Rossi Ungkapkan Kenapa Ia Masih Oke

Penulis: Darmansyah

Rabu, 19 November 2014 | 08:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Valentino Rossi tak menampik usia “lanjut” ikut mendera penampilannya di setiap seri lomba MotoGP. Tidak muda lagi, alias sudah gaek, bila dikaitkan dengan usianya yang sudah berkepala tiga, tepatnya tiga puluh lima tahun, Rossi membeberkan rahasia kenapa masih bisa bertahan hingga kini, padahal gempuran dari pembalap-pembalap muda bak hujan badai.

Pada lomba MotoGP musim 2013-2014, Rossi tiga belas kali naik podium, termasuk dua kali kemenangan saat di San Marino dan Australia. Ia pun tampil cukup kompetitif dan sukses mengakhiri musim sebagai runner up di belakang Marc Marquez.

Pencapaian musim ini adalah yang terbaik buat Rossi dalam empat tahun terakhir. Pembalap berjuluk “The Doctor” itu pun memiliki keyakinan bahwa gairah untuk balapan, dan melupakan kejayaan di masa lalu menjadi sebuah kunci andalan yang membuatnya bisa bertahan hingga kini.

“Saya pikir rahasianya adalah untuk mengetahui Anda masih ingin menjadi bagian dari permainan ini. Untuk melakukan itu, Anda harus melupakan semua kemenangan yang Anda toreh di tahun-tahun sebelumnya, dan memiliki kerendahan hati yang luar biasa,” kata Rossi, seperti dilansir Crash, Rabu, 19 November 2014.

“Anda juga harus menyadari, jika ingin terus maju Anda wajib bekerja keras. Jika Anda terlalu banyak memikirkan kesuksesan masa lalu dan berkata, ‘Well, saya sudah memenangi sembilan titel dunia dan juara 100 kali lebih’, Anda lebih baik di rumah. Olahraga ini, rival, ban, motor, semuanya berubah, jadi Anda harus bekerja lebih keras. Jika tidak, Anda tamat,” lanjutnya.

Pengalaman segudang sudah jelas dimiliki rider Movistar Yamaha, Valentino Rossi di MotoGP. Joki berjuluk The Doctor itu juga telah melewati persaingan demi persaingan dengan pembalap-pembalap muda yang bertenaga dan handal di tiap musimnya.

Dari semua pertarungan tersebut, Rossi memilih persaingan sengitnya melawan Casey Stoner di Sirkuit Laguna Seca, Amerika Serikat enam tahun lalu lalu sebagai yang terbaik. Kala itu pertarungan keduanya memang ketat, hingga di putaran terakhir Stoner terjatuh dan Rossi memenangkan pertandingan. Di tahun itu, Rossi juga menjadi pemenang MotoGP.

Meski memilih persaingan melawan Stoner, sebagai favoritnya. Rossi juga menceritakan persaingan dengan pembalap lainnya, termasuk rekannya Jorge Lorenzo dan juga duo pembalap Repsol Honda, Marc Marquez dan Dani Pedrosa.

“Saya pikir yang pertama dengan Pedrosa di Brno pada tahun 2006, dan saya bersama Camel Yamaha. Itu kali pertamanya Pedrosa tiba berada di depan dan saya berkata sial! Pria ini datang dari kelas berbeda, sekarang kami memiliki dua alasan di MotoGP! Dan boom-boom-boom seperti ini,” terang Rossi.

“Bersama Stoner di Laguna Seca, Jorge di Barcelona dan Marquez tahun ini – saya mengalami banyak pertarungan, namun untuk saya yang terbaik adalah dengan Casey di Laguna,” akunya.

Namun setelah Stoner pensiun, Marquez muncul sebagai pembalap muda yang memiliki potensi dan selalu terlibat pertarungan dengan Rossi. Meski begitu, pria berpaspor Italia itu memuji Marquez yang cerdas.

“Marc pria cerdas, dan ia memiliki passion besar dengan motor. Ia telah mengikuti olahraga sebelum berlomba, jadi ia tahu semua pengendara dan saya pikir ia belajar sangat banyak dari cara ia berlomba dengan lawan-lawannya,” tuntas Rossi.

Pembalap Repsol Honda, Marc Marquez sendiri menyebut sosok Valentino Rossi sebagai pembalap panutannya. Ia mengaku sering meniru cara sang senior menyalip para lawannya.

Rider berjuluk The Baby Alien itu kerap menjalani pertarungan sengit dengan The Doctor sejak turun di MotoGP. Ia bahkan mengaku lebih senang bertarung dengan Rossi ketimbang pembalap lainnya.

“Pertarungan bersama Vale selalu menjadi pertarungan paling seru. Pertama, karena dia Valentino Rossi. Kedua, karena ia selalu langsung menyerang ketika saya menyalipnya. Kami selalu bersenang-senang,” ujar Marquez seperti dikutip SpeedWeek.

Juara dunia MotoGP 2013 dan 2014 ini mengaku meniru taktik balap Rossi. “Vale punya banyak pengalaman. Ia tahu persis titik-titik di mana ia harus menyalip lawan. Ketika ia menyalip saya, saya berusaha mempelajari bagaimana cara ia melakukannya. Terkadang saya mencoba menirunya,” tutupnya.

sumber : crash, speedweek dan motogp.com

Komentar