close
Nuga Sport

Rossi Sesali Sikap Pesimismenya di Aragon

Valentino Rossi meralat sikap pesimistis menjelang balapan MotoGP Aragon dengan mengatakan sikap itu salah dan tidak harus ia ucapkan.

“Saya meralat sikap pesimistisn itu  karena itu adalah kesalahan,” katanya seperi ditulis “crash,” pagi ini, Jumat, 21 September.

Yamaha dihadapkan pada paceklik kemenangan terburuk sepanjang sejarah di kelas primer Grand Prix pada balapan MotoGP Aragon.

Jika gagal meraih kemenangan, maka Yamaha sudah 23 seri beruntun tidak pernah menang di MotoGP.

Jelang balapan MotoGP Aragon, Rossi dan rekan setimnya di Movistar Yamaha, Maverick Vinales, memiliki pendapat yang berbeda.

Vinales mengklaim Yamaha sudah membuat kemajuan yang signifikan terkait masalah perangkat elektronik jelang balapan MotoGP Aragon, sementara Rossi berpikir sebaliknya.

Dikutip dari Motorsport, Rossi berharap sikap pesimistisnya salah jelang balapan MotoGP Aragon. The Doctor berharap Yamaha benar-benar sudah mampu mengatasi permasalahan seperti yang diungkapkan Vinales.

“Buat saya Yamaha sedang bekerja, sesuatu diperbaiki, kami punya sesuatu berbeda hingga sedikit lebih baik. Tapi, sayangnya bagi saya ini bukan langkah besar,” ucap Rossi.

“Saya berharap saya salah dan Vinales benar. Biasanya Aragon trek yang licin, jadi cengkeraman tidak terlalu bagus, dan itu biasanya Yamaha sedikit kesulitan. Selain itu trek ini membuat stres ban belakang, banyak tikungan, dan di bawah kondisi itu kami sangat menderita,” sambungnya.

Lebih lanjut Rossi mengatakan tes yang dilakukan Yamaha di Sirkuit Aragon, akhir Agustus 2018, diyakininya tidak akan banyak membantu.

“Masih banyak hal yang harus kami kerjakan, karena saat balapan kami tidak mampu menunjukkan potensi sesungguhnya. Kami berharap bisa menunjukkan kemampuan sesungguhnya,” ucap Rossi.

Yamaha kali terakhir meraih kemenangan di MotoGP saat Rossi menjadi pemenang MotoGP Belanda, Juni tahun lalu

Sementara kali terakhir Yamaha sukses meraih podium musim ini pada balapan MotoGP Jerman,  Juli lalu.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan “crash,” Rossi sempat mengungkan pesimisme memenangkan balapan di Aragon.

ogah bicara lagi soal peluang Yamaha berburu gelar juara musim ini jelang MotoGP Aragon, Minggu mendatang.

The Doctor mengatakan perbedaan antara motor  miliknya dengan dengan Repsol Honda dan Desmosedici Ducati dalam hal teknis amat jauh.

Rossi pun menilai dua pesaingnya itu yang memiliki kans besar untuk menjadi juara musim ini.

“Tentu saja, kami tak perlu lagi membahas soal kemungkinan untuk menjadi juara musim ini. Namun, kami tetap harus fokus dan memberikan yang terbaik,” terang Rossi dikutip dari Tuttomotoriweb.

Posisi Rossi melorot ke peringkat ketiga klasemen sementara musim ini setelah di MotoGP San Marino hanya mampu finis ketujuh. Ia disalip Andrea Dovizioso di peringkat kedua setelah pebalap Ducati itu berhasil memenangkan seri di Sirkuit Misano tersebut.

Rossi yang hanya mengantongi seratus lima puluh satu poin tertinggal tiga angka dari Dovizioso. Namun, The Doctor sendiri tetap tak menyangka masih bisa berada di peringkat ketiga klasemen sementara meski kondisi Yamaha saat ini terpuruk.

