close
Nuga Sehat

Tidur Lebih 10 Jam bagi Pria Bisa Kanker

Sebuah studi baru yang ditulis  jurnal Annals of Medicine, Rabu, 09 November 2016,   mengingatkan para lelaki untuk tidak tidur di luar waktu tujuh hingga delapan jam perhari karena “kelebihan” dari waktu standar itu  bisa memicu kanker.

“Kurang tidur memang bisa meningkatkan berbagai macam risiko kesehatan, namun terlalu banyak tidur, yaitu lebih dari sepuluh jam, juga bisa meningkatkan risiko kanker bagi pria,” tulis jurnal itu.

Selanjutnya diingatkan, lelaki yang tidur lebih dari  sepuluh jam per hari, empat puluh persennya mungkin untuk mengembangkan kanker”

Studi  yang dipimpin oleh para ilmuwan di Huazhong University of Science and Technology di China, melibatkan  dua puluhan ribu responden  setengah baya dan lebih tua yang telah pensiun dari Dongfeng Motor Corporation.

Ditemukan,  pria yang bekerja dalam shift malam, dua puluh tujuh persen lebih berisiko terkena kanker ketimbang mereka yang bekerja pada jam normal.

Bila shift malam membuat pria kurang tidur atau justru tidur lebih dari sepuluh jam, risiko terkena kanker meningkat menjadi empat puluh tiga persen dan dua kali lebih mungkin untuk meninggal akibat penyakit mematikan.

Studi ini mengatakan bahwa orang-orang yang bekerja shift malam lebih berisiko terkena kanker karena bekerja di malam hari akan mengganggu siklus alami tubuh, ditambah dengan kurang tidur atau justru kelebihan tidur.

Dan ini termasuk paparan cahaya buatan, semuanya dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, yang meningkatkan kemungkinan kanker berkembang.

Walau begitu, peneliti menekankan bahwa kanker timbul akibat efek gabungan antara tidur lebih dari sepuluh jam dan seringnya bekerja shift malam.

Sehingga, peneliti belum mendapati apakah tidur lebih dari sepuluh jam semalam bagi pria yang tidak bekerja shift malam akan tetap meningkatkan risiko kanker yang sama.

Selain kelebihan tidur, kekurangan tidur juga memengaruhi kondisi fisik dan pskis.

“Zaman sekarang, rata-rata orang dewasa memiliki waktu tidur satu setengah jam lebih sedikit, dibandingkan dengan rata-rata orang dewasa  seratus tahun yang lalu,” ujar Yelena Pyatkevich, MD, direktur divisi neurologi dan klinik gangguan tidur di Boston Medical Center.

Hal ini bukan sesuatu yang bagus.

Kurang tidur bukan saja menyebabkan kita lelah dan mengantuk pada siang hari, melainkan juga berkontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit.

Seorang ahli tidur, dr Pyatkevich dan Dianne Augelli, MD, di New York Presbyterian Hospital dan Weill Cornell Medicine di New York, mengungkapkan, beginilah yang terjadi pada tubuh kita jika kita kurang istirahat.

Kurang tidur, walau hanya semalam, menurut Augelli, dapat berefek negatif pada kemampuan kognisi, memori, belajar, dan pengolahan data di otak.

Kita perlu tidur sebagai bagian dari proses konsolidasi memori dan belajar. Perlu diingat, efek ini adalah efek jangka pendek. Artinya, jika malam berikutnya Anda cukup tidur, kemampuan otak Anda akan kembali normal.

“Dalam jangka panjang, kurang tidur bisa menyebabkan depresi dan kecemasan,” kata Augelli.

Namun, yang menarik, kurang tidur dalam semalam tidak menyebabkan depresi secara langsung. Hari pertama tanpa tidur justru dapat meningkatkan suasana hati.

“Suasana hati meningkat mungkin karena tubuh melepas neurotransmitter tertentu dan hormon lainnya untuk memastikan bahwa satu sama lainnya terjaga,” tambah Augelli.

Namun, peningkatan suasana hati ini tidak akan bertahan lama. Setelah itu, suasana hati Anda akan mengarah ke depresi dan cemas, jika Anda masih terus kurang tidur.

Hasil sebuah studi  tiga tahun lalu yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Cleveland dan didanai oleh produk perawatan kulit raksasa Estee Lauder menunjukkan bahwa ada korelasi antara kurang tidur dan penuaan kulit.

Kurang tidur menyebabkan munculnya keriput hingga bintik-bintik gelap pada kulit.

“Efek kurang tidur bisa muncul dalam bentuk peningkatan nafsu makan,” kata Augelli. Ketika kurang tidur, tingkat hormon ghrelin Anda meningkat.

Ghrelin adalah hormon yang bertanggung jawab untuk memberi sinyal ke otak bahwa Anda lapar.

Metabolisme yang melambat juga dapat terjadi ketika Anda tidak cukup tidur. “Dalam jangka panjang, akan terjadi perubahan metabolisme karena tubuh Anda tidak lagi mengolah makanan yang masuk dengan cara yang sama, menciptakan resistensi insulin. Tubuh Anda akan cenderung untuk menyimpan lebih dari apa yang Anda makan, bukan diolah seperti biasanya,” ujar Augelli.

Resistensi insulin juga dapat menciptakan kondisi pra-diabetes, yang jika terus dibiarkan akan berkembang menjadi diabetes.

Tidur adalah waktu ketika tubuh kita kembali ke keadaan normal dan santai. Saat itu, tekanan darah dan denyut jantung melambat sebagai tanda tubuh sedang mengadakan perbaikan.

Kehilangan waktu tidur berarti kehilangan proses tubuh memperbaiki dirinya sendiri dan dapat menyebabkan kadar hormon stres naik, menyebabkan tekanan darah ikut naik sehingga kesehatan jantung memburuk.

Kurang tidur juga dapat menurunkan hasrat seksual dan kinerja atletik pada hari berikutnya.

Sangat penting bagi Anda untuk mendapatkan tidur yang cukup, jika ingin mempertahankan kinerja atletik atau kemampuan Anda berolahraga dan beraktivitas fisik.

“Sistem kekebalan tubuh Anda terganggu ketika Anda tidak cukup tidur, walau hanya satu malam,” kata Augelli.

Pyatkevich mencatat bahwa kita cenderung lemah dalam melawan pneumonia dan infeksi virus ketika kurang istirahat.