Rossi Bertahan di Trek Enam Tahun Lagi

Penulis: Darmansyah

Senin, 4 Februari 2019 | 10:16 WIB

Dibaca: 1 kali

Rossi akan membalap hingga usia empat puluh enam tahun?

Ya, itulah yang disarankan oleh sang  adik tiri untuk sang kakak agar bertahan di trek hingga usia empat puluh enam tahun.

Sang adik, Luca Marini mengatakan ingin beradu kecepatan dengan Valentino Rossi dan berniat membujuk kakak tirinya tersebut agar tetap memacu motor MotoGP hingga usia empat enam tahun.

Marini saat ini masih meniti karier di kelas Moto2 membela tim Sky Racing Team VR46. Pada musim depan, pebalap itu tidak menutup kemungkinan naik kelas ke MotoGP.

“Semua pebalap berpikir mengenai masa depannya dan impian ke MotoGP, saya juga demikian. Tetapi saya ingin mengambil langkah tersebut pada waktu yang tepat, Anda butuh keyakinan untuk tampil di tim dengan level atas dan kompetitif,” ucap Marini dikutip dari GPone.

Marini berambisi fokus dan meraih gelar pada musim ini sebelum benar-benar beranjak dari balapan Moto2.

Jika benar akan berlaga di MotoGP pada tahun depan, maka Marini pun berpeluang berduel dengan Rossi yang masih memiliki kontrak dengan Yamaha  hingga tahun depan.

“Akan menjadi luar biasa bisa berada bersama dia, tapi kami harus fokus pada karir kami terlebih dahulu. Saya tidak akan berjudi untuk membalap bersamanya untuk satu tahun,” kata Marini.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan membujuk Rossi untuk menunda pensiun, Marini pun berkomentar sembari berkelakar.

“Dia akan berusia empat puluh  tahun dalam beberapa hari, saya akan mengatakan agar dia membalap hingga usia 46 tahun, itu akan menyenangkan [sambil tertawa]. Terlepas dari kelakar itu, MotoGP tidak akan sama tanpa dia,” ujar Marini.

Pebalap yang sudah menjalani tiga musim penuh di Moto2 itu baru benar-benar mampu bersaing pada 2018 ketika mampu menempati peringkat ketujuh di klasemen dan lima kali naik podium dengan rincian dua kali peringkat ketiga, dua kali runner-up, dan sekali juara.

Sebelumnya Rossi  mengungkapkan pernah ada seorang yang menilainya tidak akan sukses di dunia balapan.

Orang tersebut tak lain adalah gurunya saat ia masih duduk di sekolah menengah.

Dalam wawancara dengan Che Tempo Che Fa di stasiun televisi Rai 1, Rossi membeberkan punya masalah dengan salah satu gurunya dulunya.

“Hubungan saya dengan guru seni [saat itu] tidak bagus karena saya memang jarang sekali memperhatikan pengajaran darinya.” “Dia kerap kesal. Ia pernah mengatakan bahwa saya tidak bisa mencari uang dengan motor [di dunia balapan],” terang Rossi seperti dikutip dari Corriere dello Sport.

San pembawa acara, Fabio Fazio, kemudian sempat menampilkan video dalam layar lebar yang memperlihatkan Rossi saat masih 15 tahun begitu menikmati berada di dalam ape car atau sejenis kendaraan roda tiga di Tavullia.

“Semuanya berawal dari mengendarai ape car, namun kendaraan yang pertama kali saya kendarai adalah minimoto.”

“Saya pernah punya mobil kecil saat lima belas tahun untuk kendaraan menuju sekolah dari Tavullia ke Pesaro karena tak sempat menumpang bus. Ayah saya — Graziano Rossi — pernah memberikan skuter, namun saya kedinginan. Ia lalu memberikan saya mobil kecil,” tutur The Doctor.

Meski demikian, Rossi mengakui ia kerap terlambat datang ke sekolah.

