Tidur Buruk Bisa Menghilangkan Empati

Penulis: Darmansyah

Rabu, 12 Oktober 2016 | 13:43 WIB

Dibaca: 1 kali

Kurang tidur?

Ya. Yang pasti, dampak langsungnya kurang tidur  adalah hilangnya empati’

Laporan terbaru dari hasil studi  yang diterbitkan oleh Journal of Psychophysiology, dengan penulis utama Veronica Guadagni, M.Sc. dari  University of Calgary, mengatakan, “Jika individu memiliki kualitas tidur yang buruk mereka akan kehilangan empati.”

Contoh praktisnya, Anda mudah mengucapkan kata-kata menyakitkan ketika berargumen dengan pasangan atau kurang menanggapi dengan simpatik ketika ada klien yang frustasi.

Efek negatif kurang tidur adalah gangguan fungsi kognitif, yang secara khusus memengaruhi pengolahan mood dan emosional,” kata Guadagni.

“Kami meneliti dan menemukan bahwa kurang tidur walau hanya satu malam, mengakibatkan kemampuan empati peserta penelitian menjadi tumpul sama sekali.

Guadagni percaya bahwa kualitas tidur yang buruk bisa mengganggu komunikasi antara dua daerah otak yaitu sistem limbik yang terlibat dalam pengolahan emosi dan prefrontal korteks untuk pemantauan dan pengendalian respon emosional.

Jelaslah sudah, ketika Anda terlalu lelah karena kurang tidur, kemampuan Anda untuk mengelola emosi pasti berkurang.

Banyak atau sedikitnya, tergantung pada seberapa lelah atau seberapa kurangnya tidur Anda.

Empati adalah salah satu kunci dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial, itu berarti sebagai salah satu faktor penentu kebahagiaan.

Maka, jika Anda ingin merasa baik dan ingin bisa berbuat baik, pastikan malam ini Anda tidur nyenyak tidak kurang dari tujuh atau delapan jam.

Gangguan tidur adalah dampak dari banyak aktivitas dan stress yang  akhirnya membuat kita kurang istirahat.

“Zaman sekarang, rata-rata orang dewasa memiliki waktu tidur satu setengah jam lebih sedikit, dibandingkan dengan rata-rata orang dewasa seratus  tahun yang lalu,” ujar Yelena Pyatkevich, MD, direktur divisi neurologi dan klinik gangguan tidur di Boston Medical Center.

Hal ini bukan sesuatu yang bagus. Kurang tidur bukan saja menyebabkan kita lelah dan mengantuk pada siang hari, melainkan juga berkontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit.

Seorang ahli tidur, dr Pyatkevich dan Dianne Augelli, MD, di New York Presbyterian Hospital dan Weill Cornell Medicine di New York, mengungkapkankurang tidur, walau hanya semalam, menurut Augelli, dapat berefek negatif pada kemampuan kognisi, memori, belajar, dan pengolahan data di otak.

Kita perlu tidur sebagai bagian dari proses konsolidasi memori dan belajar. Perlu diingat, efek ini adalah efek jangka pendek.

Artinya, jika malam berikutnya Anda cukup tidur, kemampuan otak Anda akan kembali normal.

“Dalam jangka panjang, kurang tidur bisa menyebabkan depresi dan kecemasan,” kata Augelli.

Namun, yang menarik, kurang tidur dalam semalam tidak menyebabkan depresi secara langsung.

Hari pertama tanpa tidur justru dapat meningkatkan suasana hati.

“Suasana hati meningkat mungkin karena tubuh melepas neurotransmitter tertentu dan hormon lainnya untuk memastikan bahwa satu sama lainnya terjaga,” tambah Augelli.

Namun, peningkatan suasana hati ini tidak akan bertahan lama. Setelah itu, suasana hati Anda akan mengarah ke depresi dan cemas, jika Anda masih terus kurang tidur.

Sebuah hasil studi tahun tiga tahun silam  yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Cleveland dan didanai oleh produk perawatan kulit raksasa Estee Lauder menunjukkan bahwa ada korelasi antara kurang tidur dan penuaan kulit.

Kurang tidur menyebabkan munculnya keriput hingga bintik-bintik gelap pada kulit.

“Efek kurang tidur bisa muncul dalam bentuk peningkatan nafsu makan,” kata Augelli. Ketika kurang tidur, tingkat hormon ghrelin Anda meningkat.

Ghrelin adalah hormon yang bertanggung jawab untuk memberi sinyal ke otak bahwa Anda lapar.

Metabolisme yang melambat juga dapat terjadi ketika Anda tidak cukup tidur.

“Dalam jangka panjang, akan terjadi perubahan metabolisme karena tubuh Anda tidak lagi mengolah makanan yang masuk dengan cara yang sama, menciptakan resistensi insulin.

“Tubuh Anda akan cenderung untuk menyimpan lebih dari apa yang Anda makan, bukan diolah seperti biasanya,” ujar Augelli.

Resistensi insulin juga dapat menciptakan kondisi pra-diabetes, yang jika terus dibiarkan akan berkembang menjadi diabetes.

Tidur adalah waktu ketika tubuh kita kembali ke keadaan normal dan santai. Saat itu, tekanan darah dan denyut jantung melambat sebagai tanda tubuh sedang mengadakan perbaikan.

Kehilangan waktu tidur berarti kehilangan proses tubuh memperbaiki dirinya sendiri dan dapat menyebabkan kadar hormon stres naik, menyebabkan tekanan darah ikut naik sehingga kesehatan jantung memburuk.

Kurang tidur juga dapat menurunkan hasrat seksual dan kinerja atletik pada hari berikutnya.

Sangat penting bagi Anda untuk mendapatkan tidur yang cukup, jika ingin mempertahankan kinerja atletik atau kemampuan Anda berolahraga dan beraktivitas fisik.

“Sistem kekebalan tubuh Anda terganggu ketika Anda tidak cukup tidur, walau hanya satu malam,” kata Augelli.

Pyatkevich mencatat bahwa kita cenderung lemah dalam melawan pneumonia dan infeksi virus ketika kurang istiraha

Komentar