Tidur Cukup Asupan Sehat, Puasa Lancar

Penulis: Darmansyah

Minggu, 6 Juli 2014 | 13:24 WIB

Dibaca: 0 kali

Ada dua faktor yang menjadi perhatian setiap orang berpuasa. Menurut para ahli kesehatan, kedua faktor itu adalah kecukupan tidur dan asupan sehat. Dengan menarapkan aturan pada dua hal ini kesehatan secara menyeluruh akan terjaga sehingga memudahkan melewati Ramadhan dengan berkah.
Tentang kecukupan tidur, Anda harus tahu kesehatan tidur sangat mempengaruhi kenikmatan berpuasa.

Sebab tidur yang sehat sama pentingnya bagi kesehatan seperti menjaga nutrisi dan berolahraga. Mengabaikan kesehatan tidur akan berakibat buruk bagi

Perhatikanlah perubahan pola tidur saat berpuasa. Kondisi kurang tidur, seperti yang sering diabaikan oleh orang berpuasa, telah diketahui akan mendorong perubahan hormonal yang akan memicu reaksi berantai yang buruk bagi kesehatan.

Saat kekurangan tidur, tubuh akan bereaksi dengan meningkatkan hormon ghrelin dan menekan leptin. Ghrelin fungsinya meningkatkan nafsu makan sedangkan leptin berperan dalam menekan nafsu makan.
Akibatnya nafsu makan seolah tak terbendung. Di otak juga terjadi berbagai perubahan yang mendorong seseorang untuk mencari makanan yang bersifat asin, manis dan gurih. Akibatnya saat berbuka seseorang jadi cenderung “balas dendam”.

Kurang tidur juga diketahui membuat tubuh berada dalam kondisi “stress”. Akibatnya metabolisme pun turut terganggu. Respons tubuh akan secara otomatis meningkatkan tekanan darah dan kekentalan darah. Resiko penyakit jantung dan pembuluh darah tentu jadi meningkat.

Lemas saat berpuasa, apa benar akibat berkurangnya asupan gizi? Belum tentu. Coba saja tambahkan jam tidur, apakah masih akan selemas itu?

Perubahan pola tidurlah yang sebabkan seseorang jadi lemas dan kurang bersemangat. Ketahuilah bahwa penambahan suplemen di saat sahur tentu bermanfaat. Kita lebih segar dan bugar. Tapi berbagai suplemen ini tak ada yang dapat menggantikan efek restoratif tidur. Kemampuan otak tetap akan melemah seiring dengan semakin berkurangnya tidur.

Mensiasati pola tidur selama berpuasa, ada cara jitu yang bisa ditempuh. Coba majukan jam tidur di malam hari. Terutama bagi para ibu yang harus bangun paling awal untuk menyiapkan santapan sahur.
Di siang hari, ketika ada waktu, sempatkan untuk beristirahat. Buat suasana yang nyaman dan gelap untuk tidur siang.

Bagi yang bekerja, manfaatkan waktu istirahat siang untuk beribadah dan tidur siang. Dengan demikian kita bangun segar dan dapat lebih produktif mengerjakan tugas-tugas.

Selain tidur pola makan juga harus disesuaikan. Bukankah pada saat berpuasa, terutama setelah enam sampai delapan jam perut kosong bisa terjadi peningkatan asam lambung yang dapat menimbulkan gejala sakit maag.

Keadaan ini biasanya berlangsung hanya pada minggu pertama puasa dan gejala ini Insya Allah tidak dirasakan lagi pada minggu-minggu berikutnya.

Pada orang yang sehat, keadaan ini dapat diatasi dengan pilihan makan yang tepat saat berbuka dan sahur, serta kegiatan yang tidak menyebabkan terjadinya peningkatan udara di dalam lambung, serta peningkatan asam lambung.

Adapun pada orang yang memang terdapat gangguan lambung sebelumnya, puasa akan memperberat kondisi sakit lambungnya jika tidak diobati dengan tepat terutama pada minggu pertama.

Namun, jika sakit lambungnya diobati mereka yang mempunyai sakit lambung tadi dapat melakukan ibadah puasa seperti orang normal umumnya. Tetapi secara umum selanjutnya dengan keteraturan makan, mengurangi camilan yang tidak sehat dan pengendalian diri orang dengan sakit maag, sakit maag akan sembuh selama berpuasa.

Selama berpuasa, asupan makanan dan minuman harus menjadi perhatian terutama pada penderita sakit maag. Kita sebaiknya menghindarkan diri dari makanan yang menyebabkan atau memperberat gejala sakit maag.

Hindari makanan minuman yang banyak mengandung gas, antara lain sayuran tertentu seperti sawi atau kol. Buah-buahan tertentu juga perlu dihindari, misalnya nangka, pisang ambon, kedondong, buah yang dikeringkan.

Juga hindari makanan yang sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung karena hal ini dapat menyebabkan peningkatan peregangan di lambung yang akhirnya dapat meningkatkan asam lambung. Makanan tersebut antara lain makanan berlemak, kue tar, cokelat, dan keju.

Hindari juga makanan yang secara langsung merusak dinding lambung, yaitu makanan yang mengandung cuka dan pedas, merica dan bumbu yang merangsang. Makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah sehingga menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan, antara lain coklat, makanan tinggi lemak,dan gorengan.

Selain makanan minuman di atas, ada beberapa sumber karbohidrat yang harus dihindarkan bagi penderita sakit maag, antara lain beras ketan, mi, bihun, bulgur, jagung,ubi singkong, talas, dan dodol. Kegiatan yang meningkatkan gas di dalam lambung juga harus dihindari tentu setelah berbuka atau saat sahur, antara lain makan permen khususnya permen karet dan merokok.

Saat berbuka cukup dengan minuman yang manis dan tiga buah kurma setelah itu shalat Magrib dan setelah shalat bisa mengkonsumsi makanan besar dengan tetap memberhatikan jumlah makanan dan macam makanan yang dikonsumsi.

Kita mesti ingat bahwa dengan puasa membuat asupan makanan kita dikurangi. Oleh karena itu jumlah makan malam tetap seperti biasa dan bukan menggeser jumlah makan siang dikonsumi saat malam saat kita berbuka puasa.

Begitu pula saat sahur hindari makanan yang sulit dicerna dan yang terpenting juga kualitas makanan yang dikonsumsi saat sahur, Kadang kala karena terburu-buru kita hanya menghangatkan makanan saat sahur tanpa memperhatikan kualitas makanan tersebut.

Komentar