close
Nuga Sport

“Bila di Yamaha Gaji Saya Melebihi Rossi”

Jorge Lorenzo  yang musim depan akan hijrah ke Ducati mengingatkan Valentino Rossi bahwa  nilai kontrak bisa saja  lebih besar dari “the doctor”  kalau ia memutuskan untuk bertahan di Yamaha.

Lorenzo membuat keputusan besar tahun ini dengan memilih pindah ke Ducati di akhir musim setelah terjadi perselisihan tajam dengan Rossi  dan oleh media disebut sebagai salah satu pemicu ia hengkang.

kepada “speedweek,” Rabu, 26 Oktober 2016,  Lorenzo  mengungkapkan  ia memiliki kesempatan untuk bertahan di Yamaha, namun tak mengambil opsi tersebut.

Lorenzo bahkan mengaku diiming-imingi kontrak besar oleh Yamaha.

“Saya bisa saja memilih bertahan di Yamaha dengan kontrak yang besar. Saya akan mendapatkan kontrak terbaik, lebih besar dari yang ditawarkan kepada Rossi.”

“Namun saya adalah pihak yang membuat keputusan dan saya memilih untuk pergi ke Ducati,” ujar Lorenzo kepada La Gazzetta dello Sport.

Sejak turun ke kelas MotoGP, Lorenzo langsung memperkuat Yamaha. Sepanjang kariernya bersama Yamaha, Lorenzo berhasil meraih tiga kali juara dunia, , serta jadi pebalap Spanyol pertama yang mampu melakukannya.

Keputusan Lorenzo hengkang ke Ducati sendiri membuat pergerakan besar di dunia MotoGP.

Dengan hengkangnya Lorenzo ke Ducati, maka Yamaha memutuskan untuk mengambil Maverick Vinales sebagai pendamping Rossi musim depan.

Pebalap Ducati, Andrea Iannone, yang tempatnya hilang diambil oleh Lorenzo akhirnya merapat ke Suzuki untuk menggantikan Vinales.

Saat ini Lorenzo ada di posisi ketiga klasemen  Ia tertinggal dua puluh empat angka dari Rossi yang ada di posisi kedua.

Peringkat ketiga milik Lorenzo juga dalam ancaman Vinales.

Jorge Lorenzo hanya mampu finis di urutan keenam pada GP Australia.

Ia pun kembali mengeluhkan kesulitan mengendalikan ban belakang yang ia alami sepanjang perlombaan.

Lorenzo yang start di posisi kedua belas mengaku tetap tak puas dengan keberhasilan finis di posisi keenam.

Menurut Lorenzo, dirinya tak bisa berlomba dengan maksimal karena kesulitan melakukan kontrol terhadap ban belakang.

“Temperatur yang ada di perlombaan kurang lebih sama dengan saat sesi pemanasan. Saya pun membuat waktu lap yang sama.”

“Namun menurunnya daya cengkram ban belakang memberikan dampak besar. Sejak awal saya tak merasakan daya cengkram yang baik. Semakin minim hal itu saya rasakan, itu berarti semakin besar perjuangan yang saya lakukan,” kata Lorenzo seperti dikutip dari Motorsport.

Bagi Lorenzo, gaya membalap dirinya yang terbilang lebih halus dibandingkan Valentino Rossi atau Pol Espargaro menuntut daya cengkram pada ban belakang yang lebih besar dibandingkan pebalap lain.

“Saya tipe pebalap yang lebih halus jadi lebih butuh daya cengkram yang lebih besar di ban belakang dibandingkan pebalap lainnya,” ucap Lorenzo.

Selain masalah daya cengkram ban belakang, Lorenzo juga mengeluhkan perangkat sistem elektronik Yamaha.

“Kemajuan yang kami alami terbilang minim bila dibandingkan Honda dan Suzuki. Itulah sebabnya kami tak lagi bisa menang sejak Barcelona. Performa kami dalam hal sistem elektronik tak ubahnya seperti saat kami menjalani seri pertama.”

“Sementara Honda dan Suzuki mengalami kemajuan dalam hal itu. Itulah mengapa Cal Crutchlow bisa menang, dan itulah mengapa Aleix Espargaro juga bisa bertarung memperebutkan podium,” kata Lorenzo.

Sementara itu, Maverick Vinales bertekad untuk bisa menggusur Jorge Lorenzo dari posisi ketiga klasemen dengan tampil bagus di dua seri tersisa, Malaysia dan Valencia.

Vinales sukses mengakhiri balapan GP Australia dengan duduk di posisi ketiga. Catatan itu membuat Vinales mengoleksi 181 poin dan duduk di posisi keempat klasemen.

Meskipun sudah dipastikan bakal pindah ke Yamaha musim depan, Vinales telah berjanji untuk tampil habis-habisan di sisa musim bersama Suzuki.

“Untuk bisa mengakhiri kompetisi musim ini dengan duduk di posisi kedua sangat sulit.”

“Valentino Rossi biasanya tampil bagus di Malaysia dan juga Valencia. Jadi saya harus bekerja keras untuk memangkas selisih angka yang ada,” kata Vinales seperti dikutip dari Motorsport.

Meski mengakui mimpi untuk meraih posisi kedua sulit diwujudkan, Vinales melihat peluang untuk menggusur Lorenzo sebagai sebuah hal yang lebih realistis. Vinales hanya tertinggal 11 poin dari Lorenzo.

“Posisi ketiga cukup dekat dengan saya, jadi saya akan memberikan segalanya untuk bisa mewujudkan hal itu,” ucap Vinales.

Vinales sendiri diproyeksi bakal jadi salah satu bintang besar MotoGP di masa depan.

Keputusannya bergabung dengan Yamaha akan menjadikannya kandidat serius peraih titel juara dunia, bersaing dengan nama-nama besar seperti Marc Marquez, Lorenzo, dan Rossi.

Tags : slide