close
Nuga Sport

Laga Penuh Emosi, Li Na VS Azarenka

SAAT ini, Li Na adalah petenis putri dunia yang paling berbahaya bagi lawan-lawannya. Kematangan emosinya di lapangan sudah terjaga di setiap pertarungan. Menjungkalkan Maria Sharapova dalam dua set langsung di semifinal Grand Slam Australia Terbuka, menjadi salah satu buktinya.

Gadis dari Negeri Tirai Bambu ini semakin berkibar di kancah tenis dunia dalam dua tahun terakhir. Dia patut disejajarkan dengan Martina Hingis atau Justine Henin Hardene: postur, kecepatan, dan daya tahan menjadi elemen kemenangan. Faktor lainnya adalah kematangan emosi, taktik, dan strategi saat bertanding.

Bagi Li, yang paling berperan hal ini adalah pelatih barunya, yaitu  Carlos Rodriguez Meski baru Juli tahun lalu, Rodriguez melatih, tapi hasilnya sudah tampak. Dari gaya bermain, Li  memang tak jauh beda dengan murid Rodriguez sebelumnya–Henin Hardene–yang dilatihnya sejak usia 14 tahun.

Li mengatakan, pelatihnya telah mengajarinya bagaimana mengelola emosi saat berlaga. Menurutnya, Rodriguez mengarahkannya untuk tetap ‘dingin’ dalam setiap penampilan meski di bawah tekanan. “Sejak awal tahun ini, saya sudah mencobanya,” katanya.

Petnis kelahiran Hubei, Cina ini, juga punya modal kuat sebagai Juara Prancis Terbuka (2011), finalis Australia Terbuka (2011), perempat final di Wimbledon (2006, 2010), serta perempat final di Amerika terbuka. Bahkan dalam turnamen mengawali musim ini,  Li telah merebut gelar di Shenzhen, mencapai semifinal di Sydney.

Di Melbourne, dia mengalahkan tiga pemain unggulan secara beruntun tanpa kehilangan satu set pun: Sorana Cirstea, Julia Goerges, dan Agnieszka Radwanska.

Menuju final, Li hanya butuh satu jam dan 33 menit menutup perlawanan Sharapova. Li bahkan membuyarkan permainan  petenis Rusia ini sehingga membuat 32 kali kesalahan sendiri. Li bahkan menutup pertandingan secara manis dengan servis AS dengan kecepatan 160 kilometer per jam. “Kini saya harus merebut jauara,” katanya.

Sementara Victoria Azarenka masih harus menghalau ingatan dari badai kritik yang menderanya ketika menghadapi petenis remaja Sloane Stephens di semifinal. Dia sempat meminta istirahat selama 10 menit dalam pertarungan itu. Tentu saja ini merupakan hal yang kontroversial di dunia tenis.

Namun, petenis unggulan pertama ini akhirnya bisa menyingkirkan Stephens yang masih kencur dalam seri turnamen Grand Slam. Dia mengakui kewalahan menghadapi Stephens, yang ditundukkannya dalam waktu satu jam 41 menit dengan 6-1, 6-4.

“Punggung saya terasa sakit pada set kedua,” kata petenis asal Belarusia itu. “Dan semakin lama-semakin terasa parah. Aku benar-benar harus mendapat perawatan medis (saat itu).”

Meski unggulan pertama ini telah memenangkan empat pertandingan terakhirnya melawan Li. Namun Azarenka tetap harus menghadapi cemoohan penonton karena keputusannya minta timeout sepuluh menit  itu dianggap akal-akalan saja.

“Saat ini, saya hanya perlu menenangkan diri dengan seluruh situasi yang terjadi,” katanya. “Besok adalah hari lain Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi saya akan mempertahankan gelar.”

Baik Azarenka maupun Li Na, ini adalah perburuan gelar Grand Slam kedua. Kedua petenis belia  ini akan menyuguhkan permainan yang cepat, lincah, liat, dan penuh tenaga di lapangan. Pertandingan klali juga akan menjadi laga penuh emosi bagi kedua pemain yang berambisi merebut gelar bergengsi di awal musim ini.

Tags : tenis