Sensasi Kecerdikan Mayweather

Penulis: Darmansyah

Minggu, 15 September 2013 | 14:35 WIB

Dibaca: 0 kali

“Hanya,”’ kecerdikan yang bisa memenangkan Floyd Mayweather Jr. Dan itu, terbukti ketika ia menang angka mutlak di MGM Grand Garden Arena , Nevada, Las Vegas, Amerika Serikat, ketika mempecundangi Caneli Alvarez dari Meksiko, Sabtu malam waktu setempat, atau Minggu tengah hari WIB, yang disiarkan langsung oleh TV One.

Mayweather Jr, yang di pasar taruhan New York dan Las Vegas sendiri, menempati posisi teratas, memang tidak berhasil menganvaskan, atau menang “knock out–technical knock out,” atas Alvarez. Ia hanya menang angka mutlak dari ketiga juri.

Pertandingan tinju, yang merupakan paling sensasional tahun ini, dengan bayaran untuk Floyd Mayweather 41, 5 juta dollar AS, atau setara dengan Rp 465 miliar, merupakan wujud dari kehebatan petinju kulit hitan asal Amerika Serikat itu.

Dengan bayaran sebesar Rp 465 miliar, Mayweather menduduki atlet pencetak uang terhebat di dunia dengan durasi penghasilan Rp 12, 9 miliar per menitnya dari dua belas ronde pertandingan yang menghabiskan waktu 36 menit dengan waktu istirahat 12 menit.

Olahraga tinju, seperti dikatakan, Ricahrd Schaefer, promotor pertandingan, tidak pernah mati dari sensasi dan kehebatan. Duel ini, seperti di tulis dalam analisa “Ring,” majalah tinju terkemuka, menghasilkan pendapatan sebesar Rp 2,5 triliun atau 220 juta dollar dari penjualan hak siar, tiket dan promosi lainnya.

Bagi pengamat tinju, laga ini, yang bisa disaksikan di seluruh dunia, baik lewat channel televise berbayar maupun siaran langsung, adalah penyatuan kembali gelar klas water versi badan tinju WBA dan WBC.

Myaweather, menurut “Ring,” adalah daya tarik yang sangat “menjual” di arena tinju. Selama karirnya May, begitu ia di sapa, tidak pernah terkalahkan dalam 44 kali bertanding, di tambah dengan kemenangan melawan Canelo untuk ke-45 kalinya. Ia telah delapan kali mempertahankan predikat juaranya di lima kelas berbeda.

Selain kontroversinya sebagai petinju yang sering membuat gaduh pemberitaan media, Mayweather tak bisa disangkal adalah “master” di atas ring. Ia memiliki pertahanan lewat “blocking” yang sempurna dan mampu menyelaraskan kebutuhan pertandingan untuk petinju yang berbeda.

Ketika melawan Canelo Alvarez, juga tidak pernah terkalahkan dalam karir tinjunya, May sudah memasuki usia ke 37 tahun. Sedangkan Alaverz baru berusia 23 tahun. Ada rentang jarak umumur 14 tahun keduanya. Tapi itu tidak menjadi halangan bagi May untuk menari dan memanfaatkan “keluguan” Canelo.

Dari ronde awal, May terlihat mempermainkan Canelo lewat provokasi dan taktik menghindarnya untuk kemudian masuk dalam jarak pukul. Berkali-kali ia memanfaatkan “clas” dengan Alvarez untuk kemudian bertahan di tali ring.

May tahu betul ia tidak perlu memforsir pukulan karena secara fisik ia kalah. Untuk itu May hanya masuk dalam pertukaran pukulan ketika dibutuhkan. Alvarez memang lugu. Padahal dengan mengajak May terus menerus bertukar pukulan akan bisa menguras tenaganya. Dan anehnya lagi Alvarez membuka pertahanannya untuk dilewati jab-jab Mayweather.

Dengan strategi itu Floyd Mayweather Jr mendapatkan angka kemenangan mutlak, dan berhak atas juara dunia kelas welter versi WBA dan WBC.

Dengan hasil ini, Mayweather mampu merusak reputasi Canelo sebagai petinju yang tak terkalahkan. Canelo kini mencatat 42 menang, 1 kali seri, dan satu kali kalah. Selain itu Floyd Mayweather Jr. berhasil mmpertahankan sabuk juara WBA Super Light Middleweight dan merebut WBC & The Ring Light Middleweight..

Pukulan-pukulan yang dilancarkan Mayweather begitu terarah dan efisien. Dia berhasil membuat Canelo frustrasi dan membuktikan ucapannya -Canelo hanyalah lawan biasa.

Mayweather unggul mayoritas dengan rincian skor yang ditetapkan juri, 117-111 116-112, serta skor kontroversial dari CJ Ross 114-114. Saat diumumkan, raut wajah Mayweather menunjukkan kekecewaan mendengar skor yang dikeluarkan CJ Ross tersebut.

Namun akhirnya Mayweather kembali semringah saat diumumkan dialah pemenangnya, dan kemudian mengangkat sabuk juara tinggi-tinggi.

Dengan kekalahan tersebut, rekor milik Canelo sedikit tercoreng, yaitu 42 kemenangan 1 kekalahan, 1 hasil imbang. Sebelumnya, pada April lalu, petinju berusia 23 tahun itu menang atas Austin Trout dari Amerika Serikat dengan kemenangan mutlak yang diraih dalam 12 ronde.

Sementara itu, bagi Mayweather, kemenangan tersebut semakin menahbiskan dirinya sebagai salah satu petinju asal Amerika Serikat yang ditakuti. Sebelum melawan Canelo, peraih medali perunggu pada Olimpiade Atalanta 1996 itu menang mutlak atas petinju AS Lainnya, Robert Guerrero pada 4 Mei 2013.

Komentar