“Gentle”nya Seorang Rossi Untuk Kemenangan Marquez

Penulis: Darmansyah

Rabu, 24 April 2013 | 19:56 WIB

Dibaca: 0 kali

Valentino Rossi? “Gentle,” ujar Marc Marquez sang “rookie” dari tim Repsol Honda kepada “crashnet.”  Dengan lugu, tanpa basa basi, “bocah” yang memenangkan GP Austin, Texas, akhir pekan lalu itu, memuji juara tujuh kali “Motto GP” yang kini membalap bersama tim Yamaha, tentang pernyataan jujurnya mengenai panampilannya di Sirkuit Coha.

Marc mengungkapkan, tak menyangka Rossi datang kepadanya di trek usai finis di urutan pertama. “Saya terkejut. Tiba-tiba ia sudah berada di samping motor saya. Ia mengulur tangan kirinya  untuk memberikan selamat dan mengacungkan jempol sebagai pertanda sportivitasnya atas kemenangan saya,” kata Marquez. Sebuah pengakuan yang jujur. “Saya sangat terkesan dengan caranya mengucapkan selamat,” kata  Marc Marquez  kepada “crashnet.”

“The Doctor” tampaknya ikut bangga dengan kesuksesan “Si Bocah Ajaib” yang tak perlu waktu lama untuk naik podium utama MotoGP, sekkaligus sebagai pebalap termuda yang pernah memenangi sebuah seri kelas premier. Hari Minggu, akhir pekan lalu itu, Marquez genap berumura 20 tahun 35 hari ketika maniki podium puncak.

Pebalap asal Spanyol ini mampu melibas para rival dan favorit juara dunia, yang juga seniornya, seperti Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa, termasuk Rossi, idolanya. Padahal, enam belas tahun silam, ketika Rossi memulai debutnya di arena balap motor, Marquez baru  berusia sekitar tiga tahun. Ketika itu, Rossi bertarung di kelas paling kecil, 125 cc, bersama tim Aprilia.

Dua tahun di sana (125 cc), Rossi pindah ke kelas 250 cc dan menjadi juara pada tahun 1999, sebelum beralih ke kelas paling bergengsi, 500 cc, pada tahun 2000. Setelah beradaptasi satu musim, Rossi pun menjelma menjadi raja kelas 500 cc dengan menjadi juara pada tahun 2001, yang menjadi era terakhir kelas itu, sebelum berganti nama menjadi MotoGP.

Mulai tahun pertama MotoGP, pebalap Italia kelahiran 16 Februari 1979 ini tak terkalahkan. Rossi menjadi juara sejak 2002 hingga 2005, sebelum “terpeleset” dalam dua musim berikutnya karena hanya mampu menjadi runner-up dan berada di peringkat ketiga.

Pada 2008, ketika Rossi kembali memperlihatkan hegemoninya di kelas premier dengan merengkuh gelar keenamnya, Marquez baru memulai keberadaannya  di arena balap motor di GP Portugal.  Usianya  ketika itu 15 tahun 56 hari. Dua tahun pertama di balapan Marquez tak banyak  menarik perhatian karena  hanya menempati posisi ke-13 dan ke-8. Pada saat yang sama  Rossi berhasil menambah satu gelar lagi pada 2009.

Setahun berselang, saat Rossi gagal mempertahankan gelar juara dunia karena ditaklukkan rekan setimnya di Yamaha, Jorge Lorenzo; Marquez justru mulai menyita perhatian dengan menjuarai kelas terkecil itu, dan memutuskan untuk naik ke kelas Moto2. Dalam debutnya di kelas baru tersebut, Marquez, yang tanggal kelahirannya satu hari setelah Rossi, mengundang decak kagum karena dia menjadi pesaing berat untuk menjadi juara dunia.

Sayang, kecelakaan saat GP Malaysia mengubur impiannya untuk merengkuh gelar tersebut pada musim perdananya. Meskipun digadang-gadang akan segera pindah ke MotoGP, Marquez memutuskan untuk bertahan di Moto2, hingga akhirnya sukses  menjadi juara pada 2012.

