close
Nuga Sehat

Temuan Diet “Ala Israel” Menggemparkan

Temuan besar ilmuwan Israel untuk menerobos persoalan menurunkan berat badan lewat pola makan yang disesuaikan dengan kondisi tubuh, seperti ditulis “healthy news,” merupakan langkah spektakuler dan mematahkan saran umum selama ini mengenai makanan yang dianjurkan dan dihindari

Studi baru yang diterbitkan di jurnal Cell, dan dikutip “healthy news,” Senin, 30 November 2015, berdasarkan hasil kajian sejumlah biomarker pada delapan ratus orang yang berusia antara delapan belas hingga tujuh puluh tahun.

Selama satu pekan pria dan wanita itu mengenakan alat yang mengukur kadar gula darah setiap lima menit.
Kajian ini ditunjang oleh keluhan banyak orang, bahwa diet dan olahraga tak lantas membuat berat badan turun.
Ternyata tubuh kita bereaksi berbeda terhadap makanan.

Hasil riset menemukan, kita lebih baik menurunkan berat badan jika pola makan dibuat sesuai tubuh.

Dalam penelitian itu, responden juga menggunakan aplikasi bergerak untuk mencatat dari dekat asupan makanan, pola tidur dan olahraga.

Mereka juga mengisi kuesioner mengenai kesehatan, memberikan sampel darah dan tinja untuk dites.

Periset menemukan kadar gula darah amat bervariasi di antara peserta penelitian setelah mereka makan, dan kadar itu sangat bervariasi bahkan ketika mereka menyantap makanan yang sama.

Kadang makanan yang bakal menurunkan gula darah pada satu orang akan menaikkan gula darah orang lain. Informasi itu menemukan, rekomendasi pola diet tertentu tidak berhasil untuk semua orang.

“Selama bertahun-tahun pemikiran kami adalah orang mengalami kegemukan, diabetes dan penyakit pola makan lain, karena tidak mengikuti anjuran pola makan,” kata pemimpin penelitian Eran Segal dan Eran Elinav dari Weizmann Institute of Science Israel.

“Namun dari studi kami, ada kemungkinan lain faktanya pola makan yang dianjurkan ternyata tidak sesuai.

“Kami percaya pesan yang dibawa pula adalah jika diet tidak berhasil, bukan salah Anda tetapi salah si program diet,” katanya.

Hal yang diyakini peneliti mungkin bertanggung jawab terhadap perbedaan milyaran bakteri yang hidup di perut dan amat berbeda dari satu orang ke orang lain.

Riset lain dari studi yang diterbitkan di jurnal Obesity Research & Clinical Practice menemukan, bahkan ketika mereka olahraga dan mengonsumsi makanan yang sama

Peneliti studi itu jug amenemukan perubahan mikrobiome di perut mungkin berperan di antara kemungkinan lain.

“Kita baru di permulaan dalam mengeksplorasi bagaimana mikrobiome kompleks mempengaruhi fisiologi dan kesehatan kami,” kata peneliti Jennifer Kuk, profesor Kinesiologi dan ilmu kesehatan di York University.

“Penelitian baru ini hal menjanjikan mikrobiome mungkin berperan penting bagaimana kita mengatur berat badan dan dapat menjadi target baru untuk intervensi penurunan berat badan,” katanya.

Segal dan Elinav mengatakan, mereka sudah memajukan ilmu pengetahuan.

Dalam studi itu, mereka juga mengambil semua data yang dikumpulkan dan menciptakan algoritme yang mampu memprediksi bagaimana kadar gula darah seseorang merespon makanan yang dimakan.

Mereka mengatakan, algoritme itu dapat digunakan untuk menciptakan diet yang sifatnya personal untuk masing-masing orang.

“Kami membuktikan profil komprehensif yang kami ukur dapat digunakan untuk mencapai dan mendisain diet yang disesuaikan keperluan seseorang,” katanya.

“Visi kami adalah mampu menurunkan prediksi dan diet personal menggunakan satu set input yang dapat diisi orang dalam sebuah kuesioner dan satu sampel mikrobiome di waktu dekat. Itu bakal berbiaya efektif,” tambahnya.

Sebelumnya banyak orang meyakini metode diet untuk menurunkan berat badan seringkali orang gagal. Faktornya, karena banyak orang yang gagal mengendalikan” pola makannya.

Tetapi menurut para ahli sebenarnya hal itu karena mereka mendapatkan nasihat yang salah tentang apa yang harus dimakan.

Peneliti mengungkap, respon yang diberi tubuh kita terhadap makanan yang diasup sehari-hari sangat unik.
Misalnya, meskipun tomat disebut sebagai makanan sehat, namun nyatanya juga bisa menyebabkan gula darah meningkat.

Setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda terhadap makanan yang berbahan dasar tepung, seperti roti dan nasi. Ada yang lebih sensitif pada karbohidrat dibanding yang lain.

Contohnya, beberapa orang menemukan kadar gula darahnya turun ketika mengonsumsi lemak, namun tidak dengan yang lain.

Sementara itu, es krim dan pizza adalah makanan yang dapat meningkatkan gula darah pada sekelompok orang tertentu. Tapi hal itu belum tentu terjadi oleh yang lain.

Dan itu bukan hanya masalah menambah berat badan: kadar gula darah tinggi, bisa memicu diabetes dan dapat meningkatkan resiko penyakit jantung, hati, obesitas dan tekanan darah tinggi.

Dalam penelitian yang dilakukan Eran Segal dari Wizmann Institute disimpulkan, metode diet yang personal bisa membantu seseorang mendapatkan pola makan yang tepat.

Ia membuat pola monitoring diet dari 800 orang yang mewakili populasi di Israel dan juga 49.898 makanan. Tiap responden mencatat setiap hal yang mereka makan di aplikasi ponsel dan memonitor gula darahnya secara rutin di alat monitor glukosa. Pola tidur dan olahraga mereka juga dicacat.

Lalu data tersebut dianalisa di komputer untuk melihat apakah pengaruh makanan pada tubuh tiap individu.

“Sebagian besar rekomendasi untuk menurunkan berat badan didasarkan pada salah satu sistem penilaian, tapi yang sering dilupakan adalah bahwa tiap orang berbeda. Orang yang satu mempunyai efek yang berbeda dengan yang lainnya,” kata Segal.

Ia menambahkan, diet yang personal (custom) sangat berguna untuk menggunakan nutrisi dari bahan pangan sebagai pengontrol gula darah dan kondisi medis lainnya.

Pada contoh kasus, seorang wanita obesitas setengah baya dengan kondisi pra-diabetes, gagal menjalani program penurunan berat badan selama bertahun-tahun. Akhirnya ia mengetahui bahwa tomat adalah pemicu meningkatnya gula darah.

Secara umum, makan makanan yang berserat sangat membantu untuk mengurangi kadar gula darah secara keseluruhan.

Sementara kurang tidur, diet yang tidak tepat dan memiliki kolestrol tingggi bisa berdampak negatif pada gula darah.

Mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah juga tidak akan berguna karena tiap individu berbeda.

Alasan utama mengapa kita merespon makanan dengan berbeda-beda juga karena bakteri yang ada di dalam tubuh berbeda tiap orang.

Tags : slide