Teh Celup? Cukup Dua Kali Seduh

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 16 November 2013 | 12:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Menyeduh teh dengan teh celup memang lebih praktis dan cepat. Karenanya banyak orang mengandalkan teh jenis ini, entah itu teh hijau atau teh hitam, untuk menghidangkan teh. Meski begitu, jangan menyeduh teh celup berkali-kali.

“Untuk teh berbentuk daun memang bisa diseduh berkali-kali entah itu tiga sampai empat kali. Bahkan bila kualitas daun tehnya baik dia bisa diseduh hingga tujuh sampai delapan kali. Tapi ini tidak berlaku untuk teh celup,” ujar Ratna Somantri, pendiri Komunitas Pecinta Teh.

Teh celup hanya bisa dipakai maksimal dua kali seduh saja karena proses pembuatan teh memakan waktu yang lama di pabrik sehingga akan memengaruhi kadar manfaat pada teh. Oleh karenanya, Ratna lebih menganjurkan untuk meminum teh yang masih berbentuk daun karena antioksidan dalam teh sebenarnya berada di daun dan pucuknya.

Cara paling baik menyeduh teh celup adalah mencelupkan kantong hingga keluar warna teh yang diinginkan. Buang bekas kantong celup setelah dipakai.

Selain itu, daun teh juga sebaiknya tidak direndam terlalu lama di dalam air karena daun teh sudah sangat lembut. “Terlalu lama di dalam air akan membuat antioksidan pada teh berubah dan kafeinnya akan terekstraksi,” katanya.

Hal lain yang tidak kalah penting dalam menyediakan teh adalah jangan menggunakan air yang sudah direbus lebih dari satu kali. “Proses merebus air akan menurunkan kadar mineral dan kadar yang baik lainnya pada air. Jadi cukup menggunakan air rebusan satu kali, jika ingin menyeduh kembali gunakan air rebusan yang baru,” ujarnya.

Di Jepang, budaya minum teh disebut dengan cha no yu, yaitu ritual dalam menyajikan teh untuk tamu. Di Inggris, dikenal adanya tradisi afternoon tea untuk para bangsawan, teh yang disajikan dicampur dengan susu. Sementara teh yang dikonsumsi dengan es batu atau air dingin populer di Amerika.

Selain tiga negara tersebut di atas, ternyata tiap negara lainnya juga memiliki budaya minum teh dengan cara yang unik dan variatif. Ada yang disajikan dengan kayu manis, daun mint, sampai pecahan telur ayam di dalamnya.

“Teh berasal dari Tiongkok, tapi pada saat masuk ke negara lain teh diadaptasi menurut tradisi atau budaya setempat. Kita pasti sering mendengar afternoon tea dari Inggris, tapi saya yakin masih banyak masyarakat yang kurang familiar dengan budaya minum teh di Maroko dan Rusia yang sangat unik,” ujar Ratna Somantri, pendiri Komunitas Pecinta Teh dan penulis buku Kisah dan Khasiat Teh, pada acara Media Briefing dan Tea Ceremony bersama Gunung Subur di Moe’s Place Resto.

Ratna pun mengisahkan budaya minum teh di Maroko. Ternyata, proses penyeduhan teh di negeri seribu benteng ini membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan negara-negara lain, yakni sekitar lima menit. Teh harus melalui tiga kali proses penyeduhan untuk mendapatkan rasa yang pas menurut lidah orang Maroko. Dan, jenis teh yang paling digemari adalah teh hijau beraroma mint.

Lain halnya dengan di Indonesia, penyajian teh identik dengan teko kendi yang dipercaya bisa menghasilkan rasa teh paling nikmat. Seperti cara penyajian teh di Solo, yang diberi nama teh oplosan.

“Teh oplosan atau bahasa kerennya blended tea ini mencampurkan tiga jenis teh melati. Kenapa tiga? Karena untuk mendapatkan rasa dan aroma yang sempurna, dan itulah kebiasaan minum teh di Solo,” Ratna menjelaskan lebih lanjut.

Menurut Ratna, budaya minum teh di Indonesia beragam dan sangat banyak. Jadi, sangat disayangkan apabila masyarakat Indonesia tidak melestarikan dan bangga meminum teh hasil buatan negeri sendiri.

“Indonesia merupakan penghasil teh terbaik nomor delapan di dunia. Dan, kebanyakan teh yang dijual oleh merek luar juga mengambil teh dari Indonesia. Teh Indonesia dikenal nikmat dan terbaik karena kita adalah negara tropis,” paparnya.

Jadi, tak perlu malu dan gengsi dong bangga dengan produk teh hasil Tanah Air?

Komentar