Dendam Rossi untuk Lorenzo Belum Padam

Penulis: Darmansyah

Rabu, 11 Mei 2016 | 09:03 WIB

Dibaca: 1 kali

Bara permusuhan yang menjadi dendam antara Velentino Rossi dengan Jorge Lorenzo ternyata tidak pernah padam bersamaan dengan bergulirnya  MotoGP musim ini hingga seri keenam di Le Mans, Perancis, Minggu pekan lalu.

Dendam Rossi itu mencuat kembali lewat sebuah  sindiran terhadap Lorenzo usai balapan MotoGP Perancis.

Movistar Yamaha sukses meraih finis satu-dua untuk dua seri beruntun.

Setelah Rossi menjadi juara di Jerez, Spanyol, kali ini giliran Lorenzo yang unggul atas The Doctor di Sirkuit Le Mans.

Rossi yang memulai balapan dari posisi ketujuh, berhasil finis kedua di Le Mans menyusul kecelakaan yang dialami Andrea Dovizioso dan Marc Marquez.

Rossi mengaku kesulitan mengejar Lorenzo yang tampil dominan dengan memimpin balapan dari posisi start hingga melewati garis finis.

Seperti dikutip dari La Gazzetta dello Sport, Rossi menyindir Lorenzo usai balapan di Le Mans.

Rossi mengulangi kata-kata Lorenzo yang diungkapkannya ketika dikalahkan pebalap asal Italia tersebut di Jerez.

“Ketika saya sampai di posisi kedua, ban belakang saya mulai menggelincir,” ujar Rossi yang kemudian terdiam sejenak dan tertawa.

Rossi kemudian memberikan alasan sesungguhnya kenapa dia gagal memberikan tekanan kepada Lorenzo di GP Perancis.

“Lorenzo sudah terlalu jauh. Dia bekerja lebih baik dan punya kecepatan sedikit lebih bagus,” ucap Rossi.

Rossi dan Lorenzo sendiri terlihat masih enggan saling menyapa dan berjabat tangan di podium GP Perancis.

Rossi justru merayakan podium bersama Maverick Vinales, yang santer dikabarkan menjadi pengganti Lorenzo di Yamaha musim depan.

Lorenzo telah memantapkan niatnya untuk bergabung dengan Ducati pada musim mendatang.

Keputusan tersebut terjadi setelah Lorenzo enggan melakukan perpanjangan kontrak dengan Yamaha.

Hal tersebut rupanya ditanggapi miring oleh mantan pembalap Ducati, Randy Mamola.

Menurutnya Lorenzo pasti ingin bertahan di Yamaha. Namun hubungannya dengan tim memang tak pernah membaik karena Yamaha terus menginginkan Valentino Rossi untuk menjadi juara.

“Saya percaya Jorge sebenarnya sudah cukup dekat denganperpanjangan kontrak. Namun dalam beberapa bulan terakhir ia berganti pikiran terlebih lagi ketika ia mengingat timnya menunda perayaan juara 2015,” ujar Mamola seperti diberitakan Motorsport, Rabu. 11 Mei 2016.

“Saya juga tahu ketika ia selalu paham Yamaha ingin Rossi memenangkan balapan karena ia mampu memberikan inspirasi untuk dunia. Saat itu Lorenzo hanya ingin motor yang sama dan itu adalah satu-satunya keiinginan pembalap Spanyol tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, di hari yang sama, Ducati menyangkal telah menawarkan gaji yang fantastis dalam upaya memboyong pembalap Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo

Saat ditanya berapa gaji yang sebenarnya disiapkan untuk Lorenzo, Ducati dengan tegas menolak membeberkannya.

Penolakan ini ditunjukkan oleh Kepala Tim Ducati, Paulo Ciabatti. Ciabatti menolak memberikan komentar ketika ditanya apakah tim yang berbasis di Bologna, Italia, itu akan memberikan gaji yang lebih besar dari yang diberikan Yamaha kepada Lorenzo.

“Saya tak mau berkomentar. Maaf,” tolak Ciabatti, sebagaimana diberitakan Speedweek, Rabu  11 Mei 2016.

Tak hanya Ciabatti, Bos Ducati yakni Luigi ‘Gigi’ Dall’Igna juga enggan menjelaskan lebih lanjut pembicarannya soal jumlah gaji yang diterima para pembalap top.

Sebelumnya, Gigi mengungkapkan saat ini para pembalap top MotoGP menerima gaji yang nilainya setara satu sama lain.

“Itu bukan sesuatu yang harus kami komentari karena itu berhubungan dengan para pesaing kami,” ujar pria berkebangsaan Italia itu.

Pembalap Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo, dirumorkan memilih pindah ke Ducati di akhir musim tahun ini karena tawaran gaji yang fantastis.

Ditanya soal hal ini, Bos Ducati yakni Luigi ‘Gigi’ Dall’Igna langsung memberikan penyangkalan.

Gigi mengungkapkan, rumor yang memberitakan soal gaji fantastis dari Ducati untuk Lorenzo adalah tidak benar.

Menurutnya, selama ini tim pabrikan asal Italia itu sudah memiliki anggaran dan standar nilai sendiri untuk menggaji para pembalapnya.

“Semua tim tentu memiliki anggaran masing-masing dan mereka harus mengikuti (anggaran) itu,” ujar Gigi, sebagaimana diwartakan Speedweek

“Saya sudah membaca banyak berita yang membicarakan Jorge i media massa. Beberapa di antaranya salah dalam membicarakan gaji,” sambungnya.

Pria berkebangsaan Italia itu merasa pemberitaan soal gaji pembalap di media massa belakangan ini begitu berlebihan.

Padahal menurutnya, saat ini para pembalap top memiliki nilai gaji yang setara, tidak ada perbedaan yang signifikan.

Komentar