Seandainya Rossi Tak Hengkang dari Honda

Penulis: Darmansyah

Selasa, 29 Januari 2019 | 09:34 WIB

Dibaca: 1 kali

Pembalap Yamaha Factory Racing, Valentino Rossi, blak-blakan terkait keputusan meninggalkan Repsol Honda pada lima belas tahun silam.

Hal itu disampaikan Rossi pada acara bertajuk “Che Tempo Che Fa” bersama Fabio Fazio di Rai 1.

The Doctor mengaku ia justru mendapat banyak hal positif usai pindah dari Honda ke Yamaha.

Setelah meraih juara dunia  The Doctor bergabung dengan Nastro Azzurro Honda

Usai pindah ke Repsol Honda, ia juga berhasil merebut gelar dunia . Tengah berada di tangga kesuksesan, pembalap asal Italia ini justru mengambil keputusan menggemparkan: Rossi pindah ke Yamaha.

Padahal, kala itu Yamaha sedang sangat terpuruk dan belum juara lagi  bersama Wayne Rainey.

Keputusan ini membuat Rossi mendapat cibiran dari banyak orang.

Akan tetapi, ia justru sukses memenangi balapan pertamanya bersama Yamaha, yakni di Sirkuit Welkom, Afrika Selatan pada 2004. Ia juga langsung sukses merebut dua gelar dunia secara beruntun.

“Afrika Selatan adalah kemenangan paling indah, momen bersejarah dalam karier saya, mengingat beberapa bulan sebelumnya saya pergi dari Honda. Bahkan, motor yang saya pakai kala itu kini ada di kamar tidur saya.”

“Satu motor lagi ada di kantor VR46, satu lagi di garasi dan di ruang keluarga rumah saya. Saya menyimpan semua motor saya. Mereka sudah melakukan banyak hal untuk saya,” bebernya.

Rossi menyatakan meninggalkan Repsol Honda bukanlah keputusan mudah. Ia yakin dirinya bisa meraih lebih banyak gelar dunia andai bertahan. Biar begitu, membenahi dan membawa Yamaha adalah tantangan menarik baginya.

“Saya sangat bangga atas apa yang saya lakukan  Tadinya saya membela Honda, dan bersama mereka saya bisa meraih gelar dunia selama bertahun-tahun. Tapi saya akhirnya memutuskan pindah ke Yamaha. Inilah yang membuat karier saya terasa lebih berarti,” ucap Rossi.

Rossi, menolak anggapan dirinya melambat di lintasan balap MotoGP karena faktor usia. The Doctor menilai motor Yamaha yang tak maksimal menunjang pembalap.

Pembalap kelahiran  Februari itu kini sudah menginjak usia tuan. MotoGP  musim ini  akan menjadi musim balap kelas utama  bagi Rossi.

Rossi mendominasi persaingan di trek MotoGP  Namun, ia kemudian gagal meraih gelar juara dunia dalam delapan musim terakhir.

“Tidak ada hubungannya dengan masalah umur. Saya tidak memikirkan risiko ketika sedang balapan,” kata Rossi dikutip Speedweek.

“Dan jika Anda mempertanyakan mengenai kemenangan Maverick Vinales di MotoGP Australia  dan saya tidak pernah menang lagi sejak MotoGP Assen , maka saya hanya bisa membalas bahwa setelan dan ban kami tidak baik di Phillip Island. Tetapi itu hanya dapat diketahui setelah balapan,” jelasnya.

“Setiap kali kalah, saya disarankan untuk pensiun. Itu biasa terjadi, hal yang sudah terjadi selama sepuluh tahun terakhir,” ujar pengoleksi tujuh gelar MotoGP ini

Rossi juga mengakui ketidakmampuan mesin Yamaha bersaing menjadi masalah tersendiri. Ia hanya menempati peringkat ketiga pada klasemen akhir, di bawah Marc Marquez dan Andrea Dovizioso.

“Kami mengalami masalah di Misano, Aragon, dan beberapa balapan lainnya. Kemenangan Maverick membantu seluruh anggota tim untuk mengubah suasana hati. Ini seperti pengulangan, karena kami menghadapi masa-masa sulit setelah kegagalan demi kegagalan,” tuturnya.

“Secara fisik, saya lebih baik dibanding setahun sebelumnya karena saya mengalami cedera  di balapan Enduro sebelum balapan di Misano, setelah itu saya merasa gampang letih setelah balapan,” ucap Rossi.

“Jujur terkadang sebelum cedera, itulah mengapa saya berlatih lebih keras pada musim dingin tahun lalu. Tetapi memang ada perbedaan antara pebalap muda dan saya.”

Komentar