Wanita Diuntungkan Oleh Hormon Estrogen

Penulis: Darmansyah

Rabu, 4 Januari 2017 | 09:35 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda tahu apa itu hormon estrogen?

Ya, hormon estrogen  adalah hormon khas wanita.

Dan sebagian besar wanita tidak mengenal hormon ini.

Menurut para ahli, berdasarkan studi  berkelanjutan, jumlah estrogen dalam tubuh, terutama wanita,  haruslah seimbang dengan hormon lainnya

“Tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah,”  tulis media kesehatan khusus wanita, Shpae,” hari ini.

Lantas , bagaimana kalau hormon ini berlebihan?

Nah, pengalaman Beth Blair dari Inggris,  untuk mengetahui bagaimana jadinya jika kita kelebihan hormon estrogen.

Seperti yang ia kisahkan, ketika pertama bertemu dengan pelatih saya, Tomery, dia melihat saya dari atas ke bawah dan berkata, “Saya ingin Anda melakukan tes untuk mengukur tingkat estrogen. Kita akan menemukan beberapa hal yang menarik.”

Hasil tes air liur saya memang menunjukkan beberapa hal menarik, termasuk bahwa estrogen saya sangat tinggi.

Sebagai seorang wanita berusia paruh baya, seharusnya saya memiliki estradiol + estrone: rasio progesteron antara sepuluh berbanding satu dan empat belas berbanding satu.

Namun, rasio saya adalah enam ratus lebih berbanding satu.

Hal pertama yang saya ingin tahu adalah, bagaimana Tomery tahu “keanehan” level estrogen saya.

Dia menjelaskan bahwa wanita,  dan kadang-kadang pria,  dengan estrogen yang tinggi cenderung “menumpuk” berat badan mereka di pinggul dan bagian tengah tubuh.

Saya adalah contoh yang sempurna.

Pertanyaan saya berikutnya adalah, “Apa efeknya jika level estrogen saya tinggi?”

“Apakah saya ekstra feminin?” kata saya sambil tertawa.

Ternyata estrogen yang tinggi bukanlah hal yang lucu. Ini dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, kista ovarium, endometriosis, depresi, PMS, serta kanker payudara, ovarium, ataupun rahim.

Hal tersebut juga berperan dalam perubahan payudara fibrokistik, yang menjelaskan mengapa setiap kali saya melakukan tes mamografi, dokter memanggil saya kembali untuk pemeriksaan tambahan karena jaringan payudara yang sangat padat.

Saya berbicara dengan dokter ahli tentang strategi untuk menurunkan estrogen. Dokter menganjurkan agar saya berhenti minum susu kedelai (dulu, saya meminumnya setiap hari).

Sekarang, saya beralih ke susu almon dan kelapa.

Dokter juga mengatakan, beberapa bahan kimia dan makanan dapat meningkatkan kadar estrogen.

Karena itu, dia menyarankan saya memilih buah-buahan dan sayuran organik dan mengutamakan konsumsi sayuran cruciferous, seperti kembang kol dan brokoli, karena beberapa studi menunjukkan mereka dapat membantu menurunkan kadar estrogen.

Tomery dan dr Lauren juga meminta saya menghentikan konsumsi alkohol. Ini adalah kunci menurunkan kadar estrogen. Hati bertugas memetabolisme hormon, dan alkohol dapat memengaruhi proses tersebut.

Tomery memperingatkan, menurunkan kadar estrogen akan memakan waktu, begitu juga usaha saya menurunkan berat badan.

Sejauh ini, dia benar.

Berat badan saya tidak jatuh secepat yang saya harapkan, tetapi saya mulai merasakan otot lengan dan kaki menjadi lebih kencang.

Positifnya, saya tidak mengalami PMS seperti kram perut yang terlalu berat.

Saya akan menjalani beberapa pemeriksaan lagi untuk memastikan semuanya baik-baik saja dan untuk mengetahui perkembangan usaha yang saya lakukan.

Saya sudah membuat begitu banyak perubahan sehat, dan saya tahu bahwa itu memberikan kontribusi kesehatan jangka panjang. Saya merasa optimistis.

Nah, supaya Anda juga tahu, wanita memang lebih diuntungkan memiliki kadar hormon estrogen yang tinggi.

Hormon ini menjadikan mereka lebih terlindungi dari sumbatan plak pada pembuluh darah yang bisa memicu penyakit jantung.

Kendati demikian, saat jumlah hormon estrogen mulai menurun atau dikenal juga dengan masa menopause, wanita menghadapi risiko penyakit jantung yang sama dengan pria.

Bahkan jika terjadi serangan jantung, gejalanya mengakibatkan komplikasi dan lebih berbahaya.

Pada wanita menopause, serangan jantung yang terjadi bisa lebih rumit dibandingkan pria.

Biasanya juga terjadi komplikasi seperti bocor atau rusaknya katup jantung, bisa juga terdapat lubang di bilik jantung

Perbedaan risiko pria dan wanita terkena penyakit jantung memang lebih banyak disebabkan oleh faktor hormonal.

Hormon estrogen yang mempertahankan siklus menstruasi dan kehamilan, akan menjaga pembuluh darah lebih elastis dan licin.

Risiko penumpukan plak pada dinding pembuluh darah pun berkurang.

Penumpukan plak di dinding pembuluh darah akan memicu penyumbatan yang menghalangi aliran darah.

Saat terjadinya sumbatan, maka terjadilah serangan jantung.

Sementara penyakit penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah pada arteri jantung disebut juga dengan penyakit jantung koroner.

Pertambahan usia dan menurunnya kadar estrogen akan membuat risiko wanita terkena penyakit jantung meningkat, bahkan menyamai pria.

Meski belum memasuki masa menopause pun, wanita tetap wajib menghindari faktor-faktor risiko PJK.

Komentar