Telinga Berdengung? Ada Tinnitus di Otak

Penulis: Darmansyah

Kamis, 31 Agustus 2017 | 14:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pernah mengalami telinga yang tiba-tiba berdengung?

So pasti Anda menghubungkannya dengan “takhyul” tentang gossip.

Dan saat itu terjadi, Anda langsung  percaya bahwa  bahwa Anda sedang digosipkan oleh orang lain.

Namun, nyatanya sains berbicara lain.

Para peneliti dari University Illinois mengungkapkan bahwa dengung di telinga atau tinnitus berhubungan dengan perubahan jaringan tertentu pada otak.

Menggunakan Magnetic Resonance Imaging, para peneliti mencari pola pada fungsi dan struktur otak. Ternyata, tinnitus terjadi di wilayah otak yang disebut dengan precuneus.

Precuneus terhubungan dengan dua jaringan yang memiliki fungsi berlawanan: jaringan atensi dorsal yang aktif saat ada sesuatu yang menarik perhatian seseorang dan jaringan mode standar yang merupakan fungsi “latar belakang” otak saat beristirahat dan tidak memikirkan sesuatu secara khusus.

“Ketika jaringan mode standar aktif, jaringan atensi dorsal tidak aktif, dan sebaliknya.”

“ Kami menemukan bahwa precuneus pada pasien tinnitus tampaknya berperan dalam hubungan tersebut,” kata Sara Schmidt, mahasiswa pascasarjana dalam program sains otak dan salah satu peneliti.

Dalam publikasinya di jurnal NeuroImage: Clinical, para periset menemukan bahwa pada pasien dengan tinnitus kronis, precuneus lebih terhubung ke jaringan atensi dorsal.

Hubungan itu semakin meningkat seiring meningkatnya dengung tinnitus.

“Ini juga menyiratkan bahwa pasien tinnitus tidak benar-benar istirahat, bahkan saat beristirahat. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak laporan pasien yang merasa semakin kelelahan,” kata pemimpin studi Fatima Husain, seorang profesor ilmu kemampuan berbicara dan pendengaran di University of Illinois.

“Selain itu, perhatian mereka lebih banyak diarahakan kepada tinnitus sehingga sering mengalami masalah gangguan konsentrasi,” ujarnya lagi.

Akan tetapi, pasien yang baru terkena tinnitus tidak menunjukkan adanya perbedaan dalam konektivitas precuneus. Gejala ini menarik para peneliti untuk menemukan kapan dan bagaimana perubahan dalam konektivitas otak dimulai, serta kemungkinan pencegahan yang dapat dilakukan.

“Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada pasien yang baru-baru ini mengalami tinnitus, jadi langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian jangka panjang untuk mengikuti seseorang yang baru mengalami tinnitus dan melihat kapan perubahan precuneus mulai terjadi,” kata Schmidt.

Selain telinga berdengung mmasalah pelupa juga sering menjadi teka teki bagi banyak orang.

Bila menjadi seorang pelupa, Anda mungkin merasa kurang cerdas.

Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neuron  menyatakan sebaliknya.

Riset Blake Richard dan Paul Frankland mengungkap, melupakan sesuatu dalam taraf tertentu adalah sehat dan membuat Anda lebih pintar.

Sebab, otak dirancang untuk tidak membiarkan terjadinya kelebihan penyimpanan informasi.

Menurut dua peneliti dari University of Toronto, Kanada, tersebut, ingatan seseorang tidak diharapkan untuk mengantarkan informasi yang akurat, namun informasi yang berguna dalam pembuatan keputusan cerdas pada masa depan.

“Merupakan hal penting bagi otak untuk melupakan detail tidak relevan sehingga dapat fokus pada seseuatu yang tengah berjalan untuk membantu membuat keputusan di dunia nyata,” kata Blake Richards seperti dikutip dari Science Alert

Dalam penelitiannya, Richard dan Frankland menemukan bukti pelemahan koneksi sinapsis saraf secara perlahan serta tanda adanya neuron baru yang menimpa ingatan lama.

“Kami menemukan cukup bukti dari penetitian belakangan ini bahwa ada mekanisme yang mendorong kehilangan ingatan,” kata Frankland.

Menurut mereka, terdapat dua alasan mengapa otak melupakan sebagain ingatan yang dimiliki manusia.

Pertama, hal itu dapat membantu manusia dalam menyesuaikan situasi baru dengan melepaskan beberapa ingatan yang tidak dibutuhkan.

Kedua, lupa membua manusia mengeneralisasi masa lalu untuk membuat keputusan. Dalam konsep kecerdasan buatan, kondisi itu disebut dengan regularisasi.

“Jika anda mencoba untuk menavigasi dunia dan otak anda secara konstan membawa berbagai memori yang saling bertabrakan, akan lebih sulit bagi anda membuat keputuan yang tepat,” kata Richards.

Jumlah ingatan yang dilupakan akan bergantung pada seberapa cepat perubahan lingkungan di sekitar. Semakin cepat lingkungan berubah, semakin cepat otak melupakan ingatan masa lalu.

“Inti ingatan adalah menjadikan Anda orang yang cerdas yang bisa membuat keputusan mengingat situasinya, dan aspek penting dalam membantu Anda melakukannya adalah melupakan beberapa informasi,” pungkasnya.

Komentar