“Di awal karier Marquez, Rossi sempat marah melihat Marquez melakukan hal yang sama . Ada seorang pebalap muda yang tengah belajar dan memahami, kemudian sukses merebut posisi juara yang penuh pengalaman,” tutur pebalap asal Spanyol ini.

Empat kali menjadi juara dunia MotoGP membuat Marc Marquez disejajarkan dengan pebalap-pebalap sukses di ajang balap motor premium.

Pebalap asal Spanyol itu bahkan telah menorehkan rekor tersendiri sebagai pebalap termuda yang mengoleksi empat gelar juara dunia, mengalahkan Valentino Rossi sang pemegang rekor sebelumnya.

Capaian Marquez di lintasan MotoGP turut menyita perhatian mantan penunggang kuda besi asal Italia, Max Biaggi.

Kompatriot sekaligus salah satu rival Rossi di tahun dua ribuan itu menilai Marquez masih belum mencapai performa puncak dan akan tampil lebih hebat pada musim-musim mendatang.

“Marquez adalah juara dunia karena dia yang terkuat. Anda bisa melihat dia menjadi juara pada usia 24 tahun,” ujar Biaggi dilansir motorsport.com.

“Dan yang paling menarik adalah, menurut saya, dia belum mencapai level maksimal, jadi dia masih bisa menunjukkan penampilan yang lebih baik,” sambung Biaggi.

“Sekarang pebalap yang ada di peringkat empat besar hanya terpisah nol koma nol sekian detik, jadi saya pikir motornya hampir merata,” ucap Biaggi.

“Maka dari itu, saya pikir jika dia mengendarai motor lain, dia akan tetap menang. Marquez tentu bisa menang juga bersama Ducati,” tambahnya.

Selain kemampuan memacu motor dengan baik, Biaggi juga menilai Marquez memiliki kemampuan spesial mengendalikan motor sehingga tidak terjatuh dan lolos dari kecelakaan seperti yang ditunjukkan pada seri terakhir musim di Valencia.

Komentar