Rossi–Vinales Dibayangi Ketidak-akuran

Penulis: Darmansyah

Kamis, 27 Oktober 2016 | 10:52 WIB

Dibaca: 1 kali

Duet Valentino Rossi dengan Maverick Vinales pada musim MotoGP tahun depan masih dibayangi kekhawatiran oleh ketidak akuran menyusul “hancurnya” duet sang “the doctor” dengan Jorge Lorenzo dalam dua musim terakhir.

Kekhawatiran itu tidak hanya datang dari fans kedua pebalap tapi juga menjadi traumatis bagi direktur pelaksana Movistar Yamaha, Lin Jarvis.

Jarvis  berharap kedatangan Maverick Vinales sebagai pengganti Jorge Lorenzo musim depan tidak merepotkan pihak Yamaha.

Setelah sembilan musim memperkuat Yamaha di kelas MotoGP, termasuk tujuh musim menjadi rekan setim Rossi, Lorenzo mengambil keputusan untuk bergabung dengan Ducati musim depan.

Sebagai penggantinya, Yamaha merekrut Vinales dari Suzuki. Pebalap muda asal Spanyol itu tampil impresif di MotoGP musim ini dengan meraih empat posisi podium, termasuk kemenangan di GP Inggris.

Jarvis berharap dengan hubungan bagus yang dimiliki Rossi bersama Vinales, maka kedua pebalap tersebut tidak akan merepotkan garasi Yamaha musim depan.

Jarvis tidak ingin hubungan panas antara Rossi dengan Lorenzo kembali terulang dengan datangnya Vinales ke Yamaha mulai musim depan.

“Saya berharap duet Rossi dan Vinales bisa lebih mudah. Lorenzo datang ke Yamaha sebagai pebalap muda menjanjikan, sedangkan Rossi adalah raja di MotoGP,” ujar Jarvis kepada La Gazzetta dello Sport.

“Sekarang ada perbedaan umur yang besar antara Vinales dan Rossi. Tapi, saya tahu ketika Vinales mulai mendekati kemampuan Rossi, maka dinamika persaingan akan berubah.”

Rossi sendiri akan memperkuat Yamaha hingga dua  musim kedepan, ketika usianya memasuki tiga puluh sembilan tahun.

Jarvis meyakini The Doctor masih berpeluang memperpanjang kontrak bersama Yamaha hingga usianya empat puluh.

“Saya percaya hal itu bisa terjadi. Rossi tidak melihat dua musim ke depan sebagai yang terakhir, tapi dia akan memutuskan ketika tiba waktunya.”

“ Dia pemimpin, dan selalu percaya memulai musim bisa menjadi juara dunia,” ucap Jarvis.

Sementara itu, mantan kepala mekanik Valentino Rossi, Jeremy Burgess melihat reaksi dan ketangkasan Valentino Rossi sudah berkurang lantaran termakan usia.

Dengan usia Rossi yang sudah menginjak tiga puluh tujuh tahun, Burgess menilai Rossi menunjukkan penurunan dalam hal kecepatan reaksi dan ketangkasan.

Hal itu kemudian berdampak pada seringnya ia terjatuh saat berlomba.

Kondisi Rossi tentunya jauh berbeda dengan Marc Marquez yang masih sangat belia. Marquez  beberapa kali menunjukkan kehebatan reaksi saat menghindar dari beberapa kali insiden yang hampir membuatnya terjatuh.

“Marc Marquez mampu menghindari insiden terjatuh karena dia sangat tangkas. Sementara itu Valentino Rossi, dengan seiringnya waktu berjalan, dia lebih lambat dalam hal reaksi di lintasan,” kata Burgess seperti dikutip dari Motorsport.

Karena itulah Burgess menilai ada sejumlah insiden yang terbilang aneh menimpa Rossi musim ini.

“Valentino Rossi membuat sejumlah kesalahan musim ini, kesalahan di Assen dan Jepang menarik perhatian saya.”

“Kesalahan di Belanda bukanlah sebuah hal yang umum bagi Rossi. Pasalnya, biasanya Rossi tak pernah terjatuh saat dia tengah unggul,” tutur Burgess.

Saat ini Rossi terus memburu gelar juara dunia kesepuluh dalam kariernya di motor balap.

Setelah nyaris jadi juara dunia musim lalu, perjuangan Rossi justru tamat lebih cepat di musim ini.

“Menurut saya, pada musim lalu, Rossi tak kalah di tiga seri terakhir, namun ia kalah di beberapa seri sebelumnya ketika ia hanya fokus untuk naik podium.”

“Untuk bisa jadi juara dunia, seorang pebalap harus terus memasang target meraih kemenangan di tiap seri,” tutur Burgess.

Sementara itu, Maverick Vinales, yang kini masih bersama Suzuki,  bertekad untuk bisa menggusur Jorge Lorenzo dari posisi ketiga klasemen dengan tampil bagus di dua seri tersisa, Malaysia dan Valencia.

Vinales sukses mengakhiri balapan GP Australia dengan duduk di posisi ketiga. Catatan itu membuat Vinales mengoleksi seratus delapan puluh satu poin dan duduk di posisi keempat klasemen.

Meskipun sudah dipastikan bakal pindah ke Yamaha musim depan, Vinales telah berjanji untuk tampil habis-habisan di sisa musim bersama Suzuki.

“Untuk bisa mengakhiri kompetisi musim ini dengan duduk di posisi kedua sangat sulit.”

“Valentino Rossi biasanya tampil bagus di Malaysia dan juga Valencia. Jadi saya harus bekerja keras untuk memangkas selisih angka yang ada,” kata Vinales seperti dikutip dari Motorsport.

Meski mengakui mimpi untuk meraih posisi kedua sulit diwujudkan, Vinales melihat peluang untuk menggusur Lorenzo sebagai sebuah hal yang lebih realistis. Vinales hanya tertinggal sebelas poin dari Lorenzo.

“Posisi ketiga cukup dekat dengan saya, jadi saya akan memberikan segalanya untuk bisa mewujudkan hal itu,” ucap Vinales.

Vinales sendiri diproyeksi bakal jadi salah satu bintang besar MotoGP di masa depan.

Keputusannya bergabung dengan Yamaha akan menjadikannya kandidat serius peraih titel juara dunia, bersaing dengan nama-nama besar seperti Marc Marquez, Lorenzo, dan Rossi.

Komentar