Tak Ada Hubungan Uban dengan Stress

Penulis: Darmansyah

Rabu, 3 September 2014 | 13:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Jangan percaya uban punya hubungan dengan stress. Paling tidak itu yang dibuktikan oleh sebuah hasil penelitian yang dirilis oleh ruang kesehatan “Daily Mail,” ketika orang memercayai “mitos” bahwa uban berkaitan langsung dengan stress.

“Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa stres tidak menyebabkan seseorang memiliki rambut beruban. Ini adalah akibat proses penuaan,” kata dr.Ken Anderson, pendiri Anderson Hair Sciences Center di Atlanta, AS.

Untuk mengetahui lebih dalam mengapa rambut berwarna putih bisa muncul lebih cepat, para peneliti melakukan studi terhadap mencit di tahun 2013.

Dalam laporannya di jurnal Nature Medicine, disebutkan bahwa stres atau cedera pada kulit di sekitar folikel rambut bisa menyebabkan penipisan sel punca melanosit (yang memberi warna pada rambut), sehingga tiap helainya berubah jadi abu-abu atau beruban.

Selama ini kita penyebab rambut berubah warna diketahui disebabkan oleh penurunan melanin secara alami. Melanin adalah pigmen yang memberi warna pada rambut. Kemungkinan seseorang yang berusia di atas tiga puluh tahun memiliki rambut beruban akan meningkat sepuluh hingga dua puluh persen setiap dekadenya.

Faktor lain yang juga berkontribusi pada perubahan pigmen rambut adalah polusi, terkena paparan zat kimia, obat-obatan, dan juga cuaca. Sebuah penelitian juga menyebutkan terlalu banyak mandi matahari bisa menyebabkan rambut lekas memutih.

Meski stres dan rambut beruban tak terkait, tapi stres ternyata memang bisa membuat rambut lebih rontok.

“Stres memang bisa menyebabkan rambut rontok, tapi bukan jenis stres yang kita alami setiap hari. Ini adalah stres yang berat, seperti kehilangan orang tercinta, jenis stres yang membuat hormon stres meningkat dan menyebabkan rambut rontok,” katanya.

Kemunculan rambut putih ini sebenarnya terkait dengan melanin atau pigmen yang memberi warna pada rambut. Saat produksi pigmen terhambat, maka warna rambut yang semula hitam akan berubah jadi putih.

Rambut yang berwarna putih ini sesungguhnya masih sama dengan rambut Anda yang lama, kecuali bahwa sekarang tidak mempunyai warna. Cepat lambatnya uban muncul di kepala seseorang ternyata juga terkait dengan faktor keturunan.

“Apabila di antara generasi lama Anda ada yang beruban sejak muda, mungkin sekali Anda pun akan demikian,” kata Diana Bihova, MD, dari New York University Medical Center, AS. Demikian pula sebaliknya, karena faktor keturunan pula ada orang yang berusia di atas enam puluh tahun rambutnya masih hitam.

Terlalu sering berada di bawah sinar matahari juga bisa menyebabkan rambut cepat memutih. “Sinar ultraviolet berlebihan menyebabkan sel-sel pigmen pada kulit kepala tersiksa,” kata Bihova. Hal ini menyebabkan pigmen lekas pensiun sehingga uban muncul pada waktunya.

Menurut Bihova, pria biasanya mulai beruban di sekitar kening, kemudian di bagian samping, bagian atas, dan akhirnya di bagian belakang. Prosesnya tidak selalu berlangsung dengan laju yang sama, kadang-kadang pada suatu waktu uban yang muncul banyak, namun di waktu lain sedikit. Di usia 50 tahun, hampir 50 persen pria mengalami perubanan pada rambut mereka.

Setelah bagian rambut, uban kemudian menyusul muncul di bagian janggut, dada, kaki, dan alis, kemudian di sekitar ketiak dan kemaluan. Tetapi, prosesnya pada setiap orang bisa berbeda.

Sebagian orang merasa rambut putih membuat mereka tampak lebih matang dan merasa nyaman dengan kondisinya. Namun, tak sedikit orang yang ingin menutupinya dengan cat. Hal ini sah saja, apalagi kini tersedia berbagai merek cat rambut yang mampu menutupi uban namun tetap terlihat alami. Cara lain untuk menyamarkan uban adalah dengan memangkas rambut tetap pendek sehingga uban tak terlalu kentara.

Yang terpenting, meski beruban, rambut Anda tetap harus dirawat. Terlebih dengan bertambahnya usia, rambut dan kulit kepala pun cenderung mengering. Untuk menjaga kondisi rambut tetap baik, gunakan kondisioner setiap kali keramas.

Diana Bihova, asisten profesor klinis di bidang dermatologi di New York University Medical Center, AS, mengatakan bahwa rambut yang sudah ada tidak akan berubah menjadi uban. Anda mendapatkan uban hanya ketika rambut yang berwarna rontok, lalu digantikan dengan rambut putih dari folikel atau kantung rambut yang sama.

Ketika folikel rambut mulai memproduksi rambut putih, jarang yagn kemudian menghasilkan rambut seperti semula kembali. Kendatipun demikian ada beberapa kekecualian, kata Dr.Bohiva.

Rambut Anda dapat beruban sementara bila mengalami gangguan kelenjar endokrin, kekurangan gizi, menderita cedera atau penyakit pada sistem saraf atau mengalami gangguan sistem kekebalan (penyakit autoimun). Kendati demikian, rambut yang sama tidak akan kembali ke warna aslinya.

Tidak benar sama sekali. Rambut putih Anda tumbuh folikel demi folikel. Apabila Anda mencabut sehelai uban, rambut itu akan digantkan dengan uban baru dari folikel yang sama. “Anda tidak dapat menghentikan proses ini,” kata Dr.Bohiva. “Tapi mencabut rambut putih juga tidak menyebabkan proses bertambah cepat.”

sumber : daily mail co.uk. dan http://time.com

Komentar