Tes Darah untuk Kesehatan Jantung

Penulis: Darmansyah

Jumat, 24 Juni 2016 | 10:37 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda ingin tahu dengan cepat tentang kesehatan jantung?

Wuah, kini prosesnya sangat mudah.

Dengan proses pendeteksian dini ini  Anda bisa melakukan pencegahan lebih cepat dan akurat.

Dan cara mudah itu disediakan oleh  teknologi medis.

Kini, sebuah tes darah sederhana ternyata bisa mendiagnosis pasien yang berisiko tinggi mengalami serangan jantung dalam lima tahun ke depan.

Ditengah banyaknya pasien yang sudah dipindai dan diuji untuk tanda-tanda masalah jantung, para ilmuwan kini selalu mencari cara yang lebih murah dan lebih efisien untuk menyoroti ancaman.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa immunoglobin antibodi atau yang disebut G atau “lgG,” dapat mencegah serangan jantung, bahkan jika kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi.

Studi yang dilakukan selama lima tahun ini, melihat bahwa pasien dengan tingkat terendah dari antibod lgG, memiliki risiko tertinggi terkena serangan jantung.

Sementara, mereka yang memiliki lgG dengan tingkat tinggi, memiliki sedikit kemungkinan untuk menderita penyakit kardiovaskular.

Para peneliti yang berasal dari Imperial College London dan University College London mempelajari lebih dari seribuan orang pada risiko serangan jantung.

ZSeperti ditulis Mirror, Jumat, 24 Juni 2016,  temuan mereka ini memungkinkan dokter untuk lebih efisien dalam mengidentifikasi pasien rentan serangan jantung yang perlu dipantau lebih dekat.

Jika tes darah menunjukkan rendahnya tingkat lgG, pasien dapat segera diberikan terapi pencegahan sebelum kondisi mereka semakin parah.

“Jika kami bisa lebih baik dalam memilih pasien yang tepat, yang membutuhkan pemantauan ketat dan terapi preventif, kami pasti bisa mencegah penyakit jantung yang mengarah ke serangan jantung,” kata Dr Ramzi Khamis dari National Heart and Lung Institute.

Khamis pun menambahkan, bahwa dia dan tim peneliti berharap bahwa temuan baru ini dapat digunakan untuk mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan beberapa orang untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang membantu melindungi dari serangan jantung.

“Kami juga berharap untuk mengeksplorasi cara-cara memperkuat sistem kekebalan tubuh untuk membantu dalam melindungi dari penyakit jantung,” katanya.

Selain itu sebuah studi terbaru lainnya  menyebutkan mikroprotein dapat bermanfaat bagi penderita diabetes dan obesitas.

Manfaat dari pengganti daging ini dapat mengurangi rasa lapar dan meningkatkan manajemen gula darah.

Mikroprotein adalah bahan makanan yang mengandung protein tinggi, serat, dan rendah kolesterol karena terbuat dari jamur Fusarium venenatum.

Mikroprotein di Amerika Serikat sudah dibuat secara komersil dari kultur Fusarium tersebut.

“Bila merujuk hasil penelitian kami dan bila ditetapkan dalam populasi yang lebih besar maka akan menjadi pemberi kontribusi besar dalam mencegah obesitas,” kata Gary Frost, salah satu peneliti seperti yang dilansir Daily Meal.

Penelitian tersebut melibatkan puluhan  responden dan merupakan perluasan dari pengujian sebelumnya tentang dampak mikroprotein pada orang kurus dan terindikasi obesitas.

Pada pengujian sebelumnya, kandungan protein dalam bahan pangan kultur tersebut terbukti membantu mengurangi kandungan glukosa setelah makan dan insulin pada darah.

Hasil ini terjadi dibandingkan dengan peserta yang tidak makan mikroprotein.

Sedangkan dalam penelitian Frost melihat ada kecenderungan konsumsi mikroprotein secara signifikan menurunkan jumlah keinginan menambah porsi makan.

“Hasil post-test menunjukkan bahwa asupan energi setelah mengonsumsi makanan kaya mikroprotein adalah sepuluh persen lebih rendah dibandingkan uji konsumsi ayam,” tulis penelitian tersebut.

Meski terkesan menjadi harapan baru menangani orang obesitas, namun para peneliti mengatakan studi tersebut masih memiliki banyak keterbatasan.

Para peneliti belum mengetahui secara pasti mengapa asupan protein berhasil menekan keinginan makan. Topik ini yang diharapkan mampu dijawab melalui penelitian selanjutnya.

Mikroprotein pertama kali ditemukan pada kisaran enam puluh enam tahun silam saat terjadi ketakutan akan kekurangan sumber protein di masa depan ketika ketersediaan hewan ternak tak mampu lagi jadi sumber asupan manusia.

Di tengah kekhawatiran akan terjangkit penyakit malnutrisi seperti kwashiorkor, pada tiga pulouh satu tahun lalu sebuah perusahaan Inggris berhasil menciptakan sumber protein selain daging yang terbuat dari Fusarium venenatum.

Komentar