Tidur Bisa Melindungi Otak dari Alzheimer

Penulis: Darmansyah

Kamis, 18 Januari 2018 | 15:08 WIB

Dibaca: 1 kali

Tidur yang cukup sering kali disepelekan oleh banyak orang.

Anda sendiri mungkin termasuk orang yang sering begadang dan kurang tidur.

Padahal, tidur ternyata bisa memberikan manfaat yang besar, termasuk yang mungkin tidak pernah Anda duga sebelumnya.

Ya, tidur cukup sangat berperan dalam mengurangi risiko demensia, penyakit Alzheimer, lupa ingatan, dan penurunan fungsi otak yang kerap terjadi saat Anda memasuki usia lanjut.

Alzheimer adalah penyakit degeneratif munculnya pelan-pelan dengan gejala-gejala yang khas seperti penurunan fungsi otak, kesulitan berpikir dan mengambil keputusan, sulit bicara dan merangkai kata-kata, dan penurunan daya ingat

Alzheimer kerap disalahartikan sebagai proses penuaan alami yang normal, padahal sebenarnya gejala-gejala tersebut merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja.

Belum diketahui pasti apa penyebab penyakit Alzheimer. Akan tetapi, dugaan terkuat dari para ahli sejauh ini adalah penumpukan plak beta-amyloid di otak.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal Neurology menyatakan bahwa orang dewasa yang tidak tidur cukup dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.

Sayangnya, dalam penelitian ini tidak dijelaskan apakah kurang tidur memicu perkembangan penyakit tersebut atau justru gejala awal dari penyakit ini yang kemudian membuat seseorang jadi tidak bisa tidur, atau jangan-jangan kombinasi keduanya.

Namun, dijelaskan bahwa gangguan tidur kronis dapat menjadi tanda peningkatan risiko Alzheimer.

Ini bukan merupakan studi pertama terkait tidur dan penyakit Alzheimer.

Penelitian lain menduga bahwa otak menggunakan saat-saat manusia tidur sebagai jam “maintenance” atau perbaikan.

Kalau jam tidur seseorang kurang, protein-protein tertentu di otak seperti amiloid dan tau bisa terbentuk dan menimbulkan plak.

Plak ini yang nantinya akan ditemukan pada gambaran atau hasil pemindaian otak orang dengan penyakit Alzheimer.

Penelitian dari observasi menemukan bahwa orang dewasa di atas usia enam lima tahun atau lansia dengan plak amiloid pada otaknya mengalami berkurangnya tidur gelombang pendek, yang dapat menjadi faktor penting pada fungsi daya ingat, walaupun gejala Alzheimer seperti hilang ingatan dan penurunan fungsi kognitif memang belum tampak.

Meski demikian, terdapat pengecualian. Pada pasien dengan apnea tidur obstruktif atau henti napas mendadak saat tidur, sebuah gangguan napas yang dapat menjadi pengganggu kualitas tidur dan faktor risiko beberapa penyakit kronis lainnya, tidak didapatkan peningkatan risiko penyakit Alzheimer.

Namun, menurut penelitian tersebut, hal ini disebabkan sleep apnea lebih jarang terdeteksi dan disadari oleh pasien itu sendiri, dan hanya dirasakan secara subjektif saja.

Dalam penelitian lain, dijelaskan bahwa olahraga, terutama aerobik, dapat meningkatkan kualitas tidur.

Penurunan berat badan juga merupakan hal yang penting, di mana orang yang memiliki berat badan berlebih dapat mengalami peningkatan gangguan tidur.

Jika terdapat masalah saat tidur seperti insomnia atau sering terbangun untuk ke kamar kecil di malam hari, segera periksa ke dokter supaya masalah Anda bisa segera ditangani.

Agar bisa tidur yang cukup setiap hari memang Anda harus disiplin dan menerapkan jadwal yang konsisten. Jadi, mulai secara pelan-pelan sampai Anda bisa membentuk pola tidur yang cukup.

Baik Alzheimer dan demensia merupakan gangguan otak yang gejala utamanya adalah kesulitan untuk mengingat berbagai hal.

di Indonesia, keduanya sering disebut dengan satu istilah yang sama, yaitu pikun. Padahal, dua kondisi ini sejatinya berbeda.

Pemicu seseorang untuk mengalami Alzheimer dan demensia biasanya adalah pertambahan usia. Namun yang perlu diingat, baik Alzheimer maupun demensia bukanlah hal yang lumrah untuk terjadi pada lansia karena ini merupakan gangguan kesehatan, alias penyakit.

Walaupun terdapat banyak kesamaan, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar sehingga tidak dapat disamakan.

Demensia dapat diartikan sebagai sekumpulan gejala yang mengganggu fungsi kognitif otak untuk berkomunikasi serta melakukan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah demensia biasanya menggambarkan kesulitan untuk berpikir yang dialami seseorang, artinya terdapat lebih dari satu gangguan kognitif yang dapat menyebabkan seseorang mengalami demensia.

Sedangkan alzheimer adalah suatu penyakit dan merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami gejala dementia.

Alzheimer adalah penyebab kasus demensia. Alzheimer juga dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk penyakit spesifik dari demensia.

Berbeda dengan beberapa penyakit atau gangguan fungsi tubuh akibat infeksi dan penggunaan obat yang menyebabkan demensia, penyakit Alzheimer disebabkan kerusakan atau kematian sel otak dan belum dapat disembuhkan hingga saat ini.

Alzheimer merupakan penyakit yang bersifat bertahap dan berlangsung dalam waktu yang lama. Biasanya seseorang mulai terdiagnosis pada umur 60 tahun. Namun, orang muda pun sudah bisa mengalami penyakit Alzheimer.

Alzheimer dan demensia memiliki berbagai gejala yang sama. Keduanya ditandai dengan gangguan kinerja otak untuk berpikir dan mengingat, merasa bingung terus menerus, kesulitan untuk berkomunikasi baik dengan lisan maupun tulisan, serta mengalami perubahan kepribadian.

Gejala awal demensia adalah kesulitan berpikir dan mengambil keputusan. Sedangkan orang dengan Alzheimer biasanya ditandai dengan kesulitan mengingat berbagai hal dan akan mengalami gejala demensia seiring dengan berjalannya waktu.

Jenis demensia tergantung pada penyebabnya yang merupakan gangguan organ tubuh akibat penyakit degeneratif. Di samping kerusakan otak yang menyebabkan penyakit Alzheimer, beberapa jenis demensia lain adalah:

Merupakan gangguan kognitif yang terjadi pada penderita stroke dan sering tidak disadari oleh seseorang. Penderita stroke yang sudah sembuh dari stroke, belum mengalami kelumpuhan, atau bahkan belum terdiagnosis stroke dapat mengalami demensia.

Komentar