“Usir” Diabetes Lewat Diet Mediterania

Penulis: Darmansyah

Kamis, 23 Februari 2017 | 09:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Media terkenal Inggris, “the sun,” hari ini, Kamis, membawa kabar gembira untuk mereka yang mengkhawatirkan kedatangan diabetes dengan menerapkan secara disiplin diet mediteranian.

“Diet mediterania,” tulis “the sun,” mampu menekan resiko diabetes”

Menurut “the sun,” sebuah studi baru menemukan, satu porsi mentega atau sekitar dua belas gram mentega- satu sendok makan- sudah cukup untuk membuat risiko diabetes menjadi tinggi.

Terlebih bila Anda mengonsumsinya hampir setiap hari.

Lemak jenuh yang tidak sehat dalam mentega, serta kandungan gula dalam roti dikatakan menjadi penyebab utama diabetes oleh para peneliti yang telah memantau diet dari tiga ribuan orang responden.

Mereka yang terlibat sebagai peserta penelitian, memang didiagnosis memiliki risiko tinggi penyakit jantung atau stroke, tetapi tidak memiliki diabetes pada awal penelitian.

Dalam jangka waktu empat setengah  tahun, peserta yang rutin konsumsi roti panggang dengan mentega atau butter, dua ratus enam puluh enam di antaranya mengalami diabetes tipe 2.

Tetapi, responden yang mengonsumsi sarapan yang sama, namun menjalankan diet Mediterania yang kaya buah dan sayuran, sereal gandum, minyak zaitun, serta ikan dan unggas pada waktu makan berikutnya, mengalami penurunan risiko.

Penelitian di Spanyol, yang melibatkan para ahli dari Harvard University di Amerika Serikat ini, menekankan untuk lebih banyak mengonsumsi lemak sehat, yang bersumber dari kacang-kacangan, biji-bijian, ikan maupun unggas.

Mereka tidak menyarankan untuk banyak mengonsumsi minyak yang berasal dari hewan, seperti daging merah serta butter.

Dr Marta Guasch-Ferre, salah satu pemimpin penelitian, mengatakan, “Temuan ini menekankan manfaat sehat dari diet Mediterania untuk mencegah penyakit kronis, terutama diabetes tipe 2.”

Untuk Anda tahu, secara medis kedokteran, masalah diabetes melitus atau kencing manis belum ada obatnya.

Yang ada adalah mengendalikannya dengan mengubah gaya hidup dan pola makan. Akan tetapi, info yang bertebaran di dunia maya sungguh berbeda.

Pengobatan alternatif menjadi pilihan menarik ketika penderita sudah frustrasi dengan penyakit seumur hidup itu.

Bahan herbal, terutama dari dedaunan, paling banyak ditawarkan, sekalipun hanya satu-dua yang diteliti dan tanpa uji klinis.

Dibumbui kata-kata bombastis yang menghipnotis, seperti “diabetes sembuh seketika berkat ramuan daun ini”, orang pun berbondong mencobanya.

Jika dicermati, ada kerancuan pemahaman antara penyembuhan dan penurunan kadar gula darah. Ini menunjukkan rendahnya pemahaman terhadap diabetes. Memang ada tumbuhan yang bisa membantu menurunkan kadar gula darah sewaktu, tetapi bukan untuk penyembuhan permanen.

Artinya, jika tidak mengonsumsi daun itu, gula darah akan naik lagi, sama fungsinya seperti pil dari dokter.

Dengan tablet bahkan lebih mudah mengukur dosis dan jauh lebih praktis daripada minum ramuan daun.

Ada jenis pil sulphonylurea yang berfungsi menstimulasi kelenjar pankreas dan biguanides yang mengefektifkan kerja insulin.

Hal itu pun hanya menyangkut penanganan diabetes tipe II akibat produksi insulin di tubuh kurang.

Berbeda dengan penderita tipe I, pankreas tak bisa atau amat kurang menghasilkan insulin sehingga perlu suntikan insulin setiap kali makan.

Bayangkan bagaimana repotnya menyiapkan rebusan daun sukun, daun sirsak, atau daun kersen yang diklaim bisa menurunkan glikogen.

Setidaknya ada dua puluh lima jenis daun-belum termasuk jenis buah dan sayuran-yang diklaim mampu mengatasi diabetes, dan sebagian besar sulit diperoleh.

Namun, hampir semua tidak ada penjelasan kenapa bisa menyembuhkan. Yang ada, pengakuan sepihak dan testimoni. Disinformasi itu kerap menjadi pengantar pemasaran kapsul ekstrak daun atau buah.

Memang, di antaranya ada yang menarik, seperti upaya meneliti daun insulin

Peneliti daun yakon meyakini, daun yakon lebih berkhasiat daripada daun paitan. Yakon diklaim mengandung insulin dan mampu memperbaiki sel beta, pembuat insulin dalam pankreas yang rusak. Namun, itu baru dicobakan pada tikus.

Tentu masih banyak pertanyaan, seperti bagaimana bisa mempertahankan kualitas insulin jika yakon dikonsumsi secara oral. Sampai saat ini belum ada insulin oral karena hormon insulin yang merupakan protein itu akan rusak ketika terkena enzim atau asam lambung. Karena itu, pemakaian insulin dari luar harus selalu disuntikkan.

Upaya membuat pil insulin sudah lama dilakukan, tetapi kalau tidak gagal, ya, terlalu mahal.

Saat ini pengembangan pil insulin masih dalam tahap uji klinis, seperti dilakukan peneliti Universitas Niagara, Amerika Serikat. Pil yang mereka sebut cholestosome memakai polimer semacam lemak) untuk membungkus insulin agar bisa melewati lambung dengan aman.

Sebenarnya penanganan diabetes secara medis sudah maju pesat, terutama dalam hal pengendalian. Contohnya, bagaimana memantau gula darah dalam tubuh tanpa harus mengeluarkan darah dengan cara menusukkan jarum ke ujung jari.

Pakar kimia Universitas Pittsburgh, AS, telah membuat alat untuk menganalisis embusan pernapasan. Aroma urine pun bisa dideteksi, bahkan hidung terlatih bisa mengetahui tinggi atau rendah gula darah.

Google telah membuat arloji pintar yang mampu mendeteksi kadar gula darah pemakainya. Mahasiswa pascasarjana Universitas California, San Diego, AS, membuat sensor glukosa dengan perangkat seperti tato.

Upaya penyembuhan secara tetap bisa diharapkan dari metode sel punca, yakni menanamkan atau menumbuhkan sel baru yang rusak. Cara itu diharapkan menjadi cara penyembuhan atau pemulihan penyakit degeneratif.

Komentar