“Secara ajaib, kami masih bisa berada di posisi ketiga dalam klasemen [sementara]. Sejujurnya, saya tidak mengerti hal ini masih bisa terjadi.”

“Setidaknya kami masih memiliki satu tujuan. Kami hanya tiga poin di bawah Dovizioso yang sudah menang tiga kali [musim ini]. Kami juga masih di atas [Jorge] Lorenzo dan Maverick Vinales,” ucap Rossi.

Untuk itu, The Doctor menegaskan setidaknya ia tetap meraih poin-poin yang cukup banyak pada seri selanjutnya untuk menjaga posisi.

“Dan, mungkin saja, [saya akan] mencoba dengan sedikit keberuntungan,” ucap Rossi.

Ketidakmampuan Rossi meraih podium puncak di musim balapan MotoGP tahun ini meupakan jawaban dari ketidakcocokannya dengan motor yang ia kenderai.

Mantan juara dunia kelas  Luca Cadalora menilai performa Valentino Rossi yang menurun pada dua musim MotoGP terakhir tidak terlepas dari motor yang dikendarai.

Rossi sudah tidak pernah menjadi juara dalam dua puluh dua seri balap. Setelah menjadi juara pada MotoGP Belanda tahun lalu, pebalap tim Yamaha itu puasa gelar.

Kans Rossi menjadi juara dunia MotoGP in pun menipis setelah berulang kali gagal tampil sebagai juara seri. Capaian terbaik The Doctor pada tahun ini adalah runner up di MotoGP Jerman.

“Jika Anda ingin meraih gelar juara, maka Anda harus memenangi seri. Itu adalah hal yang terbaik yang dapat Anda lakukan. Berada di podium memang bagus, tapi kemenangan adalah hal lain lagi,” ujar Cadalora ketika diwawancarai MotoGP seperti dilansir Tuttomotoriweb.

“Di dalam tim kita memberikan yang terbaik setiap akhir pekan. Terkadang itu tidak cukup, tapi itu adalah kesalahan kami.

Jika kami memberinya motor yang tepat maka dia akan meraih kemenangan,” sambung Cadalora.

Cadalora yang pensiun dari balapan sejak tahun  dua ribu kembali mendekati lintasan balap sebagai pelatih Rossi.

Kerja sama dengan Rossi yang sudah dimulai pada tiga musim lalu membuat Cadalora gembira lantaran bisa membantu pebalap dan bernostalgia dengan masa lalunya sebagai pebalap.

“Ketika Anda bisa menjadi instruktur balapan dan membantu pebalap menjadi lebih cepat, itu menimbulkan rasa senang. Saya berusaha melihatnya dari luar. Saya mengatakan apa yang saya lihat,” kata Cadalora.

“Saya bertemu dengan Valentino tiga tahun lalu di Misano. Sejak saat itu dia merasa saya bisa memberi bantuan. Saya menjadi pelatih balapnya, saya sangat senang,” tambah mantan pebalap

Rossi sendiri juga merasa heran dengan posisinya di arena balapan MotoGP musim ini.

Ia mengaku heran dengan posisi ketiga klasemen sementara MotoGP 2018 yang dipegangnya di saat ia mengalami banyak masalah bersama Yamaha musim ini.

Rossi sering mengeluh sejak awal musim MotoGP . Keluhan Rossi tentang performa motor Yamaha tetap terdengar hingga balapan akhir di MotoGP San Marino.

Rossi menganggap motor Yamaha miliknya belum bisa mengantarnya jadi juara seri lantaran performanya belum konsisten. Meski demikian Rossi saat ini ada di posisi ketiga klasemen, bahkan sebelumnya sempat ada di posisi kedua.

Rossi mengakui bahwa peluang juara dunia musim ini sudah nyaris tertutup untuk dirinya. Meski demikian, Rossi bertekad akan berjuang di sisa enam seri balapan yang ada.