Musim Ini Rossi Mampu Kontrol Emosinya

Penulis: Darmansyah

Jumat, 5 Mei 2017 | 14:57 WIB

Dibaca: 1 kali

Sipapun harus mengakui ada yang berbeda dari Valentino Rossi di MotoGP musim ini.

Ya, setidaknya dari tiga seri yang sudah dilalui, The Doctor terlihat tidak gegabah dan mampu mengontrol emosi di atas sirkuit.

Rossi untuk kali ketiga beruntun hanya mampu merebut posisi runner-up di klasemen akhir MotoGP musim lalu.

Pebalap asal Italia itu gagal bersaing dengan Marc Marquez, yang memastikan gelar juara dunia saat musim menyisakan tiga seri.

Kesalahan Rossi musim lalu adalah terlalu memaksakan diri di atas trek. Tidak tampak pengalaman lebih dari 20 tahun yang dimiliki Rossi.

Pebalap “tua” itu gagal mengontrol ritme penampilan, meski Yamaha memiliki motor terbaik pada musim itu.

Terbukti, Rossi gagal finis di tiga seri balapan: GP Amerika Serikat, GP Belanda, dan GP Jepang.

Di ketiga seri itu Rossi mengalami kecelakaan karena terlalu memaksakan diri. Sementara kegagalan di Sirkuit Mugello pada balapan GP Italia musim lalu murni karena masalah mesin motor M1.

Musim ini Rossi telah menyadari kesalahannya musim lalu dalam cara pendekatannya menjalani balapan.

Rossi sadar rivalnya seperti Jorge Lorenzo dan Marc Marquez sudah mulai kebal dengan permainan psywar.

The Doctor sudah tidak bisa menjatuhkan mental Lorenzo dan Marquez dengan perang kata-kata melalui media, seperti yang dilakukannya musim lalu.

Pasalnya, kedua pebalap rivalnya itu sudah mulai kenyang pengalaman di MotoGP.

Kondisi itu membuat Rossi mengubah gaya membalapnya musim ini.

Layaknya timnas sepak bola Italia yang mengandalkan strategi ‘Catenaccio’ di lapangan hijau, Rossi kini lebih memilih tampil ‘bertahan’ di atas trek.

Dari tiga seri MotoGP musim ini, Rossi terlihat memilih bermain aman. Juara dunia Grand Prix sembilan kali itu sadar tidak bisa mengimbangi kecepatan Marquez atau rekan setimnya di Movistar Yamaha, Maverick Vinales.

Layaknya timnas Italia merebut gelar Piala Dunia sepuluh tahu silam, gaya membalap Rossi musim ini terbilang konservatif.

Menyerang ketika hanya ada peluang. Jika tidak ada peluang, Rossi akan berusaha mempertahankan posisi demi mendapatkan poin.

Rossi tidak emosional ketika menunggangi sepeda motornya, lebih menggunakan otak dan pengalaman.

Tidak memaksakan diri seperti musim lalu. The Doctor sadar mendapatkan poin di setiap balapan sangat penting.

Terlebih dua rival utamanya, Marquez dan Vinales, sudah satu kali gagal finis musim ini.

Di luar sirkuit, Rossi juga berusaha terlihat bersahabat dengan Marquez dan Vinales. Pada seri GP Amerika Serikat, dua pekan lalu,

Rossi terlihat memberikan selamat kepada Marquez setelah memenangi balapan di Sirkuit Austin.

Sejauh ini strategi yang diterapkan Rossi membuatnya memuncaki klasemen, padahal dia belum mampu memenangi balapan. Menarik untuk dilihat apakah strategi Rossi kembali membuahkan hasil positif di GP Spanyo

Banyak pihak menganggap musuh terberat Valentino Rossi di MotoGP musim ini adalah Marc Marquez dan Maverick Vinales.

Namun, sebelum bisa menaklukkan kedua pebalap muda itu, The Doctor harus bisa mengalahkan musuh terberatnya: usia!

Pebalap asal Italia itu diklaim manajer tim Movistar Yamaha Massimo Meregalli mulai kesulitan dengan kondisi fisiknya.

“Rossi melakukan sejumlah hal untuk memperbaiki performa ban depan, dan pada akhirnya dia menyerah, dia mulai merasakan usianya,” ujar Meregalli.

Di usia sudah tidak muda,  Rossi akan kembali menjadi pebalap tertua di MotoGP musim ini. Sementara Marquez dan Vinales yang diklaim menjadi rival utama Rossi, masih muda.

Secara mental Rossi tidak memiliki masalah.

Pengalaman bukanlah talenta, melainkan mutiara yang didapat setelah bertahun-tahun

Banyak orang menganggap untuk menjadi pebalap MotoGP tidak dibutuhkan latihan yang berat. Padahal, dibutuhkan kondisi fisik dan stamina yang prima untuk bisa mengangkat motor seberat 160 kilogram di setiap tikungan.

Kombinasi tuntutan fisik yang intens dan tantangan sirkuit yang hebat, terutama ketika tampil di negara dengan suhu tinggi seperti Malaysia, atau Qatar, membuat para pebalap MotoGP mengeluarkan keringat hingga lebih dari dua liter dalam satu balapan.

Rossi memang bisa tampil hebat di sejumlah balapan, namun mantan pebalap Ducati dan Repsol Honda itu kesulitan untuk tampil konsisten sepanjang musim. .

Tuntutan terus berpindah-pindah negara jelas menguras tenaga para pebalap MotoGP, terutama di pengujung musim, yang melibatkan triple header: GP Jepang, GP Australia, dan GP Malaysia hanya dalam tiga pekan beruntun.

Fokus di luar sirkuit juga tentunya menguras tenaga Rossi. Pasalnya, selain berkarier sebagai pebalap Movistar Yamaha, Rossi juga mengurus dua tim VR46 di kelas Moto2 dan Moto3.

Belum lagi Rossi harus menjalani sejumlah kegiatan promosi bersama Yamaha dan sponsor pribadinya.

Tidak bisa dipungkiri Rossi masih menjadi salah satu pebalap paling kompetitif di MotoGP musim ini.

Namun, faktor fisik dan stamina bisa menjegal langkah The Doctor merebut gelar juara dunia kesepuluhnya musim ini.

 

Komentar