Dalam kesempatan itu, Rossi mengungkapkan sedikit bocoran pada livery atau desain motor barunya nanti di peluncuran tim Yamaha di Jakarta, 4 Februari.

“Sabtu ini saya akan berangkat ke Jakarta, di mana kami akan memperkenalkan sepeda motor baru, kemudian kami akan bertahan di sana untuk tes pramusim ,” ujar Rossi.

“Sepeda motor baru  adalah rahasia, tapi kami akan memperlihatkan grafis yang baru dari sebelumnya. Yamaha itu biru dan sponsor [Monster] hitam, jadi sepeda motornya sedikit seperti Inter Milan,” kata Rossi.

Sementara itu, pebalap MotoGP Franco Morbidelli yang pernah menimba ilmu balap di akademi VR46 memiliki keinginan mengalahkan Valentino Rossi

Morbidelli yang baru bergabung dengan tim Petronas Yamaha menyambut baik penggunaan motor yang sama dengan Rossi pada musim mendatang.

Setelah menggunakan motor Honda pada musim perdananya di ajang MotoGP tahun lalu, Morbidelli akan menggunakan motor Yamaha YZR-M1 seperti yang ditunggangi Rossi di tim Monster Energy Yamaha.

Bagi pebalap yang tercatat sebagai juara dunia Moto2 itu, kondisi tersebut akan memberi keuntungan dan membuatnya termotivasi mengalahkan Rossi.

“Saya pikir mengendarai motor yang sama akan membantu kami berdua, akan lebih membantu bagi saya ketimbang dia, tapi kami bisa berbagi informasi dan kami bisa berbagi impresi. Ini akan berguna bagi saya dan dia,” kata Morbidelli dikutip dari Crash.

“Tentu saja ini merupakan motivasi juga untuk mengendarai motor yang sama dan berupaya melaksanakan tugas dengan baik dan untuk mengalahkannya serta orang lain di atas lintasan. Itu adalah tujuan kami dan akan kami lakukan,” sambung pebalap asal Italia itu.

Morbidelli akan melanjutkan adaptasi dengan motor Yamaha YZR-M1 jelang tes pramusim di Sepang pada  Februari.

“Bersama Yamaha, Anda selalu merasa memiliki kesempatan. Saat menggunakan ban baru maka Anda akan berpikir dapat memacu motor lebih baik lagi,” ucap pebalap  itu.

Sementara itu mantan pebalap MotoGP Scott Redding menyebut Valentino Rossi tak senekat Marc Marquez untuk meraih gelar juara.

Redding yang pensiun dari MotoGP pada akhir musim lalu mengatakan bukan hanya kecakapan, tapi keberanian pebalap yang saat ini tak kalah menentukan.

“Mereka [para pebalap] ingin sukses, namun ketika itu sudah masuk dalam duel dan Anda harus membalap menembus tembok [nekat], tak banyak pebalap yang mau menembus tembok.”

“Salah satu yang seperti itu adalah Marquez. Dia bersedia menabrak tembok demi menang. Valentino [Rossi], saya tak bisa membayangkannya dia mau,” terang Redding dalam wawancara eksklusif dengan Crash.

Meski demikian, Redding mengatakan Rossi punya kualitas dan jauh lebih bijaksana dibandingkan Marquez.

“Itu perbedaan mendasarnya. Dia jauh lebih bijaksana dan jauh lebih tua. Namun, ada perbedaan dalam hal skala di antara itu,” terang Redding.

Selain itu, Redding menyoroti faktor lain yang juga amat menentukan Marquez maupun Rossi bisa menjadi juara MotoGP dalam kariernya. Salah satunya karena mereka tengah atau berada di tim yang tepat.

“Lihat saja Valentino [Rossi]. Ceritanya sama, dia selalu pernah berada di tempat yang tepat. Dia pernah ke Ducati, kemudian mengalami kesulitan dan berhenti.”

“Ia kembali ke Yamaha, sedikit lebih mudah, membuat hasil [bagus] dan bertahan. Akan sangat menarik jika ada perubahan,” terang Valentino

Komentar