Workaholic Itu “Candu” Bukan “Gila” Kerja

Penulis: Darmansyah

Selasa, 13 Maret 2018 | 15:39 WIB

Dibaca: 1 kali

Apakah Anda tahu workaholic?

Itu, pecandu kerja.

Dan apakah Anda termasuk salah satunya?

Dan sebaiknya sebelum dibahas secara detil Anda perlu tahu lebih dahulu apa bedanya pekerja keras dan pecandu kerja

Membedakan keduanya memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dibedakan. Bekerja memang jadi salah satu cara untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri.

Apalagi buat orang yang baru masuk usia produktif.

Akan tetapi, dalam situasi tertentu, banyak orang jadi terobsesi dengan pekerjaannya sehingga rela kerja lembur setiap malam, bahkan di hari libur sekalipun.

Seperti apa ciri-ciri seorang workaholic?

Dan apakah Anda termasuk workaholic?

Penelitian menemukan bahwa tujuh koma delapan persen orang di dunia ini tergolong dalam kategori pecandu kerja atau workaholic.

Orang-orang yang memiliki sebutan ini lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja atau bisa dikatakan melebihi jam normal.

Para pecandu kerja mungkin ‘memanfaatkan’ pekerjaan mereka untuk mengurangi rasa bersalah dan cemas karena masalah tertentu.

Gila bekerja juga bisa membuat seseorang meninggalkan hobi, olahraga, atau hubungannya dengan orang-orang terdekat.

Kecanduan kerja, atau gila kerja, atau yang lebih dikenal dengan workaholism pertama kali digunakan untuk menggambarkan kebutuhan yang tidak terkendali untuk terus bekerja.

Orang yang disebut dengan workaholic adalah seseorang yang memiliki kondisi ini.

Meskipun istilah pecandu kerja telah dikenal secara luas dalam masyarakat, namun gila kerja atau workaholism bukanlah kondisi medis

Lantas mengapa ia tidak diakui kondisi medisi?

Itu, karena kecanduan kerja masih bisa dilihat sisi positifnya, tidak selalu dianggap jadi masalah.

Kerja yang berlebihan terkadang bisa dihargai secara finansial maupun budaya.

Kecanduan kerja bisa menjadi masalah jika sudah menimbulkan masalah dengan cara yang sama dengan kecanduan lainnya.

Lalu mengapa ada istilah workaholic? Sebenarnya istilah ini muncul dari kalangan awam, bukan medis.

Workaholic dianggap sama seperti alcoholic, yaitu orang yang kecanduan alkohol.

Selain itu, kecanduan kerja juga tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang normal karena bisa menimbulkan beberapa masalah pada diri workaholic.

Meski kerja secara berlebihan sering dianggap baik dan bahkan dihargai, namun kecanduan kerja di luar batas normal akan menimbulkan masalah.

Seperti kecanduan lainnya, kecanduan kerja didorong oleh paksaan, dan bukan karena rasa dedikasi pada pekerjaan secara wajar.

Pada kenyataannya, orang-orang yang menjadi korban kecanduan kerja mungkin sangat tidak senang dan menderita karena bekerja, mereka mungkin terlalu memikirkan pekerjaan dan merasa tidak dapat mengendalikan keinginan mereka untuk bekerja.

Para pecandu kerja ini mungkin menghabiskan begitu banyak waktu dan energi pada pekerjaan dan hal ini kemungkinan besar akan menganggu aktivitas di luar pekerjaan.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa tekanan berlebihan di lingkungan kerja bisa meningkatkan risiko gangguan jiwa serius seperti depresi.

Orang yang kecanduan kerja juga mungkin kurang memerhatikan kesehatannya karena kurang tidur, kurang makan, dan mengonsumsi kafein secara berlebihan.

Lantas seperti apa ciri-ciri seorang workaholic?

Ciri utamanya adalah meningkatnya kesibukan tanpa peningkatan produktivitas.

Selain itu mereka terobsesi untuk bekerja lebih banyak, lebih lama, dan lebih sibuk, menghabiskan lebih banyak waktu bekerja daripada yang Anda diinginkan dan bekerja secara berlebihan untuk mempertahankan harga diri.

Begitu juga mereka yang bekerja untuk mengurangi perasaan bersalah, depresi, cemas, atau putus asa, mengabaikan saran atau permintaan dari orang lain untuk mengurangi pekerjaan dan memiliki masalah pribadi dengan keluarga, kekasih, atau teman dekat karena kesibukan pekerjaan.

Jika Anda merasa bahwa Anda telah menjadi seorang pecandu kerja, cobalah beristirahat dan pahami perasaan Anda. Perhatikan kalau Anda merasakan gejala-gejala stres dan depresi.

 

Komentar