Ketika nama Marquez sedang berkibar, Rossi justru tenggelam. Performanya yang buruk bersama Ducati selama musim 2011 dan 2012 membuat Rossi nyaris terlupakan sehingga muncul kabar pebalap Italia tersebut akan segera meninggalkan MotoGP dan beralih ke Superbike ataupun olahraga roda empat.

Mendengar rumor tersebut, Marquez berusaha mencegah karena dia ingin bertemu dan bertarung dengan sang idola di trek MotoGP. “Saya berharap Rossi tak pensiun sebelum saya pindah ke MotoGP. Dia salah satu pebalap terbesar yang pernah ada, dan saya ingin berlomba dengannya,” ujar Marquez ketika itu.

Marquez sangat mengidolakan Rossi melebihi pebalap manapun yang pernah dikenalnya. Kecintaanya terhadap Rossi di dibuktikannya lewat pajangan  koleksi miniatur motor yang pernah ditunggangi  Rossi di kamar tidurnya.  Marquez  kepada “crashnet” mengungkapkan impiannya ketika itu ingin belajar sekaligus  bertarung dengan sang idola.

Impian ini diwujudkan  di musim balapan  2013, ketika Marquez naik ke MotoGP untuk bergabung dengan tim Repsol Honda. Saat yang sama,  Rossi  membuat keputusan besar dengan meninggalkan Ducati untuk kembali menunggang YZR-M1, yang kompetitif. Dengan demikian, mereka punya kesempatan untuk bertarung karena sama-sama berada di tim yang tangguh.

Marc mendapat kesempatan bertarung dengan Rossi ketika kedua tim uji coba di Sirkuit Sepan, Malaysia.. Waktu itu, Rossi menularkan ilmunya  dan  Marquez mengakui memanfaatnya Saat itu pula . Rossi pun memberikan pujian setelah melihat performa Marquez.

Pertarungan  antar generasi baru terjadi  saat seri pembuka di Sirkuit Losail, Qatar, 7 April lalu. Dalam balapan malam hari itu, Lorenzo memang mendominasi balapan dan menjadi juara, tetapi publik disuguhkan  tontonan hiburan ketika Rossi bertarung rapat dengan Marquez, yang berakhir dengan kemenangan bagi sang legenda karena finis di posisi kedua.

“Sangat menakjubkan bisa berada di sana, bertarung dengan pahlawan saya. Dia menyalip saya, dan saya membalasnya. Akhirnya dia yang menang, tapi saya belajar dari kesalahan yang saya buat,” ujar Marquez tentang balapan itu.

Pada seri kedua yang berlangsung di trek baru Circuit of the Americas, Texas, akhir pekan lalu, Marquez menorehkan tinta emas di dunia MotoGP. Juara dunia Moto2 ini menjadi pebalap termuda yang pernah menjuarai sebuah seri kelas premier, mematahkan rekor Freddie Spencer yang sudah bertahan selama 30 tahun. Dalam balapan itu dia mengalahkan dua kompatriotnya yang juga favorit juara dunia 2013, Pedrosa dan Lorenzo.

Sementara itu, Rossi gagal memperlihatkan performa seperti di Qatar. Start dari posisi kedelapan, juara dunia sembilan kali Grand Prix ini hanya mampu finis di urutan keenam. Akan tetapi, ada hal menarik yang diperlihatkan Rossi. Dia langsung mendekati, mengacungkan jempol, dan memberikan selamat kepada Marquez, yang dengan senang hati menerima uluran tangan idolanya.

Tampaknya, apa yang dilakukan Rossi menjadi sebuah penegasan bahwa apa yang pernah dikatakannya, yaituMarquez lebih baik dari dirinya, telah menjadi kenyataan. Marquez hanya perlu dua seri untuk naik podium utama MotoGP, bandingkan dengan Moto2, ketika Marquez harus menunggu sampai seri keempat untuk meraih kemenangan pertama.

Meskipun tercatat sebagai pebalap termuda yang memenangi MotoGP, Marquez gagal menyamai rekor Max Biaggi dan Jarno Saarinen, yang langsung menjuarai seri pertama dalam debutnya di kelas 500 cc/MotoGP. Walau demikian, kemenangan di seri kedua ini lebih baik dari pencapaian Lorenzo dan Pedrosa; Lorenzo menang pada seri ketiga di 2008, sementara Pedrosa pada seri keempat di tahun 2006.

 

Komentar