“Satu Kutukan Nomor 10 Sudah Enyah”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Juni 2016 | 08:35 WIB

Dibaca: 0 kali

Untuk pertama kalinya Valentino Rossi mengungkapkan tentang enyahnya “kutukan nomor 10” ketika ia berlomba di Catalunya Circuit, Minggu pekan lalu, dan berharap “kesialan” itu sudah pergi selamanya.

Di Catalunya, MotoGP Barcelona, Rossi memenangkan balapan dengan podium puncak, menyikat Marc Marquez dan menjungkalkan Jorge Lorenzo.

Pebalap asal Italia itu menganggap selama ini sulit menembus angka 10 di ajang balap motor Grand Prix.

Sebelum meraih kemenangan di GP Catalunya, Rossi tertahan di angka sembilan pada sejumlah hal.

The Doctor hingga kini belum mampu merebut gelar juara dunia Grand Prix kesepuluh.

Selain itu Rossi juga kecewa gagal meraih kemenangan kesepuluh di GP Italia setelah motor M1 yang ditungganginya mengalami kerusakan di Sirkuit Mugello, 22 Mei lalu.

Dalam wawancara dengan Cycle World,  Kamis, 09 Juni 2016, Rossi mengaku senang mampu meraih kemenangan di GP Catalunya.

“Itu kemenangan kesepuluh saya di Catalunya”

“Ya, kemenangan ini sangat penting. Karena angka 10 terlihat seperti kutukan. Saya tidak bisa merebut gelar juara dunia ke-10 musim lalu, begitu juga di Mugello, memenangi GP di rumah sendiri untuk kali ke-10,” ujar Rossi.

“Ini seperti video games, kami mencapai level 10. Saya menang untuk kali ke-10 di Barcelona. Ini trek spesial. Saya selalu suka desain sirkuit ini, begitu juga atmosfernya.”

Kemenangan di Catalunya  membuat Rossi kembali bersaing pada perebutan gelar juara dunia MotoGP 2016.

Masih berada di posisi ketiga, Rossi kini hanya terpaut dua puluh dua poin dari Marc Marquez di puncak klasemen.

“Setelah Mugello saya sangat kecewa, tapi setelah satu balapan, kejuaraan kembali terbuka. Ini musim yang menarik,” ucap Rossi.

“Musim ini saya lebih kuat, tapi kurang satu poin dibanding musim lalu ketika memuncaki klasemen. Saya merasa nyaman dengan motor Yamaha M1 dan saya suka ban Michelin. Saya mendekat, tapi masih di belakang dua pebalap kuat,” sambung Rossi.

Dalam wawancara yang sama Rossi juga membeberkan “kasus” pecah kongsinya dengan Jorge Lorenzo yang sesama pebalap di Movistar Yamaha untuk musim ini.

Untuk berbaikan, kata Rossi, ia akan  bersikap pasif.

The Doctor menunggu Lorenzo untuk menyapa dan melakukan jabat tangan.

Setelah Rossi melakukan tindakan mengejutkan dengan menjabat tangan pebalap Repsol Honda, Marc Marquez, usai balapan GP Catalunya  banyak pihak yang bertanya-tanya mengenai hubungan The Doctor dengan Lorenzo.

Rossi melupakan perseteruannya dengan Marquez setelah berlangsung dua ratus dua puluh empat hari pada  insiden controversial  GP Malaysia.

Berbaikannya Rossi dengan Marquez didorong  menyusul meninggalnya pebalap Moto2 Luis Salom.

Rossi mengatakan perseteruan dengan Marquez menjadi tidak penting setelah Salom meninggal.

Terkait hubungannya dengan Lorenzo, Rossi mengaku terbuka mengakhiri perseteruan.

Namun, pebalap “gaek”  itu enggan menjadi orang pertama yang membuka pintu perdamaian.

“Situasi dengan Lorenzo sedikit berbeda. Di awal musim ini, saya berpikir tidak ingin menjalin hubungan dengannya, bahkan menyapa pun tidak,” ujar Rossi kepada Cycle World.

“Sejak saya kali kedua bergabung dengan Yamaha, saya selalu menjadi orang pertama yang menyapa Lorenzo. Sekarang giliran dia untuk melakukannya,” sambungnya.

Hubungan Rossi dengan Marquez dan Lorenzo memburuk menyusul kontroversi di beberapa seri terakhir MotoGP 2015. Ketika itu Rossi menuduh Lorenzo mendapat bantuan dari Marquez dalam perebutan gelar juara dunia.

Mengenai jabat tangan dengan Marquez, Rossi menganggapnya berbeda. Rossi mengatakan tindakan itu yang paling benar untuk dilakukan setelah meninggalnya Salom.

“Dengan apa yang terjadi pada Salom, semua perseteruan sepertinya tidak ada artinya. Saya pikir ini hal yang tepat untuk dilakukan. Olahraga kami berbahaya. Kami mempertaruhkan nyawa, jadi kami harus tetap tenang, fokus, dan lupakan hal lainnya,” ujar Rossi.

Komentar