Yang Terjadi pada Tubuh Kurang Protein

Penulis: Darmansyah

Rabu, 14 Juni 2017 | 08:45 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang bisa membantah protein tak dibutuhkan oleh tubuh?

Ya, protein memang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Sehingga saat kekurangan protein ada hal-hal yang bisa terjadi pada tubuh.

Dan apa saja yang bisa terjadi bila seseorang kekurangan protein?

Banyak sekali hal yang bisa terjadi pada tubuh.

Karena protein itu penting untuk semua fungsi tubuh kita. Misalnya untuk pembentukan sel-sel yang rusaki.

Ada banyak hal yang bisa terjadi pada tubuh jika kekuragan protein dalam jangka waktu yang lama.

Misalnya seperti penurunan fungsi tubuh.

Sebab protein merupakan zat pembangun untuk regenerasi sel, pembentuk enzim dan hormon. Kemudian tubuh akan mudah sakit karena protein berperan penting dalam kekebalan tubuh.

Pada anak, kekurangan protein dapat menyebabkan anak terkena penyakit kwashiorkor yang memiliki efek samping seperti cacat mental. Lalu kerusakan pada kuku dan rambut menjadi mudah rontik.

Kekurangan protein dapat menyebabkan menurunnya massa otot dan metabolisme tubuh.

Sehingga dapat menyebabkan tubuh mudah merasa lelah dan penurunan fungsi motorik.

Juga bisa menyebabkan anemia karena protein berperan dalam pembentukan sel darah merah.

Dapat juga menyebabkan sarcopenia, dementia dan penyakit degeneratif lainnya.

Selain olahraga, konsumsi nutrisi yang tepat merupakan hal yang tak boleh dilupakan saat Anda ingin melatih otot, termasuk otot perut.

Salah satu nutrisi yang penting adalah protein.

Namun demikian, Anda perlu memilih sumber protein yang tepat agar manfaatnya maksimal. Tak melulu harus dengan suplemen, sumber protein alami juga banyak yang sangat baik dan dianjurkan oleh pakar diet.

Nutrisionis sekaligus pakar kesehatan dari National Health Service Newcastle, Steven Brown, menjelaskan bahwa sumber protein tak melulu hanya dari daging-dagingan saja seperti yang kebanyakan orang tahu.

Ada begitu banyak bahan makanan lainnya yang juga kaya akan kandungan protein.

Ia mencontohkan, salah satunya adalah selai kacang.

Dibandingkan mengoleskan roti dengan selai buah yang umumnya mengandung gula untuk sarapan, Anda lebih dianjurkan untuk menggunakan selai kacang.

“Selain itu, jika Anda sangat menyukai yoghurt, Anda juga bisa mengganti yoghurt biasa dengan jenis yoghurt Greek. Yoghurt ini berisi protein dua kali lebih banyak. Kombinasikan dengan madu atau buah potong segar seperti raspberry dan blueberry untuk hasil terbaiknya,” imbuh Brown.

Untuk sarapan pun, ekstra protein bisa Anda dapatkan dengan memilih menu telur.

Menurut Brown, telur merupakan salah satu sumber protein yang sangat baik.

Selain membantu Anda memberi asupan pada otot, sarapan menu telur juga membuat Anda kenyang lebih lama. Untuk mengolahnya, telur lebih baik direbus daripada digoreng.

Jika lapar di tengah waktu makan, Anda bisa memilih camilan yang kaya akan protein seperti edamame.

Seporsi edamame yang setara dengan cangkir kecil, memiliki rata-rata 17 gram protein. Nilai plusnya, edamame juga memiliki kalori yang sedikit.

“Bagi Anda yang hobi makan sayuran, Anda bisa memilih brokoli. Brokoli memiliki protein yang cukup tinggi,” sambungnya

Suplemen penambah protein banyak dijual secara bebas sehingga dapat dikonsumsi dengan mudah.

Namun untuk pemakaiannya, perlukah konsultasikan dengan ahli terlebih dahulu?

Dalam mengonsumsi suplemen protein seseorang harus di bawah pengawasan dokter.

Pasalnya, mengonsumsi suplemen tanpa pengawasan dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter karena mengonsumsi protein terlalu banyak itu nggak bagus.

Bisa membebani ginjal dan nanti akhirnya gagal ginjal.

Jadi dalam jangka panjang bisa memberatkan fungsi ginjal. Kalau seminggu sekali atau dua kali itu nggak kenapa masih wajar.

Ssuplemen protein aman dikonsumsi pada seseorang yang tidak memiliki masalah kesehatan. Sebab takaran konsumsinya sudah sesuai dengan kebutuhan tubuh

Sedangkan, pada seseorang yang memiliki masalah kesehatan disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu.

Hal ini dilakukan agar fungsi ginjal bisa dicek apakah masih dapat berfungsi dengan baik atau tidak setelah mengonsumsi protein.

Eksim adalah kondisi kulit yang berkaitan dengan reaksi alergi. Ketika sedang kambuh penderitanya bisa mengalami keluhan gatal-gatal hebat dan muncul ruam merah di kulit.

Apa yang menyebabkan alergi bisa memicu eksim belum diketahui pasti. Namun menurut studi terbaru yang dipublikasi di jurnal Allergy and Clinical Immunology kemungkinan besar karena pengaruh protein spesifik bernama filaggrin.

Filaggrin sendiri adalah protein yang berfungsi untuk mengikat serat keratin di kulit. Pada orang dengan kerentanan eksim, diketahui protein filaggrin di tubuhnya hanya sedikit.

Eksperimen pada model kulit yang dilakukan di laboratorium menunjukkan ketika protein filaggrin hanya sedikit maka sel-sel menjadi lebih rapuh menghadapi respons stres. Akibatnya timbullah keluhan seperti eksim.

Kami telah mendemonstrasikan untuk pertama kalinya bagaimana hilangnya protein filaggrin saja dapat mengubah protein-protein kunci dan pola yang memicu eksim,” ungkap pemimpin studi Nick Reynolds dari Newcastle University seperti dikutip dari EurekAlert

Nina Goad dari Asosiasi Dermatolog Inggris mengatakan dengan temuan tersebut pengobatan untuk eksim kini dapat semakin berkembang.

Ke depannya mungkin saja obat dibuat untuk menargetkan pemicu eksim karena selama ini obat yang ada hanya bisa meringankan gejala saja.

Komentar