Tidur dan Hubungannya dengan Makan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 7 April 2015 | 14:50 WIB

Dibaca: 1 kali

Tidur itu sebuah rahasia panjang yang belum seluruhnya bisa diungkapkan manfaatnya.

Para ahli, sejak lama, kesulitan menentukan manfaat tidur dan hanya bisa menjelaskan dampaknya.

Jika ditanya tentang manfaat tidur, maka para ahli akan menjawab tidak tahu. Mereka hanya tahu akibatnya jika kita kekurangan tidur.

Itu karena selama ini, segala penelitian di bidang tidur memang tak bisa secara langsung meneliti manfaat tidur.

Satu-satunya cara meneliti adalah dengan melihat efeknya pada seseorang jika tidurnya dikurangi.

Ketika kekurangan tidur atau menderita penyakit tidur, atau “sleep anea,” seseorang mengalami penurunan fungsi-fungsi otak.

Selain itu, terjadi perubahan-perubahan hormonal yang pada akhirnya akan mengganggu fungsi-fungsi organ tubuh hingga berakibat pada berbagai penyakit.

Para ahli telah menunjuk penurunan daya tahan tubuh, peningkatan tekanan darah, penurunan fungsi jantung, gangguan metabolisme, hingga yang paling mudah dilihat adalah penurunan kualitas kulit.

Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa penyakit penurunan fungsi saraf juga dicurigai turut diperburuk oleh kekurangan tidur atau penyakit tidur. Sebut saja alzheimer, demensia, atau penyakit parkinson.

Jurnal Science menerbitkan sebuah penelitian yang mungkin memberikan sedikit pencerahan tentang manfaat tidur secara langsung.

Penelitian ini menyebutkan bahwa tidur berfungsi sebagai detoks dari bahan-bahan sisa tak terpakai otak.

Tubuh kita memiliki sebuah sistem untuk membuang sisa-sisa pembakaran tubuh yang tak terpakai. Sistem memiliki punya fungsi ini. Namun, otak tak memiliki sistem limfatik.

Otak memiliki sistemnya sendiri. Blood brain barrier misalnya, ia berfungsi sebagai semacam penyaring bahan-bahan apa saja yang bisa masuk atau keluar dari otak.

Para ahli menyebutkan sebuah sistem pada otak yang disebut sebagai sistem glymphatic, yang diambil dari nama sel-sel glial dan sistem limfatik. Sel-sel glial juga telah diketahui berperan dalam proses pembuangan zat-zat tak terpakai.

Sistem glymphatic ini diketahui sebagai sistem yang membuang amiloid beta, sebuah metabolit yang dipercaya oleh para ahli berperan dalam berkembangnya penyakit Alzheimer.

Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara tidur cukup dengan berat badan ideal.Tidur kurang dari delapan jam menimbulkan kebiasaan makan buruk yang bisa menambah berat badan.

Penelitian telah menemukan hubungan antara kecukupan tidur dengan metabolisme dan berat badan. Penelitian baru mengatakan bahwa kurang tidur bisa meningkatkan risiko obesitas sebanyak lima p[uluh persen.

Gangguan tidur dan dorongan makan berlebihan dilihat saling berkaitan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Perancis National Institute of Sleep and Vigilance.

Penelitian mereka menunjukkan peningkatan risiko kelebihan berat badan atau obesitas pada mereka yang kurang tidur.

Obesitas dalam penelitian ini lebih umum ditemukan pada pemuda yang kurang tidur. Tidur kurang dari enam jam per malam juga telah ditemukan dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan

Studi ini menyoroti bahwa insomnia juga lebih umum di kalangan penderita obesitas.

Petunjuk lain adalah bahwa kebiasaan tidur yang buruk juga menyebabkan kebiasaan makan yang buruk pula.

Akibatnya, ngemil di luar waktu makan meningkat, yaitu pada malam hari, ketika keinginan tubuh untuk mendapatkan energi tinggi dari makanan manis sering terjadi karena kelelahan.

Satu tim penelitian di Perancis baru-baru ini juga melaporkan mengenai hubungan cara makan dan kebiasaan tidur.

Mereka menganjurkan untuk tidak melewatkan jam maka\n malam.

“Jika tubuh tidak mengonsumsi energi yang cukup, tidur akan terfragmentasi. Seseorang harus makan cukup untuk membuatnya bisa istirahat dengan tenang sampai pagi,” jelas Presiden INSV, Damien Léger.

Perlu dicatat bahwa makan malam sebaiknya konsumsi makanan yang ringan, namun punya gizi seimbang dan mudah dicerna.

Makan daging untuk makan siang, karbohidrat untuk makan malam

Makanan yang kaya protein, seperti daging, cenderung meningkatkan kewaspadaan, sehingga orang-orang yang sulit tidur perlu menghindari protein saat makan malam.

Sementara itu, untuk makan malam, cobalah karbohidrat yang lambat seperti kentang, pasta gandum, atau beras merah, dan produk susu yang dikenal baik dapat membantu tidur. Penting juga untuk memastikan makan malam dilakukan dua sampai tiga jam sebelum tidur.

Kebanyakan penderita insomnia menghindari kopi dan soda berkafein di sore hari, tetapi penting untuk diingat bahwa, kakao dan teh juga harus dikonsumsi dalam jumlah sedang.

Kafein membutuhkan waktu beberapa jam untuk hilang dari tubuh karena, setengah dari jumlah yang dikonsumsi bisa bertahan dalam aliran darah selama empat sampai lima jam setelah tegukan terakhir
Untuk alasan ini, dianjurkan untuk menghindari minuman berkafein setelah pukul tiga sore.

dari berbagai sumber ………:

Komentar